Pulau Bungin Didorong Jadi Kampung Budidaya Lobster dan Mutiara
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Pengembangan budidaya di Pulau Bungin memasuki tahap penentuan arah. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa dihadapkan dua pilihan strategis, yakni karamba budidaya lobster atau mutiara.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sumbawa, Rahmat Hidayat menyampaikan, hasil komunikasi dengan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya yang mengerucut pada satu aspirasi masyarakat.
“Tadi kami komunikasi langsung dengan Pak Dirjen. Ada dua pilihan, apakah kita dorong dulu karamba budidaya lobster atau mutiara,” ujar Rahmat, Jumat, 27 Februari 2026.
Menurutnya, saat forum dialog berlangsung sebagian besar masyarakat menyuarakan harapan agar budidaya mutiara menjadi prioritas awal. “Jawaban dari masyarakat, sebagian besar berharap mutiara yang didahulukan,” katanya.
Meski aspirasi sudah mengerucut, Rahmat menegaskan, pemerintah daerah tidak mengambil keputusan tergesa-gesa. Pihaknya akan segera melakukan diskusi lanjutan dengan pelaku usaha lokal untuk mematangkan konsep.
“Ini akan kami tindak lanjuti. Hari Senin kami rencanakan diskusi dengan salah satu pelaku usaha mutiara di sini, Haji Andi,” jelasnya.
Ia menambahkan, pembahasan akan fokus pada skema pengelolaan, pola kemitraan, hingga kesiapan teknis masyarakat. “Kami ingin konsepnya jelas. Seperti apa model budidayanya, bagaimana pola kemitraannya, supaya benar-benar berdampak pada ekonomi warga,” tegas Rahmat.
Ia menilai, pengembangan budidaya di Pulau Bungin sebagai langkah strategis untuk memperkuat ekonomi nelayan yang selama ini masih bertumpu pada perikanan tangkap.
Rahmad menyakini, usaha ini dapat menciptakan nilai tambah dan stabilitas pendapatan. “Kalau budidaya ini berjalan baik, tentu akan meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan nelayan,” imbuhnya.
Pilihan antara lobster dan mutiara bukan sekadar soal komoditas, melainkan penentuan arah investasi jangka panjang pesisir Sumbawa. Dengan dukungan pemerintah pusat dan kesiapan pelaku usaha lokal, Pulau Bungin berpeluang naik kelas menjadi sentra budidaya bernilai ekspor. (Marwah)



