KesehatanKota Bima

Pemkot Ungkap Molornya Proyek RSUD Kota Bima

Kota Bima (NTBSatu) – Pembangunan Gedung Rawat Inap RSUD Kota Bima meleset dari target jadwal yang telah ditentukan. Pihak Pemerintah Kota Bima akhirnya terpaksa memberikan penambahan waktu pelaksanaan akibat pengerjaan proyek strategis senilai Rp35,12 miliar tersebut mengalami keterlambatan (molor) di lapangan.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pembangunan Gedung Rawat Inap RSUD Kota Bima, Fathurrahman menjelaskan, pihaknya terpaksa mengambil keputusan memperpanjang masa kerja setelah tim teknis, tim probity audit Inspektorat, serta tim Kejaksaan Tinggi NTB melakukan evaluasi terhadap berbagai kendala yang menghambat progres proyek.

“Penambahan waktu pelaksanaan merupakan mekanisme yang sudah ada dalam regulasi. Keputusan ini kami ambil setelah melalui evaluasi menyeluruh terhadap kondisi di lapangan,” ujarnya.

IKLAN

Fathur mengungkapkan, salah satu jangkar utama yang membuat proyek ini molor adalah adanya perubahan ruang lingkup pengerjaan lewat Contract Change Order (CCO). Perubahan ini otomatis memaksa pekerja melakukan penyesuaian ulang terhadap desain struktur maupun arsitektur bangunan di tengah jalan.

Selain masalah administrasi teknis, faktor alam juga menjadi biang keladi mandeknya aktivitas pekerja. Berdasarkan data resmi dari BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin Bima, cuaca ekstrem menghentikan pengerjaan fisik selama ratusan hari.

“Selama periode Oktober 2025 hingga April 2026 tercatat sebanyak 101 hari hujan yang menghambat aktivitas pekerjaan di lapangan,” ungkap Fathurrahman.

IKLAN

Akses Terhambat Material Sisa dan Libur Panjang

Sejak awal, proyek ini sebenarnya sudah terseok-seok akibat masalah aksesibilitas. 

Pekerja kesulitan masuk ke lokasi karena area tersebut masih tertutup oleh tumpukan material sisa dari proyek pembangunan RSUD sebelumnya.

Macetnya mobilisasi alat berat semakin memperparah siyuasi. Kendaraan logistik proyek harus saling berebut jalur akses sempit secara bersamaan dengan aktivitas konstruksi lain yang juga tengah berjalan di kawasan rumah sakit tersebut.

Ritme pengerjaan kembali terputus lantaran adanya serangkaian hari libur nasional serta cuti bersama Hari Raya Idulfitri dan Iduladha yang membuat seluruh aktivitas di area konstruksi mati total untuk sementara waktu. 

Faktor makroekonomi global yang memicu lonjakan biaya logistik dan operasional pun ikut memukul kelancaran proyek ini.

Klaim Jamin Kualitas Pelayanan KJSU

Meski penyelesaiannya molor dari target awal, Pemerintah Kota Bima berdalih bahwa kelonggaran waktu pengerjaan ini krusial demi menjaga kualitas bangunan agar tidak asal-asalan. 

Pasalnya, gedung baru ini terproyeksi untuk menopang layanan medis berat. Seperti layanan Kanker, Jantung, Stroke, dan Uronefrologi (KJSU) dalam rangka peningkatan kelas rumah sakit.

“Seluruh kendala tersebut telah terdokumentasi dan terverifikasi sebagai dasar pertimbangan dalam pemberian penambahan waktu pelaksanaan. Tujuannya bukan untuk mengurangi kualitas pekerjaan, tetapi justru memastikan pembangunan gedung rawat inap dapat selesai dengan optimal,” kilah Fathur.

Pernyataan Dinas Kesehatan

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bima, Ahmad menegaskan, proses migrasi pelayanan akan mulai digulirkan pada bulan Juli atau Agustus mendatang secara bertahap.

“Kira-kira itu sambil menunggu proses penyelesaian ranap (rawat inap). Sekitar mungkin Juli atau Agustus itu sudah mulai berproses untuk pindahnya kan,” ujarnya.

Ia menyatakan, pemerintah berkomitmen penuh menjaga agar agenda migrasi ini tetap berada di dalam garis waktu (timeline) yang sudah matang.

“Rencananya seperti itu ya, nanti tinggal sekarang kami akan melakukan koordinasi dan komunikasi dengan pihak kementerian terkait dengan ini,” tuturnya.

Pemkot Bima berjanji akan memperketat pengawasan di sisa waktu pengerjaan ini agar proyek tidak kembali melar, sehingga fasilitas kesehatan tersebut masyarakat manfaatkan segera. (*)

Artikel Terkait