Politik

Ayam Taliwang hingga Harta Karun 230 Kilogram Emas, Komisi X DPR RI Soroti Besarnya Potensi Sejarah Lombok

Mataram (NTBSatu) – Kunjungan Komisi X DPR RI ke Kota Mataram pada Rabu, 11 Februari 2026, tak hanya membahas pelestarian cagar budaya, tetapi juga menyisakan cerita ringan.

Anggota Komisi X DPR RI, Once Mekel mengaku, selalu menyempatkan menikmati Ayam Taliwang setiap berkunjung ke Lombok. Bahkan, kerap membawanya sebagai oleh-oleh.

Namun di balik selera kulinernya, Once menekankan Lombok memiliki “menu” sejarah yang jauh lebih besar untuk dihidangkan ke dunia.

Dalam kunjungan kebudayaan di Taman Mayura, ia menyebut banyak spot bersejarah di Lombok yang sebenarnya bisa sebagai destinasi wisata berbasis cagar budaya.

“Sejarah-sejarah yang ada di Lombok ini harus dimanfaatkan. Ada tokoh-tokoh penting seperti Alfred Russel Wallace yang pernah hadir di Lombok. Itu bisa dimaksimalkan nilai sejarahnya agar Lombok dikenal sebagai bagian dari sejarah dunia,” ujarnya.

Mantan Vokalis Dewa 19 ini juga menyinggung, sejarah peperangan Bali – Belanda yang peringatannya justru di Belanda. Namun, belum mendapatkan perhatian serupa di daerah asalnya.

Ia memastikan, Komisi X DPR RI akan mencermati alokasi anggaran kebudayaan agar lebih tepat sasaran. Termasuk memastikan kebijakan yang pemerintah ambil melibatkan pelaku budaya, akademisi, serta tenaga ahli bersertifikasi di bidang cagar budaya.

Banyaknya Potensi Sejarah Lombok

Senada dengan itu, Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDIP, Bonnie Triyana mengungkapkan, kunjungan tersebut bertujuan menyerap aspirasi tokoh masyarakat, budayawan, dan sejarawan di Mataram. Ia menyoroti, besarnya warisan Kerajaan Lombok Karangasem yang Belanda rampas dalam dua ekspedisi kolonial pada 1894.

“Dari arsip yang saya lihat, ada 16 peti dari Puri Cakranegara. Kalau dihitung, itu sekitar 230 kilogram emas. Belum termasuk perak, perhiasan, dan keris,” ungkap Bonnie, yang sejak 2010 terlibat dalam tim repatriasi benda milik Indonesia di Belanda.

Sebanyak 335 objek warisan Lombok Karangasem tercatat dalam proses repatriasi, meski tidak semuanya bisa Pemerintah Belanda kembalikan. Salah satu naskah penting yang telah kembali adalah Kitab Negarakertagama.

Bonnie menegaskan, setelah benda-benda itu kembali ke Indonesia, pemerintah harus menyusun mekanisme yang jelas. Apakah akan Pemerintah Pusat kembalikan ke daerah atau menjadi cagar budaya nasional.

“Jangan hanya melihat benda itu sebagai barang bernilai fantastis. Di dalamnya ada muatan pengetahuan yang harus diproduksi lewat riset, agar masyarakat bisa belajar nilai sejarahnya,” tegasnya.

Ia bahkan mencontohkan Lapangan Waterloo di Belgia. Lokasi kekalahan Napoleon, yang hanya memiliki tanda plang sederhana, namun mampu menarik 300 ribu pengunjung per tahun.

Menurutnya, Lombok bisa mengambil pelajaran serupa dengan mengemas sejarah sebagai kekuatan edukasi sekaligus penggerak ekonomi. “Bayangkan kalau Lombok bisa seperti itu. Sejarahnya hidup, ekonominya bergerak,” katanya. (Zani)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button