Lombok Tengah

Jembatan Serage Loteng Putus, Aktivitas Tambang Ilegal Diduga Perparah Dampak Cuaca Ekstrem

Lombok Tengah (NTBSatu) – Cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), pada Rabu petang, 8 April 2026, mengakibatkan jembatan putus di Kecamatan Praya Barat Daya.

Selain kondisi cuaca ekstrem, aktivitas penambangan liar di Desa Serage diduga kuat sebagai pemicu utama yang memperparah kerusakan lingkungan hingga memicu longsoran dan banjir.

IKLAN

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Loteng, Ridwan Ma’ruf meminta masyarakat agar tetap waspada dengan bencana hidrometeorologi.

“Masyarakat perlu mewaspadai adanya potensi bencana hidrometeorologi, seperti hujan lebat disertai angin kencang yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan bersifat lokal. Banjir dan tanah longsor,” katanya kepada NTBSatu, Kamis, 9 April 2026.

Dari laporan BPBD, bencana terjadi sekitar pukul 17.00 Wita dan berdampak ganda di dua titik utama. Di Desa Serage, tanah longsor mengakibatkan jembatan putus. Sedangkan di Desa Kabul, 14 Kepala Keluarga (KK) terdampak.

Anomali Banjir dan Kerusakan Lingkungan

Kejadian ini menjadi sorotan tajam masyarakat setempat. Pasalnya, wilayah tersebut sebelumnya jarang mengalami banjir, apalagi hingga memutus akses transportasi.

Aktivitas tambang di Desa Serage disinyalir telah merusak topografi dan vegetasi pelindung tanah. Sehingga saat terguyur hujan lebat, tanah kehilangan daya ikat dan air langsung menghantam fasilitas umum dan permukiman.

Akibat penambangan tanpa izin, pada kondisi tanah yang jenuh air mengakibatkan lereng di sekitar lokasi jembatan menjadi tidak stabil. Longsoran material tambang disinyalir turut terbawa arus dan menambah tekanan pada pondasi jembatan hingga mengalami ambruk.

Data Dampak dan Penanganan Darurat

Berdasarkan data sementara BPBD Kabupaten Lombok Tengah, tidak ada korban jiwa, luka-luka, atau hilang dalam bencana tersebut. Namun, kerugian materiil fokus pada fasilitas umum dan pemukiman warga.

Satu unit jembatan di Desa Serage putus total, sedangkan di Desa Kabul sebanyak 14 KK harus menghadapi dampak langsung dari genangan banjir. Sampai saat ini, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Lombok Tengah bersama personel TNI/POLRI dan warga setempat masih berada di lapangan melakukan asesmen mendesak.

Imbauan Masa Peralihan Musim

Berdasarkan informasi dari BMKG, sebagian besar wilayah Lombok Tengah telah memasuki puncak musim hujan 2026. BMKG mengimbau masyarakat untuk terus waspada terutama pada masa peralihan cuaca.

Di sisi lain, penegakan hukum untuk aktivitas tambang ilegal ini masih menjadi tuntutan mendesak. Upaya perbaikan di masa mendatang dikhawatirkan sia-sia karena dihantui risiko yang kian parah. (Inda)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button