Kota Mataram

Asa Terputus di Muara Jangkok, Program Beli Sampah Tumbang di Tengah Krisis Dana

Mataram (NTBSatu) – Tumpukan sampah yang tak pernah berhenti mengalir di Muara Jangkok, Lingkungan Melayu Bangsal, Ampenan Tengah, Kota Mataram, menjadi potret getir perjuangan warga di wilayah hilir sungai tersebut.

Sampah kiriman dari hulu datang nyaris tanpa jeda, membuat lingkungan pesisir ini kewalahan menanggung beban pencemaran yang bukan sepenuhnya berasal dari warganya sendiri.

Kepala Lingkungan Melayu Bangsal, Fahri Yadi, menyebutkan jumlan penduduk di Lingkungan Melayu sekitar 512 kepala keluarga (KK) dengan 1.836 jiwa. Mayoritas warganya berprofesi sebagai nelayan dan pekerja harian yang tinggal di bantaran sungai dan pesisir.

“Kami ini di hilir. Sampah dari hulu itu masuk terus, bukan per hari, tapi per detik. Saya bisa larang warga saya buang sampah ke sungai, tapi sampah kiriman dari atas itu tidak bisa kami cegah,” ujarnya ke NTBSatu pada Selasa, 17 Februari 2026.

Melihat kondisi tersebut, Fahri sempat menggagas program swadaya bernama Lingkungan Beli Sampah (LBS).

Program ini ia jalankan menggunakan dana pribadi dengan melibatkan anak-anak dan warga sekitar untuk mengumpulkan sampah di muara.

“Saya beli satu karung sampah Rp2.000. Saya kasih mereka karung, sehari bisa terkumpul 50 sampai 70 karung. Itu untuk mengurangi sampah di Muara Jangkok,” kata Fahri.

Dalam satu kegiatan, ia mengeluarkan biaya mencapai sekitar Rp70 ribu, dan program tersebut berjalan selama enam hingga tujuh bulan.

Program Terhenti karena Biaya

Namun, keterbatasan biaya membuat program ini akhirnya terhenti. “Karena tidak ada donatur yang tergerak, saya juga tidak sanggup lagi membiayai. Niatnya mau ajak orang bersedekah dengan cara beli sampah anak-anak, tapi saya tidak kuat sendiri,” ungkapnya.

Selain persoalan sampah, kawasan Melayu Bangsal juga kerap dilanda banjir hingga dua sampai tiga kali dalam setahun akibat aliran air dari timur yang tertahan ombak besar di muara.

Semakin parah dengan kondisi tanggul sungai yang belum tersambung hingga Jembatan Pasar Acc.

“Kalau tanggul ini tidak dilanjutkan, air masuk ke pemukiman. Banyak warga saya kulkasnya rusak, mesin cuci rusak, padahal itu alat mereka cari makan,” keluh Fahri.

Ia berharap pemerintah melanjutkan pembangunan tanggul, menambah armada roda tiga pengangkut sampah yang kini sudah uzur, serta menempatkan petugas khusus di muara.

“Muara ini butuh dana dan petugas. Kalau cuma mengandalkan warga, kami tidak sanggup. Kami butuh kehadiran pemerintah,” tegasnya. (Zani)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button