MHA Desak Pemkab Loteng Evaluasi Tata Ruang dan Drainase di Kuta Mandalika Akibat Banjir Berulang
Mataram (NTBSatu) – Mandalika Hotel Association (MHA) mendesak Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah (Pemkab Loteng), untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase dan tata ruang di kawasan Kuta Mandalika.
Langkah ini dinilai sangat mendesak, guna menjaga kepercayaan pasar internasional di tengah infrastruktur yang rentan saat musim hujan tiba.
Ketua MHA, Samsul Bahri, S.Adm, M.Tr.Par., mengungkapkan, kejadian yang sudah berulang kali terjadi ini, membutuhkan solusi permanen dengan segera.
“Pariwisata sangat sensitif terhadap isu keselamatan dan aksesibilitas. Sekali citra terganggu, proses pemulihannya tidak mudah dan membutuhkan waktu lama. Jika kejadian serupa terus berulang tanpa solusi permanen, maka dampaknya terhadap kepercayaan pasar internasional akan sangat nyata,” katanya kepada NTBSatu, Rabu, 25 Februari 2026.
Samsul juga melihat, percepatan pembangunan di area perbukitan Kuta diduga tidak mendapatkan pengawasan teknis yang ketat.
Perubahan kontur tanah tanpa manajemen drainase dan konservasi yang disiplin, telah mengakibatkan aliran lumpur turun ke area jalan dan lokasi usaha pariwisata di bagian hilir.
Menurut Samsul, masalah ini bukan sekadar sumsi belaka, tetapi pola berulang yang bisa dianalisis secara hidrologis. Ia meminta pemerintah lebih fokus pada daya dukung lingkungan.
‘’Pertanyaannya bukan pada pembangunan itu sendiri. Tetapi pada kontrol dan pengawasannya. Jika kajian lingkungan tidak ditegakkan secara disiplin, maka pelaku usaha di hilir yang akan menanggung dampaknya,’’ lanjutnya.
Ancaman Branding Wisata
Lebih lanjut, Samsul membahas narasi tentang Quality & Sustainable Tourism yang selama ini dikampanyekan harus sejalan dengan praktik di lapangan.
Ia menilai, kredibilitas branding Mandalika tidak akan rusak di mata wisatawan jika lebih memperhatikan pengendalian pembangunan di bukit dan sistem tata air.
Hingga saat ini, pembatalan reservasi secara signifikan belum terjadi. Namun, Samsul tetap khawatir dengan turunnya minat investor, jika masalah yang sama terus berulang setiap musim hujan.
Limitasi Mitigasi Mandiri
Samsul juga menilai, jika para pelaku usaha perhotelan di Kuta Mandalika sudah melakukan langkah mandiri dalam mitigasi bencana. Seperti dengan membuat sumur resapan tambahan, hingga pembersihan pasca hujan.
“Permasalahan tata air kawasan berskala makro tidak dapat diselesaikan hanya di level usaha. Diperlukan kebijakan struktural dan pengawasan terpadu,” katanya.
Oleh karena itu, Samsul meminta agar pemerintah daerah segera melakukan evaluasi, perbaikan infrastruktur, dan mengintegrasikan sistem drainase dari hulu ke hilir.
“Kami berharap kejadian ini menjadi titik evaluasi serius, demi keberlanjutan pariwisata Lombok ke depan,” tegasnya. (Inda)



