Kebakaran Sade Bikin Booking Wisatawan Batal, Gendang Beleq Ikut Terdampak
Lombok Tengah (NTBSatu) – Kebakaran Desa Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah pada 22 Agustus 2026 lalu, berdampak terhadap aktivitas pariwisata. Sejumlah booking wisatawan dibatalkan, termasuk agenda pertunjukan Gendang Beleq.
Bendahara Guide Lokal Desa Sade, Durya, mengatakan pembatalan booking cukup banyak terjadi. Apalagi, Agustus menjadi salah satu periode ramai kunjungan wisatawan.
“Cukup banyak karena bulan-bulan ini lagi ramai,” kata Durya kepada NTBSatu, Jumat 28 Agustus 2026.
Selain kunjungan wisata, pertunjukan Gendang Beleq yang sudah wisatawan pesan juga ikut batal akibat kebakaran.
Durya mengatakan, biaya pertunjukan Gendang Beleq untuk satu grup sekitar Rp1 juta. Sementara jasa guide mencapai sekitar Rp1,5 juta per grup.
Meski demikian, Durya menyebut pembatalan tersebut tidak menimbulkan kerugian besar bagi pengelola. Dampak yang lebih terasa yakni terganggunya aktivitas wisata di kawasan Sade.
Menurutnya, sejumlah guide bahkan menghubungi pengelola untuk menanyakan alternatif destinasi bagi wisatawan yang tetap ingin berkunjung.
“Dari guide-nya sudah banyak yang nelpon kami. Kalau seperti ini mau, ke mana tamu saya?” ujarnya.
Alihkan Wisatawan ke Ende
Durya mengatakan, wisatawan yang tetap ingin berkunjung dapat mencoba ke kawasan Ende. Masyarakat di sana dinilai siap menerima kunjungan wisatawan.
“Kalau sekarang mau ke sana, kalau memang mau disambut juga ada di sana,” katanya.
Ia meminta wisatawan yang batal berkunjung ke Sade memaklumi kondisi tersebut. Masyarakat kini masih melakukan pembenahan pascakebakaran.
“Saya untuk permakluman, mohon bersabar karena untuk kampung ini pembenahan atau pemulihan insya Allah secepatnya,” tuturnya.
Durya berharap aktivitas wisata di Sade bisa kembali berjalan setelah proses pemulihan selesai.
Ia juga mengatakan masyarakat ingin mempertahankan konsep kampung adat seperti sebelumnya. Namun, penataan kawasan akan lebih rapi dan minta masyarakat meningkatkan kewaspadaan.
“Untuk pemulihan atau pembangunan barunya, masyarakat maunya seperti biasa, cuma penataannya lebih rapi lagi,” ujarnya.
Menurut Durya, kebakaran menjadi pelajaran bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap berbagai risiko di kawasan wisata.
“Untuk sekarang ini kita harus lebih waspada dari segala hal,” katanya.
Kebakaran yang terjadi pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, tidak hanya menghanguskan rumah warga. Aktivitas ekonomi dan pariwisata di Desa Adat Sade juga ikut terdampak. (*)




