Lombok Timur

Saat Perempuan Pringgasela Tak Lagi Sibuk Menyiapkan Dulang di Maulid Nabi

Lombok Timur (NTBSatu) – Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, tahun ini mengusung konsep berbeda. Panitia Tabligh Akbar Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah mengubah kebiasaan warga menyiapkan dulang untuk jamuan tamu.

Perubahan itu bukan tanpa alasan. Panitia melihat tradisi menyiapkan dulang selama ini menyita waktu dan biaya, terutama bagi kaum perempuan.

Dalam tradisi Maulid masyarakat Lombok, dulang biasanya berisi berbagai jenis makanan. Warga menyiapkan nasi, lauk-pauk seperti daging atau ayam, buah-buahan hingga makanan pencuci mulut.

IKLAN

Sebagian warga bahkan mengirim dua dulang dengan isi berbeda. Satu dulang berisi makanan berat lengkap dengan nasi dan lauk-pauk. Sementara dulang lainnya berisi berbagai makanan ringan khas Lombok.

Untuk menyiapkan dua dulang tersebut, warga harus membeli bahan makanan, memasak, menata hidangan hingga menghiasnya. Persiapan bahkan berlangsung beberapa hari sebelum pelaksanaan Maulid.

Kondisi itu membuat kaum perempuan cukup banyak menghabiskan waktu di dapur. Saat hari pelaksanaan tiba, mereka masih sibuk mengurus hidangan sehingga tidak memiliki kesempatan mengikuti pengajian di masjid.

IKLAN

Ketua Pelaksana Tabligh Akbar Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Iwan Setiawan mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan panitia mengubah konsep Maulid tahun ini.

“Biasanya ibu-ibu tiga hari sebelum Maulid sudah sibuk membuat makanan untuk dinaikkan ke masjid. Begitu hari H, hampir tidak ada ibu-ibu yang mendengar pengajian di masjid,” ujarnya, Selasa, 25 Agustus 2026.

Panitia Laki-Laki Ambil Alih Urusan Konsumsi

Tahun ini, panitia mencoba membalik kebiasaan tersebut. Mereka mengambil alih urusan konsumsi agar kaum perempuan bisa mengikuti pengajian dengan lebih tenang.

Panitia laki-laki menyiapkan makanan dan kebutuhan jamuan jamaah. Dengan cara itu, kaum perempuan tidak lagi harus menghabiskan waktu berhari-hari untuk menyiapkan dulang.

Iwan mengatakan, panitia ingin mengembalikan esensi Maulid sebagai momentum untuk memperkuat pemahaman keagamaan masyarakat.

“Makanya di tahun ini kami fokus ke ibu-ibu. Panitia cowok-cowok yang membuat masakan, memanjakan ibu-ibu supaya fokus,” ujarnya.

Menurut Iwan, peran perempuan sangat penting dalam keluarga. Karena itu, panitia ingin memberikan kesempatan kepada kaum perempuan untuk mengikuti pengajian, termasuk mendengarkan tausiah yang menghadirkan Tuan Guru Bajang.

Maulid Rakyat Tanpa Beban Dulang

Panitia juga mengemas kegiatan dengan konsep Maulid rakyat. Mereka tidak meminta warga menyiapkan dulang dengan biaya besar untuk menjamu tamu.

Masyarakat cukup datang menggunakan pakaian rapi berwarna putih dan kain tenun. Panitia kemudian menyiapkan konsumsi untuk sekitar 5 ribu jamaah.

Panitia membeli dua ekor sapi senilai sekitar Rp41 juta. Mereka juga menyiapkan ayam, ikan, makanan ringan dan kebutuhan konsumsi lainnya.

“Yang penting mereka datang berpakaian rapi, putih dan berkain tenun. Itu menjadi kebanggaan panitia alam dan budaya sekaligus panitia Maulid,” katanya.

Konsep tersebut sekaligus mengurangi beban biaya yang biasanya muncul dari tradisi menyiapkan dulang. Masyarakat tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membuat jamuan masing-masing karena panitia telah menyiapkan konsumsi bersama.

Tenun Jadi Bagian dari Perayaan Maulid

Selain mengubah konsep dulang, panitia mengangkat budaya kain tenun dalam perayaan Maulid tahun ini. Penggunaan kain tenun menjadi bagian dari pakaian jamaah yang hadir.

Iwan mengatakan, budaya tenun memiliki nilai penting bagi masyarakat Pringgasela. Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya menggelar kegiatan budaya, tetapi juga harus menggunakan produk tenun dalam kehidupan sehari-hari.

Ia berharap penggunaan kain tenun terus berlanjut dalam berbagai kegiatan keagamaan, seperti salat Jumat, Idulfitri dan Iduladha.

“Kalau bukan masyarakat Pringgasela yang membudayakan penggunaan kain tenun, percuma anak-anak muda setiap tahun membuat event,” ujarnya.

Panitia juga melibatkan generasi muda dalam pelaksanaan Maulid. Para pemuda bertugas memberikan pelayanan kepada jamaah, termasuk menyiapkan kebutuhan konsumsi.

Iwan mengatakan, pelibatan pemuda sekaligus menjadi cara untuk mempertemukan generasi muda dengan orang tua. Selama ini, ia melihat masih ada jarak antargenerasi dalam kegiatan keagamaan di masyarakat.

Santuni Anak dan Sesepuh Masjid

Rangkaian Maulid tahun ini juga mencakup pemberian santunan. Panitia memberikan Rp100 ribu kepada 200 anak.

Panitia juga memberikan santunan kepada para sesepuh yang ikut berjuang dalam pembangunan dan pengelolaan masjid sejak puluhan tahun lalu.

Iwan mengatakan, panitia sengaja mengundang para sesepuh secara khusus. Mereka ingin para tokoh tersebut tidak hanya datang sebagai tamu, tetapi ikut merasakan perayaan sebagai bagian dari tuan rumah.

“Biasanya orang tua kita ini malu datang ke acara formal. Hari ini kita jemput bola supaya mereka bukan jadi tamu, tapi jadi tuan rumah,” katanya.

Bagi panitia, perubahan konsep Maulid tahun ini bukan sekadar mengurangi tradisi dulang. Mereka ingin menghadirkan perayaan yang memberi ruang lebih luas bagi perempuan untuk belajar agama, melibatkan pemuda, meringankan beban warga sekaligus menjaga budaya tenun Pringgasela.

Dengan konsep tersebut, Maulid tidak hanya menjadi perayaan keagamaan. Tradisi itu juga menjadi ruang untuk memperkuat hubungan antarwarga dan menjaga budaya lokal agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. (*)

Artikel Terkait