Wabup Lombok Timur Sebut Medsos Picu “Panic Buying” Elpiji
Lombok Timur (NTBSatu) – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur mengidentifikasi faktor utama yang memperparah gangguan gas elpiji di tengah masyarakat, karena rendahnya literasi media sosial.
Wakil Bupati (Wabup) Lombok Timur, H. Moh. Edwin Hadiwijaya menilai, informasi di ranah digital mengganggu stabilitas distribusi energi hingga memicu terjadinya fenomena belanja berlebih atau panic buying.
“Kondisi pasokan yang menipis menjadi makin sulit karena kepanikan pembeli,” ujarnya saat menghadiri acara peringatan milad ke-4 Lembaga Pendidikan Sosial (LPS) Sirzam Pancor, Sabtu, 11 April 2026.
Edwin mengatakan, ketergantungan elpiji yang mencapai hingga 80 persen mengakibatkan tekanan pada stok energi nasional. Kemudian, tambah buruk dengan lonjakan konsumsi selama Ramadan dan Idulfitri.
Namun informasi mengenai kelangkaan yang beredar di media sosial, sering kali tidak dibarengi dengan ketenangan publik dalam mengonsumsi barang. Menurut Edwin, fenomena panic buying menjadi salah satu, dari sekian banyak masalah sosial yang berakar dari kualitas pendidikan.
Ia juga menekankan, sinergi antara aspek pendidikan dan sosial sangat penting agar masyarakat tidak mudah terombang-ambing arus informasi. ”Masalah-masalah sosial hanya bisa diselesaikan jika orang-orang berpendidikan yang mengerjakannya,” ujarnya.
Hadirnya Sekolah Rakyat di Lenek yang kini menampung 100 siswa dari keluarga prasejahtera sebagai bentuk usaha meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), sekaligus memutus rantai kemiskinan.
Pemerintah saat ini fokus mempercepat distribusi setelah tambahan pasokan gas elpiji tiba melalui Pelabuhan Lembar. Langkah ini untuk mengatasi kendala stok saat ini.
Di sisi lain, pemerintah juga mulai melakukan uji coba kebijakan Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah. Kebijakan tersebut sebagai langkah kolektif untuk menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) daerah.
Pemerintah juga meminta masyarakat mulai menerapkan pola hidup hemat energi dan pengawasan ketat subsidi listrik, elpiji, dan BBM. Harapannya, langkah ini bisa menjadi kunci utama menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga maupun daerah, di tengah keterbatasan pasokan. (Inda)



