Pariwisata Lesu di Awal 2026, Dispar Hadirkan “Mataram Friday Relax”
Mataram (NTBSatu) – Sektor pariwisata di Kota Mataram menghadapi tantangan cukup berat di awal 2026. Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram, Cahya Samudra mengakui, adanya penurunan jumlah kunjungan tamu yang dirasakan oleh para pengusaha hotel.
Menurut Cahya, kondisi ini akibat beberapa faktor makro yang saling berkaitan. Selain siklus tahunan di mana awal tahun cenderung sepi (low season), lonjakan biaya transportasi udara menjadi hambatan utama.
“Memang di awal-awal tahun biasanya seperti itu. Apalagi sekarang, dengan kondisi biaya avtur meningkat yang berdampak pada tiket pesawat,” ujar Cahya, Jumat, 24 April 2026.
Selain faktor biaya perjalanan, kebijakan efisiensi anggaran di tingkat Pemerintah Pusat maupun daerah juga turut andil. Pengurangan intensitas kegiatan berskala nasional, seperti seminar dan rapat koordinasi di hotel-hotel (MICE) sangat terasa dampaknya bagi okupansi hunian di Mataram.
Menyikapi kelesuan tersebut, Pemerintah Kota Mataram tidak tinggal diam. Cahya menjelaskan, pihaknya tengah memaksimalkan potensi destinasi lokal dan memperbanyak aktivasi kegiatan untuk menarik minat pengunjung.
Salah satu inovasi yang diluncurkan adalah kolaborasi dengan Bank NTB Syariah melalui program bertajuk “Mataram Friday Relax”. Acara ini akan berlangsung rutin di Teras Udayana setiap hari Jumat, dua minggu sekali.
“Itulah upaya-upaya kita untuk membuat destinasi-destinasi menjadi maksimal untuk dikunjungi,” tambahnya.
Meski saat ini angka kunjungan sedang mengalami penurunan akibat berkurangnya festival dan pagelaran musik dari tahun sebelumnya, Dinas Pariwisata Kota Mataram tetap mematok target yang optimistis untuk sepanjang 2026.
Cahya menyebutkan, target total kunjungan wisatawan baik dari objek wisata maupun destinasi unggulan lainnya pada angka 300.000 orang. Saat ini, mayoritas pergerakan wisatawan masih berasal dari wisatawan lokal.
“Target kita itu dalam setahun di angka 300.000, itu dari seluruh objek dan destinasi,” jelasnya. (*)



