Mataram Masuk 40 Daerah Pilot Project Bansos Digital, Mohan Kirim Tim Studi ke Banyuwangi
Mataram (NTBSatu) – Kota Mataram masuk dalam daftar 40 daerah di Indonesia yang dipilih sebagai lokasi percontohan program digitalisasi bantuan sosial (bansos) nasional.
Program ini ditargetkan mulai berjalan penuh dalam empat bulan ke depan.
Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, mengatakan penunjukan tersebut menjadi kesempatan bagi Mataram untuk membenahi sistem distribusi bantuan agar lebih tertata dan akurat.
Pemerintah pusat menilai Mataram cukup siap dari sisi infrastruktur maupun kondisi wilayah untuk penerapan sistem berbasis digital.
Sebagai langkah awal, Mohan langsung menginstruksikan tim khusus melakukan studi ke Kabupaten Banyuwangi. Daerah tersebut dinilai berhasil menerapkan digitalisasi bansos secara menyeluruh.
“Saya minta tim ke Banyuwangi untuk melihat langsung bagaimana sistemnya berjalan. Dari informasi yang kami terima, Banyuwangi sudah lebih dulu menerapkan dan hasilnya cukup baik,” ujarnya, Jumat, 13 Februari 2026.
Digitalisasi ini difokuskan pada pembaruan dan penataan data kemiskinan. Saat ini tercatat sekitar 22 ribu Kartu Keluarga (KK) di Mataram masuk kategori kemiskinan ekstrem. Angka tersebut terus berubah mengikuti dinamika penduduk, mulai dari kelahiran, kematian, perpindahan domisili, hingga perubahan kondisi ekonomi.
Menurut Mohan, sistem digital akan memudahkan pembaruan data secara berkala sehingga bantuan bisa lebih tepat sasaran. Data yang rapi juga dapat digunakan untuk kebutuhan program sosial lainnya.
Ia melihat Mataram memiliki sejumlah keunggulan untuk menjalankan program ini. Selain wilayah yang tidak terlalu luas, tingkat literasi teknologi masyarakat juga dinilai cukup baik sehingga proses adaptasi tidak akan terlalu sulit.
Meski begitu, pekerjaan rumah tetap ada, terutama dalam hal sinkronisasi sistem dan pendampingan di lapangan. Pemerintah Kota Mataram akan melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait dan berkoordinasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) agar proses validasi data berjalan maksimal.
“Kita punya waktu empat bulan. Semua perangkat harus bergerak bersama supaya hasilnya benar-benar dirasakan warga,” katanya. (*)



