Lombok Timur

Oarfish Muncul di Pantai Pink, Ilmuwan Kaitkan dengan Dinamika El Niño

Lombok Timur (NTBSatu) – Kemunculan oarfish di Pantai Pink, Lombok Timur, memicu beragam spekulasi di masyarakat. Sebagian masyarakat mengaitkan kemunculan ikan laut dalam itu dengan potensi gempa atau tsunami.

Namun, Pakar Kebumian dan Perubahan Iklim Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Irwan, Ph.D., membantah anggapan tersebut. Menurut Irwan, habitat oarfish berada pada kedalaman sekitar 200 hingga 1.000 meter. Sementara itu, pusat gempa bumi umumnya berada jauh di bawah permukaan laut.

“Pusat gempa itu rata-rata kedalaman 10 kilometer. Itu terlalu jauh,” kata Irwan kepada NTBSatu, Selasa, 25 Agustus 2026.

IKLAN

Karena itu, ia menilai kemunculan oarfish tidak dapat menjadi indikator terjadinya gempa. Sehingga, spekulasi warganet setelah viralnya video penemuan oarfish di Pantai Pink sebagai pertanda gempa bawah laut, sepenuhnya tidak benar.

Hidup di Bawah Lapisan Air Dingin

Irwan menjelaskan, perairan selatan Lombok memiliki lapisan thermocline. Lapisan tersebut menjadi batas antara air laut hangat dan air laut dingin.

Di kawasan selatan Lombok, lapisan thermocline berada sekitar kedalaman 150 meter. Oarfish kemudian hidup di bawah lapisan tersebut pada kedalaman 200 hingga 1.000 meter.

IKLAN

“Jadi oarfish itu tinggal di air dingin yang gelap, di bawah thermocline,” jelas Ilmuwan lulusan Universitas Tohoku, Jepang tersebut.

Menurut Irwan, perubahan kondisi laut dapat mendorong oarfish bergerak menuju permukaan. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan pengaruh El Niño yang sedang berlangsung.

BMKG mencatat, El Niño mencapai intensitas sangat kuat pada dasarian kedua Agustus 2026. Nilai indeks Nino 3.4 mencapai +2,99°Celcius pada periode tersebut.

Suhu Laut Ubah Lapisan Thermocline

Irwan menjelaskan, peningkatan suhu laut dapat mengubah posisi lapisan thermocline. Lapisan tersebut kemudian bergerak lebih dalam ketika suhu permukaan laut meningkat. Perubahan itu turut memengaruhi dinamika arus dan gelombang bawah laut.

“Akibatnya oarfish yang tinggal di kedalaman 200 meter bisa terseret ke permukaan,” jelasnya.

Selain arus, kondisi fisik ikan juga dapat memengaruhi kemunculannya. Irwan mengatakan ikan yang lemah atau sakit lebih sulit melawan arus bawah laut.

“Kalau energinya lemah atau kondisinya sakit, dia tidak bisa melawan gelombang,” ujarnya.

Kondisi tersebut kemudian dapat membawa oarfish menuju perairan dangkal hingga pantai.

Bukan Pertanda Gempa

Irwan menegaskan, masyarakat tidak perlu menghubungkan temuan oarfish dengan ramalan bencana. Menurutnya, pendekatan tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang cukup.

“Tidak bisa dijadikan referensi bahwa munculnya oarfish menjadi indikator gempa bumi,” tegasnya.

Ia juga menilai, masyarakat perlu memahami fenomena laut berdasarkan kondisi lingkungan. Terlebih, BMKG mencatat sebagian besar wilayah Indonesia masih mengalami musim kemarau.

BMKG juga menyebut, El Niño sangat kuat turut memperkuat kondisi kering di Indonesia.  Karena itu, kemunculan oarfish di Pantai Pink lebih tepat dilihat sebagai fenomena laut. Bukan sebagai tanda akan datangnya gempa atau tsunami. (*)

Artikel Terkait