Dulu PMI, Kini Bang Hafiz Punya Belasan Karyawan
Lombok Timur (NTBSatu) – Keputusan menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia pernah menjadi jalan terakhir bagi Muhammad Irjan atau yang akrab disapa Bang Hafiz. Demi memenuhi kebutuhan keluarga, ia rela meninggalkan istri dan anak pertamanya yang baru berusia dua bulan.
Hampir empat tahun kemudian, ia pulang ke Lombok Timur dengan tekad membangun usaha sendiri. Kini, tekad itu menjelma menjadi bisnis jual beli motor bekas yang mempekerjakan belasan orang.
Bang Hafiz berangkat ke Malaysia pada akhir 2014. Saat itu, kondisi ekonomi memaksanya mengambil pekerjaan di luar negeri.
“Bekerja ke Malaysia bukan pilihan utama. Itu pilihan terakhir karena ekonomi,” katanya kepada NTBSatu, Selasa, 21 Juli 2026.
Setibanya di Malaysia, kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Ia ditempatkan di perkebunan kelapa sawit dengan kondisi kerja yang berbeda dari janji sebelum keberangkatan.
Demi mencari penghasilan yang lebih baik, ia berpindah tempat kerja. Di tengah perjuangan itu, ia juga sempat menjadi korban penipuan saat mengurus dokumen kerja melalui agen.
Meski menghadapi berbagai persoalan, Bang Hafiz tetap bertahan. Selama bekerja di Malaysia, ia berhasil membeli sebidang tanah dan membangun pondasi rumah untuk keluarganya di kampung halaman.
Prinsip untuk Mandiri
Namun, sejak masih menjadi PMI, ia sudah menanamkan satu target. Ia ingin pulang dan menjadi pengusaha, bukan kembali bekerja kepada orang lain.
“Saya ingin punya usaha sendiri, walaupun kecil. Yang penting saya bisa berdiri di atas usaha saya sendiri,” ujarnya.
Sepulang dari Malaysia, Bang Hafiz tidak langsung menjual motor. Ia sempat bekerja memasang wallpaper, membantu usaha bebek potong, hingga menjaga showroom kendaraan.
Dari pekerjaan terakhir itulah ia belajar mengenali pasar motor bekas dan memahami cara menjalankan bisnis tersebut.
Modal pertamanya pun bukan berasal dari tabungan selama menjadi PMI. Ia justru meminjam uang hasil usaha sang istri yang saat itu berjualan pakaian untuk membeli satu unit motor.
Motor itu berhasil dijual kembali dan menjadi awal perjalanan usahanya.
Dari satu unit motor, usahanya terus berkembang. Kini Bang Hafiz memiliki showroom motor bekas dengan sekitar 15 hingga 16 karyawan.
Ia juga memanfaatkan media sosial untuk memperluas pemasaran. Jika sebelumnya penjualan hanya menjangkau wilayah Lombok, kini motor yang dijualnya sudah dikirim ke Sumbawa, Bima, hingga Dompu.
Untuk menjaga kepercayaan konsumen, Bang Hafiz bekerja sama dengan PT Pos Indonesia dalam pengiriman kendaraan. Konsumen dapat memeriksa kondisi motor sebelum transaksi diselesaikan.
Jika kendaraan tidak sesuai dengan yang dijanjikan, pembeli dapat membatalkan pembelian. Ia juga memberikan garansi selama satu bulan.
Meski usahanya kini berkembang, Bang Hafiz mengakui masa paling berat justru saat merintis bisnis.
“Kalau jadi PMI, gaji sudah pasti setiap bulan. Merintis usaha itu berat. Yang penting harus bertahan dan jangan mudah menyerah,” katanya.
Andalkan Keberanian
Menurutnya, banyak mantan PMI sebenarnya memiliki peluang membangun usaha sendiri. Hambatan terbesar bukan terletak pada modal, melainkan keberanian untuk memulai dan memiliki target setelah pulang ke Indonesia.
Ia mengingatkan para PMI agar tidak hanya berorientasi bekerja di luar negeri tanpa batas waktu. Menurutnya, setiap orang perlu memiliki rencana kapan harus kembali dan memulai usaha di kampung halaman.
“Yang sulit itu memulai. Berani saja dulu. Satu sampai dua tahun mungkin terasa berat, tapi kalau konsisten, hasilnya akan datang,” ujarnya.
Di balik kesuksesannya, Bang Hafiz menyimpan kisah hidup yang penuh perjuangan. Ia kehilangan kedua orang tuanya sejak berusia dua tahun.
Bersama saudara-saudaranya, ia tumbuh berpencar dan diasuh oleh keluarga yang berbeda. Setelah lulus SMA, ia langsung bekerja serabutan karena tidak memiliki biaya untuk melanjutkan kuliah.
Kini, di usia 39 tahun, ia bersyukur usahanya mampu menghidupi keluarga, membuka lapangan kerja bagi belasan orang, serta mewujudkan impiannya berangkat umrah bersama sang istri.
Bagi Bang Hafiz, menjadi mantan PMI bukan akhir dari perjalanan. Justru pengalaman merantau menjadi bekal untuk membangun usaha dan membuktikan bahwa keberanian memulai dapat mengubah nasib seseorang. (*)




