NTB

Prakiraan Cuaca NTB 17 Agustus 2026: BMKG Ingatkan Cuaca Panas dan Potensi Dehidrasi

Mataram (NTBSatu) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) mengimbau masyarakat NTB mewaspadai dampak cuaca panas selama puncak musim kemarau.

Imbauan ini merupakan perhatian penting bagi masyarakat yang menggelar atau mengikuti rangkaian kegiatan luar ruangan pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia pada Senin, 17 Agustus 2026.

​Peringatan tersebut menyasar tingginya paparan sinar matahari langsung yang berpotensi memicu gangguan kesehatan saat fisik beraktivitas di bawah terik cuaca. Hal ini sesuai peringatan dari Prakirawan BMKG Stamet ZAM, Dhian Yulie Cahyono.

IKLAN

​”Waspada terhadap dampak cuaca panas selama musim kemarau. Salah satu langkah yang dapat dilakukan ialah memakai pelindung diri serta tabir surya. Ini berguna meminimalkan paparan sinar matahari secara langsung,” ujarnya kepada NTBSatu pada Minggu, 16 Agustus 2026.

Suhu Udara dan Sebaran Hujan di Wilayah NTB

Berdasarkan data prakiraan BMKG, suhu udara di wilayah NTB pada 17 Agustus 2026 bervariasi antara 12 hingga 34 derajat Celsius.

Wilayah Kabupaten Sumbawa mencatat potensi suhu tertinggi mencapai 34 derajat Celsius. Selanjutnya, Kabupaten Dompu dengan suhu maksimal 33 derajat Celsius, serta Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Bima mencapai 32 derajat Celsius.

IKLAN

Angin bertiup dari arah Timur hingga Tenggara dengan kecepatan berkisar 17 hingga 28 kilometer per jam. Meskipun wilayah perkotaan seperti Kota Mataram dan Kota Bima mendominasi cuaca cerah berawan hingga cerah sepanjang hari, beberapa wilayah kabupaten berpotensi mengalami hujan ringan pada siang hingga sore hari sekitar pukul 14.00 hingga 17.00 Wita.

Wilayah tersebut meliputi Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Dompu, dan Bima.

Pencegahan Dehidrasi dan Risiko Karhutla

Menghadapi paparan terik matahari saat masyarakat melangsungkan agenda luar ruangan pada siang hari, BMKG mengingatkan pentingnya menjaga asupan fisik secara optimal.

​”Masyarakat sebaiknya memenuhi kebutuhan cairan tubuh, terutama ketika melakukan aktivitas di luar ruangan pada siang hari. Upaya tersebut penting untuk mencegah terjadinya dehidrasi akibat cuaca yang panas,” tegas Dhian.

​Selain ancaman dehidrasi akibat tingginya paparan suhu udara, BMKG juga memberikan perhatian khusus terhadap potensi bencana lingkungan yang meningkat selama musim kemarau.

​”Hal lain yang juga menjadi perhatian selama musim kemarau adalah potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Oleh karena itu, masyarakat hingga pemerintah perlu meningkatkan kewaspadaan dan menghindari tindakan yang dapat memicu kebakaran. Termasuk membuang sampah yang mudah terbakar secara sembarangan,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait