Lombok Timur

Persatuan Ahli Gizi Diminta Ambil Bagian Tekan Angka Stunting Lombok Timur

Lombok Timur (NTBSatu) – Wakil Bupati (Wabup) Lombok Timur, Edwin Hadiwijaya meminta Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) mengambil peran strategis dalam menekan angka stunting di Lombok Timur.

Edwin menegaskan, Pemda Lombok Timur membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan berbagai organisasi nonpemerintah (NGO), khususnya dalam penanganan isu gizi dan stunting.

Ia menyebut, Bappeda Lombok Timur siap menjadi pintu masuk kerja sama lintas sektor guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Wabup Edwin juga menyoroti, fokus kebijakan nasional yang saat ini mengedepankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan percepatan penurunan stunting.

IKLAN

Ia menekankan pentingnya peran Persagi dalam membekali para ahli gizi agar mampu menyajikan menu gizi seimbang yang tepat sasaran, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (B3).

“Peran ahli gizi sangat krusial agar intervensi gizi benar-benar berdampak pada kelompok yang paling membutuhkan,” ucapnya.

Saat ini, Lombok Timur tercatat memiliki 213 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan 171 SPPG di antaranya telah beroperasi.

Pemerintah daerah berharap, keberadaan SPPG dan pelaksanaan MBG mampu mendukung percepatan penurunan stunting secara berkelanjutan.

Angka Stunting Lombok Timur 2025

Berdasarkan data terakhir, angka stunting Lombok Timur pada Desember 2025 berada di level 22,39 persen. Sementara itu, pada Januari 2026 tercatat kasus baru sebesar 0,8 persen atau setara 545 kasus.

Sementara itu, Manager Wahana Visi Indonesia, Sidik Lando menekankan pentingnya penguatan komitmen bersama untuk mewujudkan generasi anak yang sehat dan berkualitas.

Ia mengapresiasi sinergi antara Lombok Timur, Lombok Utara, dan Persagi sebagai contoh nyata kolaborasi lintas wilayah dan profesi.

Menurut Sidik, Lombok memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan dapat dimanfaatkan secara optimal melalui penguatan pangan lokal.

Kolaborasi itu, menurutnya menjadi ajakan kolektif untuk memaksimalkan pangan lokal sebagai langkah pencegahan stunting. Sekaligus penggerak ekonomi masyarakat dan ketahanan pangan nasional.

Seluruh pemangku kepentingan harapannya semakin memperkuat kesadaran dan komitmen bersama dalam mempercepat penurunan stunting.

“Hal itu bisa dicapai melalui pemanfaatan pangan lokal dan kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan,” jelasnya. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button