ADVERTORIALPendidikan

Ketekunan yang Tak Pernah Bising, dari Ruang Kelas Sederhana Menuju Lektor Kepala

Di sebuah kampus yang tumbuh dari tenunan cahaya sang pendiri, Alm. H. Sudirman Ismail, M.Si., yang berdiri di timur Nusantara, sejarah itu tidak lahir dari gegap gempita. Ia tumbuh perlahan, dari ruang-ruang kelas yang sederhana yang dipenuhi naskah artikel, dari layar laptop yang menyala hingga larut malam.

———————

Nama itu kini tercatat sebagai Lektor Kepala pertama dengan kualifikasi magister di STKIP Taman Siswa Bima: Assoc. Prof. Adi Apriadi Adiansha, M.Pd.

Bagi sebagian orang, jabatan akademik adalah hasil dari gelar panjang yang tersemat di belakang nama. Namun bagi Adi Apriadi A., ia adalah akumulasi dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari. Membaca lebih lama, menulis lebih tekun, memperbaiki naskah lebih sabar, dan tidak pernah merasa cukup dengan capaian kemarin.

Bertumbuh dari Kampus Sendiri

Ia bukan datang dari luar. Ia tumbuh dari rahim kampusnya sendiri. Lulusan angkatan kelima Program Studi Pendidikan Matematika, ia menyelesaikan studi S1 di tempat yang sama yang kelak akan mencatat namanya dalam sejarah institusi.

Sebagai mahasiswa, ia tidak dikenal sebagai sosok yang gemar menonjolkan diri. Namun ia memiliki kebiasaan yang kelak menjadi fondasi: disiplin pada proses. Ia mengerjakan tugas lebih awal, membaca referensi tambahan, dan membiasakan diri berdiskusi tentang hal-hal yang sering luput dari perhatian teman seangkatannya.

Keputusan melanjutkan studi magister membawanya ke Universitas Negeri Jakarta, pada Program Studi Pendidikan Dasar. Di sana, ia berhadapan dengan atmosfer akademik yang lebih kompetitif. Ia belajar bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Dunia akademik menuntut daya tahan. Ketahanan membaca puluhan jurnal, ketahanan merevisi naskah berkali-kali. Ketahanan menghadapi penolakan publikasi.

Sepulangnya, ia tidak membawa gelar sebagai simbol prestise. Ia membawa ritme kerja baru.

Produktivitas yang Tidak Putus

Sejak 2019, langkahnya memasuki fase yang lebih terukur. Tahun demi tahun, ia terlibat dalam berbagai hibah penelitian dari Kementerian. Skema demi skema, PDP, PDKN, hingga PF, bukan sekadar proyek administrative. Melainkan ruang pembuktian bahwa dosen dari daerah pun mampu bersaing di panggung nasional.

Konsistensi itu tidak berhenti pada satu atau dua periode. Dari 2019 hingga 2026, namanya terus muncul sebagai penerima pendanaan. Tahun 2025 bahkan menjadi titik lonjakan: hibah Elearning, PPTS, ULD, hingga SPADA berhasil diraih dalam waktu yang berdekatan.

Di balik deretan capaian tersebut, ada pola yang sederhana namun jarang dipertahankan banyak orang. Ia tidak pernah berhenti menulis. Artikel demi artikel lahir, dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Ia juga mengambil peran sebagai pengelola jurnal nasional. Pekerjaan yang menuntut ketelitian, kesabaran, dan integritas akademik.

Tak hanya itu, ia dipercaya menjadi reviewer untuk jurnal internasional bereputasi Scopus Q2. Sebuah peran yang menuntut ketajaman analisis sekaligus kejujuran ilmiah. Di meja kerjanya, naskah-naskah dari berbagai penjuru dunia pernah singgah untuk dinilai.

Semua itu bermuara pada satu angka yang sulit diabaikan. Skor SINTA 1.104, tertinggi di kampusnya. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah rekam jejak konsistensi.

