Kabupaten Sumbawa Masuki Puncak Panen Raya 2026, Produksi Padi dan Jagung Tembus Ratusan Ribu Ton
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Kabupaten Sumbawa memasuki puncak panen raya pada periode April hingga Juni 2026, dengan produksi padi dan jagung mencapai ratusan ribu ton.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa menyiapkan seluruh proses panen, distribusi, hingga stabilisasi harga melalui koordinasi lintas sektor.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa, Ni Wayan Rusmawati mengatakan, berdasarkan data lapangan, luas panen padi di Kabupaten Sumbawa mencapai 51.759 hektare dengan estimasi produksi 258.795 ton.
“Untuk periode April sampai Juni 2026 ini, Kabupaten Sumbawa masuk masa puncak panen raya. Luas panen padi 51.759 hektare dengan produksi sekitar 258.795 ton,” ujarnya kepada NTBSatu, Selasa, 14 April 2026.
Sementara itu, jagung menjadi komoditas terbesar dengan luas panen 64.120 hektare dan produksi mencapai 461.663,2 ton.
“Jagung mencapai 64.120 hektare dengan produksi sekitar 461 ribu ton lebih. Angka ini sangat besar dan menjadi fokus kami,” katanya.
Koordinasi Lintas Sektor
Wayan menegaskan, Pemkab terus berkoordinasi lintas sektor untuk memastikan panen dan distribusi berjalan lancar meski Pemerintah Pusat belum menetapkan lokasi seremonial panen raya.
Untuk pengawalan distribusi, pemerintah daerah menggandeng aparat keamanan. Polres Sumbawa mengawal distribusi jagung, sedangkan unsur TNI melalui Babinsa mendampingi petani padi di lapangan.
“Kami tidak bekerja sendiri. Polres Sumbawa mengawal distribusi jagung agar lancar. Babinsa mendampingi petani padi di tiap wilayah,” kata Wayan.
Pemerintah daerah juga menggelar rapat koordinasi dengan Perum Bulog, Dinas Pangan, Dinas KUKM Perindag, dan pengusaha pergudangan untuk memastikan kesiapan penyerapan hasil panen.
“Kami segera rapat dengan Bulog, Dinas Pangan, koperasi, dan pengusaha gudang. Kunci utama ada pada kesiapan gudang agar hasil panen tidak menumpuk di petani,” ujarnya.
Terkait harga, pemerintah daerah menargetkan stabilisasi harga jagung di Rp5.000 per kilogram dan padi di Rp6.500 per kilogram untuk menjaga pendapatan petani.
Ia juga menekankan kualitas panen menentukan harga di lapangan. “Kami imbau petani perhatikan kadar air, idealnya 15-16 persen. Jangan buru-buru jual saat masih basah karena tengkulak bisa tekan harga,” tegasnya.
Ia juga meminta petani lebih bijak mengelola hasil panen, memperkuat koordinasi dengan penyuluh pertanian, serta memilih pembeli yang memberi harga terbaik.
“Petani harus aktif koordinasi dengan PPL dan cerdas pilih pembeli. Jangan habiskan hasil panen, sisihkan untuk modal musim tanam berikutnya,” imbaunya. (*)



