DKD NTB Soroti Minimnya Fasilitas Kantor Dinas Kebudayaan, Masih Kekurangan Sarpras dan SDM
Mataram (NTBSatu) – Dewan Kebudayaan Daerah NTB (DKD) menyoroti minimnya sarana dan prasarana (sarpras) di Kantor Dinas Kebudayaan NTB, yang menghambat kinerja lembaga tersebut sebagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) baru.
Pihak dinas juga mengakui, keterbatasan fasilitas dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang masih mereka hadapi.
Anggota DKD NTB, Abdul Wahid mengatakan, Dinas Kebudayaan sebagai dinas baru harus bergerak lebih cepat untuk mengejar ketertinggalan dari dinas lain yang sudah lama berjalan.
“Dinas ini tidak boleh bergerak lambat. Harus lari lebih kencang untuk mengejar ketertinggalan,” ujarnya kepada NTBSatu, Senin, 6 April 2026.
Menurut Wahid, hingga memasuki bulan ketiga sejak pembentukan SOTK baru, Dinas Kebudayaan NTB belum menunjukkan percepatan signifikan dalam pemenuhan sarpras.
“Dinas masih kekurangan perangkat kerja seperti komputer dan perlengkapan kantor, bahkan sebagian masih tertinggal di dinas sebelumnya,” tambahnya.
Ia juga menyoroti kondisi DKD yang sebelumnya harus berpindah-pindah lokasi, sebelum akhirnya menempati ruang di dekat Dinas Kebudayaan. Meski kini sudah memiliki ruang, DKD masih melengkapi fasilitasnya secara swadaya.
“Kalau sarana tidak tersedia, bagaimana mereka bisa bekerja maksimal? Ini bisa menghambat visi besar pemajuan kebudayaan daerah,” tegasnya.
Wahid menambahkan, DKD berperan sebagai mitra pemerintah daerah yang mengawal pemajuan kebudayaan, termasuk menyusun naskah akademik dan roadmap kebudayaan yang mereka targetkan rampung pada semester pertama tahun ini.
Dari pantauan NTBSatu di lokasi, Kantor Dinas Kebudayaan NTB terlihat sepi. Sejumlah ruangan masih kosong dan belum memiliki perabot sarpras maupun perangkat kerja yang memadai, sehingga memperlihatkan minimnya sarana dan prasarana penunjang aktivitas perkantoran.
Bawa Meja dan Kursi Sendiri
Sementara itu, Sekretaris Dinas Kebudayaan NTB, H. Arifin, mengakui kondisi tersebut. Ia menjelaskan sejak awal pembentukan pada Januari 2026, dinasnya masih menghadapi keterbatasan sarpras.
“Jujur saja, sarana dan prasarana kita masih sangat minim. Meja dan kursi yang saya pakai ini pun saya bawa sendiri dari dinas lama supaya ruangan tidak kosong,” ungkapnya kepada NTBSatu, Senin, 6 April 2026.
Arifin mengatakan, hampir semua bidang masih kekurangan fasilitas dasar. Untuk operasional, dinasnya baru memiliki satu kendaraan dinas, sementara kebutuhan kendaraan operasional untuk kegiatan lain belum tersedia.
Selain itu, ia menegaskan Dinas Kebudayaan juga masih sangat kekurangan SDM. Berdasarkan Analisis Jabatan (Anjab) dan Analisis Beban Kerja (ABK), jumlah pegawai yang ada belum memenuhi kebutuhan ideal.
“Total pegawai sekitar 21 orang, termasuk pegawai pindahan. Tenaga perencana hanya satu orang, padahal idealnya ada di setiap jenjang,” jelasnya.
Ia menambahkan, unit pelaksana teknis seperti Taman Budaya dan Museum daerah juga menghadapi kekurangan tenaga, terutama karena sejumlah pegawai akan memasuki masa pensiun.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Dinas Kebudayaan NTB tetap menjalankan program kerja sesuai rencana pembangunan daerah. Namun, Arifin mengakui keterbatasan anggaran turut memengaruhi optimalisasi kinerja.
“Kami berharap pada anggaran perubahan nanti ada penyesuaian untuk mendukung operasional,” katanya.
Ia menambahkan, dalam waktu dekat, Dinas Kebudayaan NTB akan menggelar Forum SKPD untuk menyelaraskan program lintas sektor bersama sejumlah instansi terkait.
DKD dan Dinas Kebudayaan NTB sama-sama berharap Pemerintah Provinsi NTB segera memenuhi kebutuhan sarpras dan SDM, agar upaya pemajuan kebudayaan daerah dapat berjalan optimal sesuai visi yang telah ditetapkan. (*)



