Car Free Night Kota Tua Ampenan Terkendala Jalur Logistik Pertamina
Mataram (NTBSatu) – Rencana Pemerintah Kota Mataram untuk menghidupkan kembali kawasan bersejarah Kota Tua Ampenan melalui program Car Free Night (CFN), menghadapi tantangan besar di lapangan.
Jalur utama yang direncanakan sebagai pusat kegiatan, yakni Jalan Pabean hingga saat ini masih menjadi rute vital bagi distribusi logistik energi nasional.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, Cahya Samudra, mengungkapkan, keberadaan pangkalan Pertamina di kawasan tersebut merupakan faktor krusial yang harus dipertimbangkan secara matang dalam penyusunan Prosedur Standar Operasional (SOP).
Masalah utamanya, terletak pada intensitas jadwal ritasi kendaraan tangki BBM yang melintasi Jalan Pabean hingga malam hari.
Kondisi ini menciptakan dilema antara kebutuhan ruang publik untuk pengembangan pariwisata dan jaminan kelancaran distribusi bahan bakar.
“Jadwal ritase kendaraan Pertamina ini menjadi salah satu kendala utama. Kita tidak bisa menghalangi jalur tersebut. Jika dipaksakan untuk kegiatan CFN tanpa solusi jalur alternatif, situasinya bisa cukup berbahaya bagi keselamatan pengunjung,” tegas Cahya Samudra, Rabu, 7 Januari 2026.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah kini tengah mengkaji opsi pengalihan arus ke Jalan Niaga guna meminimalisir risiko kecelakaan.
Tanggapan Pokdarwis
Menanggapi kendala teknis tersebut, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ampenan, Taufan mengatakan, program ini tidak boleh berhenti hanya karena masalah logistik.
Ia mendesak, agar eksekusi program tetap dilakukan demi menyelamatkan marwah Kota Tua sebagai destinasi wisata unggulan di Ibu Kota NTB.
Menurut Taufan, pemerintah harus mampu mencari “jalan tengah” yang progresif agar kepentingan industri dan pariwisata bisa berjalan beriringan.
Ia menilai, kehadiran Car Free Night Kota Tua Ampenan adalah stimulus bagi para pelaku UMKM dan masyarakat lokal. Program ini dipandang sebagai solusi agar aktivitas ekonomi di Jalan Pabean tidak “mati suri” setelah matahari terbenam.
Selain itu, bangunan kolonial di sepanjang jalur tersebut dapat bertransformasi menjadi pusat kuliner dan kriya. Dengan harapan mampu menyedot kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara pada malam hari.
“Harapannya memang ini bisa segera dieksekusi karena tujuannya mulia. Yaitu menghidupkan kembali denyut ekonomi di bangunan-bangunan tua yang selama ini banyak tertutup,” jelas Taufan. (*)



