Mataram (NTBSatu) – Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB), buka suara terkait pernyataan salah satu anggota DPR RI Dapil Jawa Tengah, Abdullah, soal kasus santri terbakar di Lombok Tengah.
TGB menegaskan, Pondok Pesantren (Ponpes) tempat berlangsungnya peristiwa tersebut tidak berada di bawah naungan organisasi Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI). Organisasi yang saat ini berada di bawah kepemimpinannya.
“Pondok pesantren tempat kasus penganiayaan tersebut tidak berada di bawah naungan organisasi yang saya pimpin, yaitu NWDI. Namun, berada di bawah naungan organisasi lain,” ujarnya, mengutip Instagram @tuangurubajang pada Selasa, 14 Juli 2026.
Pernyataan ini merupakan respons jalannya RDP Komisi III DPR RI. Dalam rapat tersebut, Abdullah sempat menyinggung afiliasi organisasi Ponpes tersebut dan menyeret nama TGB. Ia mengaitkan dengan kondisi manajerial internal organisasi keagamaan setempat saat membahas kasus hukum santri terbakar.
Jangan Memojokkan Organisasi
Meskipun meluruskan kekeliruan afiliasi lembaga, TGB mengingatkan semua pihak agar tidak memanfaatkan peristiwa pidana ini untuk menyudutkan organisasi tertentu. Menurutnya, proses hukum harus tetap berjalan secara objektif tanpa mengorbankan reputasi institusi yang telah memberikan kontribusi besar bagi negara.
“Walaupun demikian, peristiwa pidana yang ada jangan dipakai untuk memojokkan satu organisasi atau kelompok tertentu. Silakan usut tuntas pidananya, hukum siapa pun yang bersalah, tapi jangan bawa-bawa organisasi tertentu,” tegasnya.
TGB menambahkan, organisasi keagamaan di NTB memiliki sejarah panjang dalam memperjuangkan kemerdekaan serta mencerdaskan kehidupan bangsa.
Oleh karena itu, ia mendorong aparat penegak hukum untuk bertindak cepat, tegas, dan transparan dalam menuntaskan penyelidikan perkara ini. Kejelasan penanganan hukum sangat penting agar tidak memicu spekulasi liar di tengah masyarakat yang berpotensi menimbulkan fitnah baru.
Bahan Evaluasi Internal
Di sisi lain, TGB menyatakan kalangan pesantren sangat terbuka terhadap kritik dari publik, sekalipun menyampaikannya dengan sangat tajam. Ia memandang perhatian publik yang besar merupakan wujud kepedulian masyarakat terhadap keselamatan dan masa depan para santri.
“Kami yakin bahwa itu semua lahir karena peduli dan cinta. Insya Allah, itu semua menjadi bahan muhasabah bagi kami di pondok pesantren untuk memperbaiki kekurangan yang ada,” ujarnya.
TGB berharap evaluasi tersebut mampu mengembalikan fungsi pesantren sebagai ruang belajar yang aman dan nyaman. Terutama bagi seluruh santri yang sedang menuntut ilmu agama. (*)




