Akibat Pembatasan TPA Kebon Kongok, Sampah Menggunung di Pasar Karang Jasi Mataram
Mataram (NTBSatu) – Pemandangan di Pasar Karang Jasi Kelurahan Cilinaya, Kecamatan Cakranegara, Mataram, Selasa, 27 Januari 2025, terlihat kumuh. Pasar yang selama ini sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat Mataram itu penuh tumpukan sampah.
Dalam suasana aktivitas jual beli tanpa henti, beberapa hari terakhir terganggu akibat tumpukan sampah basah yang menggunung dan hampir menutup setengah badan jalan. Kondisi ini memaksa pembeli, pedagang, serta pengendara untuk berbagi ruang terbatas di tengah bau menyengat yang menyelimuti kawasan pasar.
Aroma tak sedap langsung menyergap siapa pun yang memasuki area pasar. Sampah organik bercampur plastik mengendap di genangan air hujan, membuat jalanan becek dan licin.
Lalat beterbangan, hinggap di lapak-lapak sayur dan sisa makanan. Beberapa pembeli tampak menutup hidung, sementara lainnya mempercepat langkah agar segera keluar dari kawasan pasar.
Pantauan NTBSatu, Selasa siang, 27 Januari 2026 , kondisi paling padat terjadi pada jam sibuk pagi hari. Kemacetan kerap muncul akibat penyempitan badan jalan. Lalu lalang Cidomo (angkutan tradisional) memperparah situasi, meninggalkan kotoran kuda yang bercampur dengan air sampah dan lumpur. Pedagang yang mendorong gerobak harus berhati-hati agar tidak terpeleset.
Di tengah kondisi tersebut, para pedagang tetap bertahan. Salah satunya Rumiah. Pedagang sayur-mayur dan bahan pokok yang telah berjualan selama 30 tahun di Pasar Karang Jasi, menyebut situasi kali ini sebagai yang terburuk selama ia berdagang.
“Biasanya tidak pernah separah ini. Sampah menumpuk lama, tidak diangkut. Hujan turun, sampah menyebar ke mana-mana,” ujarnya.
Aktivitas Terganggu, Pedagang Terancam Rugi
Rumiah mencium bau paling menyengat pada pagi hari. Kondisi itu membuat pembeli tidak betah berlama-lama. Bahkan, sebagian pelanggan tetap mulai jarang datang.
“Kalau begini terus, pembeli bisa lari ke pasar lain. Kami yang rugi. Jualan jadi sepi,” katanya dengan nada cemas.
Warga sekitar juga merasakan keresahan yang sama. Ahmad Fahrurrozi menuturkan tumpukan sampah telah berlangsung sekitar empat hari dan menimbulkan dampak langsung bagi lingkungan sekitar pasar.
“Bau menyengat, jalan licin, macet. Ini sangat mengganggu,” ujarnya.
Ia pun mendengar informasi pengangkutan sampah terhambat akibat pembatasan pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok serta penuhnya kapasitas TPS Bintaro. Selain itu, perilaku sebagian warga yang masih membuang sampah sembarangan, terutama pada malam hari, ikut memperparah keadaan.
“Harus ada sanksi tegas. Kalau perlu pasang CCTV. Jangan hanya menunggu sampai sampah menggunung baru bergerak, lagi seminggu tidak diangkut ini, pasti bisa pasar tutup,” tegas Ahmad.
Respons Pemkot Mataram
Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram menyatakan telah memberikan atensi terhadap kondisi di Pasar Karang Jasi. “Pengangkutan sedang diupayakan dan ditargetkan dilakukan hari ini iya,” ujar Kepala DLH Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi kepada NTBSatu.
Ia mengungkapkan, memang permasalahan utamanya adalah adanya pembatasan ritase pembuangan ke TPA Kebon Kongok. Hal ini membuat kemampuan angkut harian jauh tertinggal dari produksi sampah masyarakat. Saat ini, tumpukan sampah di berbagai Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tercatat mencapai sekitar puluhan ribu ton.
“Per hari hanya sekitar 90 sampai 100 ton yang bisa dibuang ke TPA, sementara produksi sampah jauh lebih tinggi. Akumulasi selama hampir dua bulan terakhir mencapai sekitar 10.200 ton,” ujar Denny.
Tumpukan tersebut tersebar di sejumlah TPS krusial, seperti TPS Bintaro, Sandubaya, Selagalas, Lawata, serta TPS Pagutan atau TPS 45. Pemerintah kota telah mengoptimalkan pengoperasian insinerator dan fasilitas TPS Sandubaya, namun kapasitasnya belum mampu mengejar volume sampah yang terus bertambah.
“Dua unit insinerator aktif dengan kapasitas total sekitar 20 ton per hari. Satu unit di RSUD belum beroperasi karena kendala perizinan,” jelasnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, harapan kini bertumpu pada pembangunan landfill baru di TPA Kebon Kongok yang Pemerintah Provinsi NTB kelola. Pemerintah Kota Mataram terus melakukan koordinasi.
“Target sebelum Ramadhan landfill baru sudah bisa digunakan. Jika beroperasi, pengangkutan sampah dari TPS-TPS di Mataram akan kembali normal secara bertahap,” tutup Denny Optimis. (*)



