Pelajaran Gempa Lombok 2018, TGB Ajak Kompak Tangani Gempa NTT
Mataram (NTBSatu) – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 RI di Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak hanya sekadar kegiatan seremonial saja.
Momen peringatan HUT RI ini juga menyisakan pesan kritis soal soliditas penanganan bencana. Mantan Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang (TGB) Dr. H. Muhammad Zainul Majdi, mengatakan pentingnya meninggalkan ego dan aksi saling tuduh dalam menghadapi bencana alam yang kini menerpa Nusa Tenggara Timur (NTT).
TGB mengingatkan masyarakat bahwa ikatan NTB dan NTT bukan sebatas urusan tetangga geografis, melainkan hubungan sejarah yang mendalam.
Ia menjelaskan sebelum pemekaran wilayah pada 1958, kedua daerah terikat dalam satu provinsi: Sunda Kecil.
“Sebelum 1958, kita dengan NTT kan satu kesatuan Sunda Kecil. Jadi NTB dan NTT itu memang bersaudara. Apa yang mereka rasakan, kita rasakan juga,” tuturnya.
Ia mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi NTB yang bergerak menyalurkan bantuan logistik serta menerjunkan tim tanggap darurat ke NTT. Menurutnya, langkah ini merupakan bentuk persaudaraan yang konkret, bukan sekadar basa-basi politik.
Di sisi lain, TGB memberi peringatan bagi warga NTB agar tetap pasang kuda-kuda dan tidak lengah terhadap ancaman bencana serupa.
“Kita satu kesatuan, jadi kita harus waspada dan hati-hati. Kita berdoa gempa seperti itu tidak menimpa daerah lain,” tambahnya.
Pelajaran Gempa NTB 2018: Jangan Saling Menyalahkan
Menyoroti penanganan krisis di NTT, TGB menarik refleksi kritis dari pengalaman pahit saat memimpin NTB melewati bencana gempa bumi skala besar pada 2018 lalu. Kunci utama kecepatan pemulihan, terletak pada kondusivitas internal antara rakyat dan pembuat kebijakan.
“Yang pertama, tidak boleh saling menyalahkan. Dulu kita alhamdulillah cepat tanggap bencananya, rehabilitasinya relatif cepat karena masyarakat luar melihat NTB itu kompak. Sehingga bantuan dari luar NTB juga semangat mengalir membantunya,” sambungnya.
TGB mewanti-wanti agar konflik internal antara masyarakat dan pemerintah daerah di NTT tidak merusak kepercayaan masyarakat serta bantuan luar yang ingin masuk.
“Saudara-saudara kita di NTT kita harapkan tidak usah saling menyalahkan antara masyarakat sama pemerintah. Kalau kompak di dalam, insyaallah pemulihan akan jauh lebih cepat,” tuturnya. (Japriani)




