Sumbawa

Gas LPG 3 Kilogram Langka di Sumbawa, Warga Berebut 150 Tabung untuk 1.000 Kepala

Sumbawa Besar (NTBSatu) – Kelangkaan LPG 3 kilogram di Kelurahan Bugis, Kabupaten Sumbawa, kian mencekik. Di tengah kebutuhan yang meningkat menjelang Ramadan, pangkalan setempat hanya menerima jatah 150 tabung untuk melayani lebih dari 1.000 warga. Ketimpangan ini membuat antrean panjang tak terhindarkan dan memicu keresahan di tengah masyarakat.

H. Badrussalam, pemilik pangkalan gas LPG 3 kilogram di Kelurahan Bugis, mengatakan pihaknya tetap menjual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp20 ribu per tabung. “Kami menjual sesuai HET, Rp20 ribu per tabung. Tidak pernah di atas itu,” kata Badrussalam kepada NTBSatu, Rabu, 25 Februari 2026.

Namun, ia mengakui sulit mengontrol secara detail latar belakang pembeli karena antrean kerap terjadi secara bergerombol. “Orang ambil gas ini bergerombolan, jadi kita tidak tahu pasti mana PNS, ASN, atau pegawai lainnya,” ungkapnya.

Meski demikian, pihak pangkalan mengaku telah memberikan penegasan agar aparat dan pegawai yang tergolong mampu tidak membeli gas subsidi. “Kami sudah tegaskan saat pengambilan, kalau pegawai seperti TNI atau yang mampu tidak boleh membeli gas 3 kilogram di sini,” ujarnya.

Dalam proses distribusi, pangkalan sempat menggunakan sistem kupon. Kini, mereka menerapkan pendataan berbasis KTP dengan domisili Kelurahan Bugis.

“Kami minta KTP. Yang penting domisili Bugis. Tapi kami juga tidak tahu dia pegawai atau bukan,” jelasnya.

Mayoritas pembeli, menurutnya, berasal dari kalangan UMKM dan rumah tangga kecil. Setiap distribusi didokumentasikan menggunakan foto bertanda waktu sebagai bentuk laporan pertanggungjawaban. “Setiap gas datang, kami dokumentasi pakai timer foto untuk laporan harian atau mingguan,” tambahnya.

Keluhkan Keterbatasan Kuota

Badrussalam memastikan, hingga kini pihaknya belum menemukan pembelian oleh PNS di pangkalannya. Namun ia tak menampik, keterbatasan kuota menjadi akar persoalan utama.

“Pastinya langka karena jatah kuota hanya 150 tabung, sedangkan warga Bugis lebih dari 1.000. Kami kewalahan juga melayani,” tegasnya.

Pada bulan Ramadan kondisi ini berpotensi memperparah beban ekonomi warga. Tanpa penyesuaian kuota atau pengawasan distribusi yang lebih ketat, krisis LPG 3 kilogram dikhawatirkan terus berulang dan yang paling terdampak tetaplah masyarakat kecil yang menggantungkan dapurnya pada gas bersubsidi. (Marwah)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button