Dikpora Kota Bima Dorong Pelestarian Seni Tenun Lewat Program Sekolah
Kota Bima (NTBSatu) – Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Kota Bima terus memperkuat upaya pelestarian budaya lokal di lingkungan pendidikan. Salah satu langkah konkritnya adalah memfasilitasi sekolah-sekolah di wilayah sentra kerajinan untuk memasukkan seni tenun tradisional ke dalam program pembelajaran formal.
Kepala Dikpora Kota Bima, Abdul Haris mengungkapkan, inisiatif ini muncul dari keprihatinan atas berkurangnya minat generasi muda terhadap warisan budaya daerah. Menurutnya, pihak sekolah kini mengambil peran aktif untuk menjamin keberlanjutan tradisi tersebut.
“Apalagi ketika anak-anak sekolah kan tidak tertarik lagi dengan hak tenun, tapi oleh pihak sekolah ini menjadi program mereka. Ini luar biasa, ini kan budaya dalam bentuk kerajinan,” ujar Haris pada Senin, 17 Agustus 2026.
Ia menekankan, tidak semua wilayah memiliki tradisi tenun yang sama. Oleh karena itu, penerapan program ini berfokus pada sekolah-sekolah yang berada di wilayah dengan sejarah dan tradisi kriya tenun yang kuat, seperti kawasan Ntobo, O’o, dan Lelamase.
Pemerintah daerah mengapresiasi keberanian sekolah yang mengintegrasikan muatan lokal tersebut ke dalam kurikulum formal. Haris menilai, langkah ini lebih efektif dan terstruktur daripada pembelajaran di luar sekolah.
“Bahagianya saya, ilmu ini kita turunkan ke anak-anak generasi muda ini. Kalau tidak kita turunkan ke generasi muda, kan hilang nanti itu,” tegasnya.
Sejumlah Sekolah Mulai Implementasikan
Ia menambahkan, kecenderungan generasi muda saat ini kerap mengabaikan tradisi lokal. Melalui hadirnya pembelajaran tenun di sekolah. Murid-murid khususnya murid putri dapat mengasah keahlian serta menjaga warisan seni yang juga menjadi mata pencaharian warga setempat.
Saat ini, sejumlah sekolah menengah pertama telah mengimplementasikan kegiatan penenunan tersebut dalam program pembelajaran mereka.
“Ini lebih formil menurut saya. Lain ceritanya kalau di luar sekolah, tapi ini ada di dalam sekolah, ada pembelajarannya. Ada di SMP 15 Ntobo dan beberapa SMP lainnya karena memang di sana tenunnya lagi masyarakat lestarikan,” pungkasnya.
Melalui penguatan budaya di lembaga pendidikan ini, Pemerintah Kota Bima berharap seni tenun khas daerah tidak sekadar menjadi sejarah, melainkan tetap hidup dan berkembang di tangan generasi penerus. (*)




