OpiniWARGA

Momentum Muhasabah Kebijakan Daerah: Refleksi Kecil dari NTB

Transformasi Struktural

Apa yang terjadi di NTB merupakan gambaran dari begitu berjaraknya antara harapan dengan kenyataan. Antara komitmen kebijakan dan realitas ekonomi keseharian. Jarak yang begitu jauh itu perlu dipahami sebagai sinyal evaluasi, bukan sekadar fluktuasi musiman apalagi data statistik semata.

Dalam teori ekonomi regional, selisih dua hingga tiga persen pertumbuhan bukan persoalan sepele. Itu berarti perbedaan dalam penciptaan lapangan kerja, dalam percepatan peningkatan pendapatan per kapita, dalam kemampuan menarik investasi baru, dan dalam laju pengurangan kemiskinan.

Sebagian pihak mengaitkan perlambatan ini dengan high base effect akibat lonjakan sektor tambang pada tahun sebelumnya. Penjelasan itu masuk akal secara teknis. Namun penjelasan itu juga menunjukkan fakta yang tidak terbantahkan bahwa ekonomi NTB tumbuh dengan ketergantungan yang besar pada sektor tambang. Sementara Industri pengolahan belum sanggup menjadi tulang punggung. Pariwisata berkembang, tetapi integrasinya dengan rantai pasok lokal belum optimal. Nilai tambah yang tercipta sering kali belum sepenuhnya tertinggal apalagi dikelola di dalam daerah.

Dalam literatur ekonomi pembangunan yang saya pelajari, termasuk ketika menempuh studi di University of New England, Australia tahun 1994, ditekankan betul transformasi struktural merupakan kunci pertumbuhan berkelanjutan. Transformasi berarti pergeseran dari ekonomi berbasis komoditas mentah menuju ekonomi berbasis nilai tambah dan produktivitas. Tanpa transformasi struktural, daerah akan terus bergerak dalam siklus naik-turun yang ditentukan oleh harga komoditas global. Itulah yang berapa dekade terakhir ini terjadi di NTB.

Beberapa provinsi lain menunjukkan bahwa transformasi struktural itu sangat mungkin dilakukan. Kepulauan Riau tumbuh 6,94 persen dengan penguatan industri manufaktur. Papua Barat mencatat 6,46 persen melalui ekspansi industri pengolahan. Bali tumbuh 5,82 persen dengan sektor jasa yang semakin matang. Perbedaan kinerja ini bukan sekadar keberuntungan geografis, melainkan hasil dari pilihan kebijakan yang konsisten.

NTB sebenarnya memiliki modal yang tidak kecil. Sumber daya mineral, potensi pertanian dan peternakan, kawasan pariwisata kelas dunia, serta bonus demografi adalah fondasi yang kuat. Namun potensi tidak akan berubah menjadi kesejahteraan jika tidak disertai strategi hilirisasi dan diversifikasi ekonomi yang jelas.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button