Sumbawa

Sentuh Akar Perundungan, Dinas Dikbud Sumbawa Libatkan Orang Tua Lewat Gerakan Emosional Hardiknas

Sumbawa Besar (NTBSatu) – Upaya menekan kasus perundungan di sekolah mulai digeser ke pendekatan yang lebih menyentuh relasi keluarga. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sumbawa akan meluncurkan gerakan “Bersama Ayah/Ibu Kami Terlindungi” sebagai tema utama Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, berangkat dari temuan data sosiometri siswa yang menunjukkan adanya tekanan sosial di lingkungan pelajar.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa, Budi Sastrawan mengatakan, penanganan persoalan perundungan tidak cukup dengan aturan dan sanksi semata. Melainkan, perlu menyentuh kedekatan emosional antara anak dan orang tua.

“Kita ingin mengubah cara pandang. Penanganan anak tidak bisa hanya administratif, tetapi harus menyentuh hati dan hubungan di dalam keluarga,” ujar Budi, Senin, 27 April 2026.

Gerakan ini akan mulai pada 29 April melalui Festival Permainan Rakyat, yang mempertemukan orang tua dan anak dalam satu ruang interaksi. Permainan tradisional, seperti Balogo dan Hadang dipilih sebagai medium membangun kembali komunikasi yang selama ini renggang.

“Kearifan lokal itu sederhana, tetapi punya kekuatan besar untuk mendekatkan. Di situlah komunikasi yang jujur bisa tumbuh,” katanya.

Sehari setelahnya, pendekatan yang lebih personal melalui program “Satu Jam Bersama Ayah/Ibu di Sekolah”. Dalam sesi ini, siswa diberi ruang privat untuk berbicara langsung dengan orang tua tanpa campur tangan pihak lain.

“Anak-anak butuh didengar, bukan dihakimi. Orang tua harus hadir sebagai pelindung pertama, bukan terakhir,” tegasnya.

Jaga Anak adalah Tanggung Jawab Bersama

Puncak kegiatan akan berlangsung pada malam hari melalui prosesi “Malam Seribu Cahaya”, sebagai momen refleksi bersama antara orang tua, guru, dan masyarakat. “Ini bukan sekadar simbolik. Ini cara kita mengetuk kesadaran menjaga anak adalah tanggung jawab bersama,” ungkapnya.

Ia menilai, keterlibatan keluarga menjadi kunci dalam memutus rantai perundungan yang sering kali berakar dari persoalan komunikasi dan pengabaian emosional. “Kalau anak merasa aman di rumah, dia akan lebih kuat menghadapi tekanan di luar,” tambahnya.

Penutupan seluruh rangkaian kegiatan akan berlangsung pada 2 Mei dengan upacara peringatan Hardiknas serentak di sekolah-sekolah. Harapannya, momentum ini menjadi titik balik dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih manusiawi.

“Kita tidak hanya ingin mencetak siswa berprestasi, tetapi juga memastikan mereka tumbuh dengan rasa aman, dihargai, dan dilindungi,” tutupnya. (Marwah)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button