AdvertorialPendidikan

Tak Hanya Kuliah, Mahasiswa Jerman Temukan Pengalaman Lintas Budaya di Unram

Mataram (NTBSatu) – Program pertukaran mahasiswa di Universitas Mataram (Unram) memberikan pengalaman akademik sekaligus pembelajaran lintas budaya bagi Emma Feik, mahasiswa Primary School Teaching dari University of Kassel, Jerman.

Selama mengikuti program Changes: Exploring Critical Sustainable Development Education from Global Perspectives pada 1 April hingga 31 Juli 2026, Emma mengaku memperoleh banyak pelajaran yang tidak hanya berasal dari ruang kelas.

Emma mengikuti perkuliahan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), khususnya Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris.

IKLAN

Kesempatan tersebut membantunya mengenal sistem pendidikan Indonesia sekaligus memahami penerapan nilai keberlanjutan dan keberagaman budaya dalam lingkungan akademik.

Keinginannya mengikuti program pertukaran berawal dari rasa ingin tahu terhadap sistem pendidikan Indonesia yang memiliki budaya berbeda dengan Jerman.

“Saya ingin mendapatkan pengalaman belajar di luar negeri, terutama di universitas yang berada dalam budaya yang sangat berbeda dengan negara asal saya. Saya juga ingin mempelajari bagaimana sistem pendidikan di Indonesia diterapkan,” ujarnya, Jumat, 3 Juli 2026.

Selama menjalani perkuliahan, Emma mengaku memperoleh banyak wawasan baru. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya hadir melalui mata kuliah Intercultural Understanding.

Mata kuliah tersebut membantunya memahami nilai budaya, pola komunikasi, serta cara pandang masyarakat Indonesia.

“Saya belajar banyak tentang bagaimana pendidikan dipandang di Indonesia dan bagaimana peran seorang guru di masyarakat. Selain itu, saya juga memperoleh pengalaman pertukaran budaya yang sangat berharga melalui berbagai diskusi mengenai nilai, komunikasi, dan cara pandang yang berbeda,” katanya.

Belajar dari Kampus hingga Kehidupan Masyarakat

Emma juga merasakan, perbedaan suasana belajar antara Jerman dan Indonesia. Menurutnya, mahasiswa di Jerman lebih mandiri dalam mengatur proses belajar.

Sedangkan perkuliahan di Unram berlangsung lebih interaktif dengan hubungan yang akrab antara dosen dan mahasiswa. Hal itu menjadi kesan yang paling membekas selama mengikuti program pertukaran.

“Saya menyadari bahwa proses belajar tidak selalu harus dipenuhi tekanan untuk mendapatkan hasil yang baik. Di Unram saya merasakan suasana belajar yang lebih santai, tetapi tetap produktif. Hubungan antara dosen dan mahasiswa juga sangat dekat. Para dosen selalu memastikan mahasiswa merasa nyaman selama mengikuti perkuliahan,” ungkapnya.

Selain mengikuti perkuliahan, Emma mengisi waktunya dengan berolahraga, mengerjakan tugas di perpustakaan maupun kafe, serta menikmati keindahan alam Lombok bersama mahasiswa lokal dan mahasiswa internasional lainnya.

Ia juga aktif mengikuti kegiatan sosial bersama Gugah Nurani Indonesia dan Jage Kastara Foundation. Melalui kegiatan tersebut, Emma mengajar, berinteraksi dengan anak-anak, dan mengenal kehidupan masyarakat Lombok secara lebih dekat.

Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa proses belajar tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga tumbuh melalui interaksi sosial dan pengalaman lapangan.

Emma mengaku sangat terkesan dengan keramahan civitas akademika Unram yang menyambutnya sejak hari pertama.

Baginya, pengalaman belajar di Unram menjadi bekal berharga untuk memahami pendidikan, budaya, dan pentingnya kolaborasi lintas negara.

Program pertukaran tersebut sekaligus mempertegas komitmen Unram dalam memperluas kerja sama internasional serta membangun lingkungan akademik yang inklusif dan berwawasan global. (*)

Atim Laili

Jurnalis NTBSatu

Artikel Terkait