Menembus Batas yang Dianggap Pakem

Di banyak perguruan tinggi, jabatan Lektor Kepala identik dengan gelar doktor. Jalurnya panjang dan ketat. Namun regulasi memberi ruang bagi mereka yang memiliki produktivitas luar biasa untuk menapaki jenjang tersebut meski masih bergelar magister.

Tahun 2025, ruang itu ia isi dengan kerja nyata.

Ketika SK Lektor Kepala itu terbit, ia tidak sedang berada di panggung besar. Ia berada di ruang yang sama tempat ia biasa menyunting artikel. Tidak ada selebrasi berlebihan. Yang ada hanya senyum tipis, lebih sebagai rasa syukur daripada kebanggaan.

Menjadi Lektor Kepala dengan status S2 bukanlah tentang melompati proses. Justru sebaliknya, ia membuktikan bahwa proses yang dijalani dengan konsisten dapat memampatkan jarak yang tampak jauh.

Mengakar pada Dunia Guru

Di sela aktivitas akademiknya, ia juga pernah terlibat sebagai Pengajar Praktik dan Fasilitator bagi guru. Pengalaman itu membawanya kembali ke esensi pendidikan: ruang kelas dan manusia di dalamnya.

Baginya, penelitian bukan sekadar publikasi. Ia harus menyentuh praktik. Ia harus menjawab kebutuhan guru. Ia harus memberi dampak pada pembelajaran nyata.

Di titik ini, karier akademiknya tidak berdiri sebagai menara gading. Ia tetap terhubung dengan lapangan.

Tentang Rajin yang Kerap Diremehkan

Banyak orang mengira keberhasilan ditentukan oleh bakat luar biasa atau latar belakang yang istimewa. Namun perjalanan Adi Apriadi menunjukkan pola yang berbeda.

Ia bukan datang dengan privilege besar. Ia tidak melonjak karena sensasi. Ia bergerak karena kebiasaan.

Ada keyakinan yang ia hidupi tanpa banyak ia ucapkan: bahwa yang mengalahkan orang kaya bukanlah yang lebih kaya. Yang mengalahkan orang pintar bukanlah yang lebih pintar. Yang sering kali bertahan hingga garis akhir adalah mereka yang rajin. Yang tekun memperbaiki diri, konsisten melangkah, dan tidak cepat lelah ketika hasil belum terlihat.

Kekayaan bisa berkurang. Kepintaran bisa tertinggal oleh perkembangan zaman. Tetapi kebiasaan bekerja keras, membaca setiap hari, menulis setiap pekan, memperbaiki setiap kesalahan. Itulah yang perlahan membangun fondasi yang tak mudah runtuh.

Skor SINTA, hibah beruntun, peran reviewer internasional, hingga jabatan Lektor Kepala hanyalah konsekuensi logis dari disiplin panjang itu.

Sebuah Pesan yang Tidak Bising

Kisah ini bukan sekadar tentang satu nama. Ia adalah cermin bagi banyak dosen muda, mahasiswa, bahkan siapa pun yang merasa berada jauh dari pusat.

Bahwa ruang geografis bukan alasan untuk stagnan. Bahwa gelar bukan satu-satunya ukuran daya saing. Bahwa kerja yang dilakukan diam-diam, bila konsisten, akan menemukan waktunya sendiri untuk diakui.

Di kampus tempat ia dulu duduk sebagai mahasiswa angkatan kelima, kini namanya menjadi rujukan. Bukan semata karena jabatan, melainkan karena jejak yang ditinggalkan.

Dan mungkin, di suatu pagi yang sunyi, ketika ia kembali membuka naskah baru untuk direvisi, sejarah berikutnya sedang disiapkan. Lagi-lagi tanpa suara keras, tanpa tepuk tangan panjang. Hanya dengan satu kebiasaan yang terus ia rawat. Rajin. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button