16.299 KK di Kabupaten Sumbawa Berisiko Stunting
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Sumbawa mencatat, sebanyak 16.299 keluarga masuk kategori Keluarga Rentan Stunting (KRS) yang tersebar di berbagai kecamatan.
Sekretaris DP2KBP3A Kabupaten Sumbawa, dr. Nieta Ariyani mengatakan, angka stunting di Sumbawa masih cukup tinggi. Yakni, 29,87 persen dari total kelahiran bayi dan balita pada 2024. Kondisi ini katanya, menjadi perhatian utama pemerintah daerah.
“Kami menaruh fokus pada KRS karena mereka rentan mengalami stunting. Keluarga ini mencakup ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, bahkan calon pengantin. Kami akan intervensi mereka secara khusus supaya kasus baru bisa dicegah,” ujar dr. Nieta, Selasa, 27 Januari 2026.
DP2KBP3A menyiapkan program percepatan pencegahan dan penurunan stunting. Nieta menekankan beberapa faktor utama penyebab stunting, termasuk asupan gizi di 1000 hari pertama kehidupan, pernikahan anak di bawah umur, serta kondisi lingkungan seperti air, udara, dan tanah.
“Gizi 1000 hari pertama menjadi investasi utama bagi orang tua. Kalau pola ini dijalankan dengan konsisten, angka stunting bisa ditekan,” katanya.
Ia menambahkan, di beberapa lokasi seperti Kelurahan Uma Sima banyak rumah tidak layak huni. Kondisi ini sulit pemerintah intervensi karena sebagian besar warga hanya menyewa tanah.
“Penanganan stunting memang kompleks, tidak hanya soal gizi tapi juga lingkungan dan hunian,” jelasnya.
Berdasarkan pendataan, DP2KBP3A Kabupaten Sumbawa menargetkan 11 desa di 10 kecamatan sebagai lokus intervensi pada 2025.
Desa-desa tersebut antara lain yakni: Desa Penyaring (Moyo Utara), Desa Labuan Bajo dan Desa Stowe Brang (Utan), Kelurahan Uma Sima (Sumbawa), Desa Bugis Medang (Labuhan Badas).
Kemudian, Desa Klungkung (Batulanteh), Desa Sukamulya (Labangka), Desa Lebangkar (Ropang), Desa SP III Prode (Plampang), Desa Suka Maju (Lunyuk), dan Desa Simu (Maronge).
“Kami sudah memetakan desa-desa lokus stunting dan berkomitmen menurunkan angka ini melalui program yang menyentuh gizi, pendidikan, dan lingkungan. Tujuannya, keluarga rentan bisa terbantu secara maksimal,” tambahnya. (*)



