ADVERTORIALLingkungan

NTB Ubah Sampah Jadi Energi, Siapkan PLTSa dan Biogas Lindi Pertama di Indonesia

Mataram (NTBSatu) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), terus mematangkan langkah strategis dalam menangani persoalan sampah melalui transisi menuju energi terbarukan. Transformasi ini ntuk mengubah pola lama pengelolaan sampah dari sistem “kumpul-angkut-buang”, menjadi sistem yang mampu menghasilkan energi listrik dan biogas.

Kepala Seksi Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat UPTD TPA Sampah Regional Provinsi NTB, Agusfian Trima Putra, S.T., mengatakan perubahan paradigma tersebut saat menghadiri Lokakarya Arah Kebijakan Energi Nasional dan Penguatan RUED NTB, Selasa, 24 Februari 2026.

“Kami ingin mengubah cara pandang terhadap sampah. Selama ini hanya dikumpulkan, diangkut, lalu dibuang. Ke depan, sampah harus punya nilai tambah, salah satunya menjadi energi listrik dan biogas,” ujar Agusfian.

Ia menekankan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada kolaborasi multipihak. “Pengelolaan sampah tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah. Perlu keterlibatan masyarakat, komunitas, dan sektor swasta agar langkah teknis yang dirumuskan benar-benar efektif dan berkelanjutan,” katanya.

Transformasi Sampah Menjadi Listrik (PLTSa)

Salah satu program prioritas yang tengah pemerintah daerah siapkan adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di sektor hilir. “Kami mendorong pembangunan PLTSa sebagai solusi konkret. Mekanismenya, sampah akan dikonversi menjadi energi listrik dan nantinya diserap oleh PLN sebagai off-taker,” jelasnya.

Menurut Agusfian, rencana ini juga melalui regulasi terbaru dari Pemerintah Pusat. “Kami melihat peluang besar dari Perpres Nomor 109 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan infrastruktur energi terbarukan. Ini menjadi payung hukum yang penting bagi daerah untuk bergerak lebih cepat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pemerintah daerah saat ini tengah menyiapkan komitmen dan perencanaan jangka panjang. “Kami sedang menyusun langkah strategis dan membuka ruang partisipasi dari berbagai komunitas agar program ini matang secara teknis maupun sosial,” katanya.

Selain PLTSa, NTB juga mengembangkan teknologi biogas melalui program Biomiru (Biogas Mini Rumahan). “Program Biomiru sudah berjalan dan memanfaatkan limbah dapur serta kotoran hewan untuk kebutuhan energi skala rumah tangga. Ini bukti energi terbarukan bisa mulai dari level paling kecil,” ujar Agusfian.

Gandeng Universitas Mataram

Inovasi terbaru yang tengah pemerintah daerah siapkan adalah pengolahan air lindi, cairan hasil timbunan sampah menjadi biogas. “Informasi dari Yayasan Rumah Energi ini, menyebutkan NTB akan menjadi daerah pertama yang melakukan uji coba pengolahan lindi menjadi biogas. Ini tentu menjadi kebanggaan sekaligus tantangan bagi kami,” katanya.

Untuk mendukung rencana tersebut, pihaknya telah menggandeng Universitas Mataram. “Kami bekerja sama dengan Universitas Mataram untuk mengkaji karakteristik konsentrasi Chemical Oxygen Demand (COD) pada lindi. Dari situ akan diketahui potensi optimal menghasilkan gas metana,” jelasnya.

Sebagai tindak lanjut, Bappenas melalui program Low Carbon Development Initiative (LCDI) akan meninjau lokasi TPA Regional. “Besok ini, ada kunjungan dari Bappenas untuk melihat langsung lokasi dan menentukan titik pembangunan pilot project,” ungkap Agusfian.

Ia memastikan, pemerintah provinsi telah menyiapkan lahan untuk mendukung proyek tersebut. “Kami sudah menyiapkan lahan kurang lebih dua are untuk pembangunan proyek percontohan. Harapannya, ini menjadi langkah awal transformasi pengelolaan sampah berbasis energi di NTB,” tambahnya. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button