Kota Mataram

Program MBG hingga Konstruksi Dorong Ekonomi Kota Mataram Tumbuh 5,43 Persen

Mataram (NTBSatu) – Perekonomian Kota Mataram menunjukkan kinerja positif sepanjang tahun 2025. Program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG), geliat sektor perdagangan, hingga pembangunan infrastruktur menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah ini.

Berdasarkan rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Mataram 2026, ekonomi Kota Mataram tahun 2025 tercatat tumbuh 5,43 persen. Angka ini meningkat cukup signifikan dibandingkan tahun 2024 yang berada di angka 4,12 persen.

Kepala BPS Kota Mataram, Moh Reza Nugraha, mengatakan pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh sejumlah sektor strategis yang memberikan kontribusi besar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

“Empat sektor terbesar yang mendorong pertumbuhan ekonomi Kota Mataram adalah perdagangan besar dan eceran non-mobil/motor sebesar 1,32 persen, jasa perantara keuangan 1,19 persen, konstruksi 0,72 persen, serta industri makanan dan minuman 0,58 persen,” jelasnya, Minggu, 8 Maret 2026.

IKLAN

Salah satu faktor pendorong pertumbuhan sektor industri makanan dan minuman adalah meningkatnya aktivitas ekonomi akibat implementasi program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program tersebut diikuti dengan pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang cukup masif sepanjang pertengahan hingga akhir tahun 2025.

Reza menjelaskan, sebelum Juni 2025 hanya terdapat enam SPPG yang beroperasi di Kota Mataram. Namun jumlahnya meningkat pesat menjadi 49 unit hingga akhir Desember 2025.

“Permintaan bahan pangan dari SPPG cukup tinggi. Banyak produk UMKM seperti tahu, tempe, roti hingga berbagai jajanan yang disuplai untuk mendukung program ini. Hal itu berdampak pada pertumbuhan industri pengolahan makanan dan minuman yang mencapai sekitar 7,57 persen,” ujarnya.

Dampak MBG Menyasar pada Sektor Perdagangan

Pada sektor perdagangan juga merasakan dampak positifnya. Pedagang besar dan eceran di Kota Mataram menjadi penyedia kebutuhan bahan pangan seperti susu, telur, hingga daging ayam untuk memenuhi kebutuhan program MBG.

“Perdagangan besar dan eceran juga tumbuh sekitar 7,54 persen karena tingginya kebutuhan bahan baku untuk program tersebut,” tambahnya.

Selain itu, sektor konstruksi juga menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi daerah dengan angka pertumbuhan mencapai 7,59 persen. Aktivitas pembangunan, baik oleh pemerintah maupun sektor swasta, turut mendorong peningkatan ekonomi.

Salah satu proyek yang tengah berjalan adalah pembangunan Kantor Wali Kota Mataram “Bale Mentaram” dengan anggaran sekitar Rp58 miliar. Rencananya, pembangunan tersebut berlanjut hingga beberapa tahap ke depan melalui skema anggaran tahun jamak (multiyears).

Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, menilai capaian tersebut menunjukkan arah pembangunan Kota Mataram berada pada jalur yang tepat.

“Pembangunan infrastruktur bukan hanya untuk meningkatkan pelayanan publik, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang luas. Ada efek berganda bagi sektor usaha, tenaga kerja, hingga pelaku UMKM,” ujarnya dalam salah satu kegiatan Safari Ramadan.

Ia menambahkan, penciptaan iklim investasi yang kondusif juga menjadi faktor penting dalam mendorong aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari sektor perbankan, UMKM hingga jasa konstruksi dan properti.

“Karena itu keamanan, ketertiban, kebersihan, dan keindahan kota harus terus kita bersama. Kota yang nyaman akan mendorong investasi dan aktivitas ekonomi,” katanya.

Masyarakat Harus Merasakan Dampak Pertumbuhan Ekonomi

Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Kota Mataram, Irawan Aprianto, mengingatkan agar pertumbuhan ekonomi tersebut benar-benar dapat masyarakat secara luas rasakan.

Menurutnya, pemerintah perlu menyesuaikan program pemberdayaan ekonomi dan pelatihan kerja dengan kebutuhan pasar serta potensi masyarakat di masing-masing wilayah.

“Kita tidak bisa menggunakan pendekatan yang sama untuk semua orang. Data kemiskinan harus terus kita perbarui, lalu kita petakan potensi setiap wilayah dan individu,” ujarnya.

Ia menilai, pemerintah perlu merancang program pelatihan keterampilan supaya lebih fleksibel dan sesuai dengan minat dan kemampuan masyarakat.

“Misalnya pelatihan teknisi AC itu bagus, tetapi tidak semua orang punya minat di bidang itu. Pemerintah harus jeli melihat potensi masyarakatnya,” katanya.

Irawan juga menekankan pentingnya kajian dan penelitian sebagai dasar perumusan kebijakan agar program pengentasan kemiskinan bisa memberikan dampak jangka panjang.

“Kemiskinan harus kita putus dari akarnya. Kalau hanya mengandalkan bantuan sosial sesaat, tentu tidak akan menyelesaikan persoalan secara menyeluruh,” tegasnya. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button