Lombok Barat

Jembatan Amblas di Narmada: 90 KK Terisolir, Ratusan Anak tak Bisa Sekolah

Lombok Barat (NTBSatu) – Amblasnya Jembatan Gubuk Aong di Dusun Lebah Suren Selatan, Desa Sedau, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, menyebabkan akses utama warga terputus total.

Akibat kejadian tersebut, 90 Kepala Keluarga (KK) dengan sekitar 200 jiwa terisolir. Sementara itu, sekitar 100 anak terpaksa tidak dapat bersekolah karena tidak adanya jalur alternatif untuk melintas.

Musibah ini terjadi pada Jumat dini hari, 23 Januari 2026 sekitar pukul 01.00 Wita, saat hutan deras mengguyur wilayah tersebut. Debit air yang tinggi membuat saluran pembuangan tidak mampu menampung aliran air, hingga akhirnya jembatan amblas dan ambruk.

Kepala Dusun Lebah Suren Selatan, Nasrun Arifin menjelaskan, lokasi jembatan sebelumnya merupakan kali mati yang berfungsi sebagai jalur pembuangan air persawahan.

IKLAN

Namun, akibat aliran air yang terus-menerus dari kawasan hutan di Dusun Lebah Suren Utara dan Selatan, jalur tersebut semakin terkikis dan berubah menyerupai sungai besar.

“Awalnya ini cuma kali mati, tapi karena air hujan dari dua dusun dan dari hutan masuk semua ke sini, lama-lama terkikis. Sekarang kedalamannya sudah sampai 30 meter lebih,” ujarnya kepada NTBSatu, Sabtu, 24 Januari 2026.

Ia menambahkan, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, dampak sosial dan ekonomi sangat berat warga rasakan. Aktivitas masyarakat lumpuh total, karena akses keluar-masuk dusun tidak dapat kendaraan maupun pejalan kaki lewati.

“Anak-anak tidak bisa sekolah, hasil perkebunan tidak bisa dibawa keluar. Ekonomi warga benar-benar mati total,” katanya.

Selain memutus akses jalan, longsor juga sempat mengganggu jaringan listrik akibat kabel yang tertimbun material tanah.  Meski demikian, listrik telah kembali normal setelah perbaikan sementara.

Hingga saat ini, warga masih terisolir dan hanya mengandalkan jalur darurat yang sangat terbatas. Pemerintah kecamatan dan desa telah turun ke lokasi, namun warga berharap adanya penanganan lebih cepat dari pemerintah kabupaten.

“Harapan kami paling tidak segera dibuatkan akses darurat atau jalur baru. Jembatan ini sudah tidak mungkin dikembalikan seperti semula,” ungkapnya.

DPRD Minta Pemerintah Daerah Segera Turun

Sementara itu, Anggota DPRD Lombok Barat, Hendra Harianto yang turut meninjau lokasi meminta pemerintah daerah segera merespons kondisi tersebut secara serius. Ia menegaskan, persoalan ini menyangkut keselamatan dan keberlangsungan hidup masyarakat.

“Kami minta pemerintah daerah melalui dinas terkait, khususnya PU, segera turun dan merekomendasikan langkah teknis penanganan. Akses masyarakat sampai hari ini belum bisa digunakan dan warga masih terisolir,” jelasnya kepada NTBSatu.

Hendra juga meminta, laporan dari kepala dusun dan BPD segera pemerintah daerah tindaklanjuti agar proses penanganan tidak berlarut-larut.

“Jalan ini urat nadi masyarakat. Kalau terlalu lama, dampaknya akan semakin besar, terutama bagi anak-anak dan perekonomian warga,” tegasnya. (Zani)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button