739 Hektare Lahan Pertanian di Sumbawa Terdampak Banjir, 2,12 Hektare Tidak Bisa Diselamatkan
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Ratusan hektare lahan pertanian di Kabupaten Sumbawa terdampak banjir menyusul cuaca ekstrem yang melanda Sumbawa pada akhir Januari 2026.
Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa mencatat, meski sebagian besar pertanaman masih dalam kondisi aman, terdapat 2,12 hektare lahan yang dinyatakan puso atau tidak bisa diselamatkan lagi.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa, Ni Wayan Rusmawati, mengungkapkan berdasarkan laporan hasil pengamatan periode 16 hingga 31 Januari 2026. Total luas lahan yang terdampak banjir mencapai 739,12 hektar.
”Ruas terdampak itu 739,12 hektare. Namun, dari data tersebut, yang puso atau artinya sudah tidak bisa diselamatkan itu seluas 2,12 hektare,” ungkapnya kepada NTBSatu, Minggu, 8 Februari 2026.
Ni Wayan menjelaskan, banjir yang terjadi pada 23 Januari 2026 lalu, menyebabkan kerusakan di sejumlah titik di sembilan kecamatan. Kondisi tanaman yang tidak bisa diselamatkan ini terkonsentrasi di tiga wilayah utama. Yaitu Kecamatan Tarano, Buer, dan Empang.
”Di Tarano itu ada 0,5 hektare yang tidak bisa diselamatkan. Karena kondisinya baru selesai pindah tanam sehingga langsung terbawa arus banjir. Tapi untuk wilayah ini, petani sudah melakukan tanam ulang,” jelasnya.
Kerusakan karena Infrastruktur Pengairan
Lebih lanjut, Ni Wayan memaparkan kerusakan di wilayah lain dipicu oleh kerusakan infrastruktur pengairan. Di Kecamatan Empang, lahan seluas 1,6 hektare tidak bisa diselamatkan karena tanaman tercabut terbawa banjir akibat tanggul saluran irigasi yang jebol.
“Sementara itu, di Kecamatan Buer, terdapat 0,02 hektare lahan yang mengalami kondisi serupa karena tanaman tertimbun lumpur akibat tanggul yang jebol,” jelasnya.
Menurutnya, pembedaan status ini penting karena tanaman yang hanya tergenang dengan intensitas ringan hingga sedang masih memiliki kemungkinan untuk pulih.
Namun, untuk kondisi yang sudah masuk kategori puso, secara teknis tanaman tersebut sudah rusak permanen.
”Kalau seperti yang di Buer itu tanaman tertimbun lumpur karena tanggul jebol, itu memang sudah tidak bisa kita selamatkan,” tambahnya.
Menyikapi kondisi ini, Dinas Pertanian berkomitmen untuk terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat guna mengusulkan langkah penanganan bagi lahan yang terdampak.
”Tetap dong, kami terus mengusulkan upaya bantuan ke pusat. Jika ada program seperti optimalisasi lahan atau bantuan bibit, kita upayakan untuk membantu lokasi-lokasi yang terkena dampak ini. Kami akan terus melaporkan perkembangannya, mudah-mudahan ada solusi dari pusat,” tegasnya.
Dinas Pertanian berharap melalui pemantauan intensif, dampak banjir terhadap Indeks Pertanaman (IP) di Kabupaten Sumbawa dapat tetap terjaga meski di tengah tantangan cuaca ekstrem.
”Harapan kami, masyarakat lebih peduli dan kami pun terus berupaya mencari solusi. Terutama memperbaiki infrastruktur irigasi yang rusak agar tidak mengganggu target tanam kita,” tutupnya. (*)



