Ramadan Picu Parkir Dadakan, DPRD Kota Mataram Soroti Potensi Kebocoran PAD
Mataram (NTBSatu) – Meningkatnya aktivitas masyarakat selama Ramadan, memicu munculnya parkir dadakan di sejumlah titik keramaian Kota Mataram. Fenomena ini berpotensi memicu kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor parkir.
Anggota Komisi II DPRD Kota Mataram, I Gusti Bagus Hari Sudana Putra menyoroti maraknya juru parkir dadakan yang muncul di berbagai titik keramaian selama Ramadan. Legislator yang akrab disapa Gus Arik itu menilai, persoalan kebocoran pendapatan dari sektor parkir sebenarnya sudah lama terjadi.
“Masalah kebocoran itu sudah sedari dulu. Sudah bocor dan merembes, istilah kerennya,” ujarnya, Rabu, 11 Maret 2026.
Politisi Partai Demokrat tersebut mengatakan, kebocoran tersebut sering kali tidak jelas arahnya. Padahal sektor parkir selama ini menjadi salah satu sumber pendapatan yang cukup pemerintah daerah andalkan.
“Merembes ke mana-mana dan tidak jelas arahnya,” katanya.
Menurut legislator daerah pemilihan Kecamatan Cakranegara itu, fenomena parkir dadakan semakin terlihat pada momentum Ramadan. Di sejumlah kawasan yang penuh dengan pedagang takjil, toko sepatu, toko baju, juru parkir dadakan bermunculan hampir di setiap titik keramaian.
“Apalagi sekarang di bulan puasa ini, coba kita lihat di beberapa tempat keramaian orang berjualan. Tukang parkir dadakan bermunculan bagai tengkong di musim hujan,” ujarnya.
Pertanyakan Pengawasan Dinas Perhubungan
Karena itu, ia mempertanyakan sejauh mana pengawasan Dinas Perhubungan Kota Mataram. “Ini kenyataan. Lantas mau dibagaimanakan?,” katanya.
Ia juga mempertanyakan, apakah Dinas Perhubungan Kota Mataram mengetahui fenomena tersebut atau justru seolah tidak mengetahuinya. Menurutnya, petugas di lapangan semestinya dapat membaca situasi yang terjadi di pusat-pusat keramaian masyarakat.
“Apakah dinas terkait dalam hal ini dinas perhubungan tahu akan hal itu atau bahkan pura-pura tidak tahu atau tidak mau tahu?,” ujarnya.
Sebagai instansi teknis yang menangani urusan perparkiran, lanjutnya, dinas perhubungan seharusnya memiliki pemetaan terhadap potensi parkir yang muncul, termasuk parkir dadakan di kawasan perdagangan musiman seperti pasar takjil.
“Sebagai orang lapangan mestinya mereka tahu dan harus bersikap bagaimana,” kata Gus Arik.
Ia mengingatkan, pemerintah daerah selama ini menaruh harapan besar pada sektor parkir sebagai salah satu sumber PAD. Karena itu, pengelolaan dan pengawasan parkir perlu secara serius agar potensi pendapatan tidak hilang begitu saja.
Di sisi lain, Dinas Perhubungan Kota Mataram menilai fenomena parkir dadakan yang muncul selama Ramadan juga menjadi perhatian agar potensi penerimaan daerah tidak hilang.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Mataram, Zulkarwin mengakui momentum Ramadan memang memicu lonjakan kendaraan, terutama menjelang waktu berbuka puasa. Namun, peningkatan tersebut tidak stabil sepanjang hari.
“Ramadan ini polanya berubah. Pagi sampai siang itu sepi, bahkan turun drastis. Nanti sore menjelang buka baru menumpuk, malam juga ramai. Jadi tidak bisa dihitung rata,” jelasnya.
Sebagai langkah konkret, ia menginstruksikan seluruh Koordinator Lapangan (Korlap) untuk mengoptimalkan penggunaan QRIS di lapangan. “Saya minta QR Code itu benar-benar dikalungkan ke jukir. Harus aktif ditawarkan ke pengguna parkir,” katanya.
Menurutnya, sistem non-tunai menjadi instrumen penting untuk mencegah kebocoran PAD karena pembayaran langsung masuk ke kas daerah. “Kalau bayar lewat QRIS, uangnya langsung masuk ke rekening kas daerah. Kita bisa pantau secara real-time. Itu yang kita amankan,” ujarnya. (*)



