Petani di Kota Mataram Masih Enggan Ikut Asuransi Usaha Tani
Mataram (NTBSatu) – Dinas Pertanian Kota Mataram membeberkan sejumlah faktor yang membuat petani masih enggan mengikuti Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), meski risiko bencana seperti banjir terus mengancam sektor pertanian.
Kondisi ini kembali mencuat setelah banjir merendam puluhan hektare sawah di Kecamatan Sekarbela akibat hujan ekstrem, pada akhir Januari 2025 lalu.
Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Lalu Jauhari mengatakan, rendahnya minat petani terhadap AUTP bukan tanpa sebab. Salah satu faktor utama berasal dari status kepemilikan lahan petani yang mayoritas hanya sebagai penggarap atau penyewa.
“Banyak petani di Mataram bukan pemilik lahan. Mereka menggarap sawah milik orang lain, sehingga merasa asuransi bukan prioritas,” kata Jauhari, Kamis, 29 Januari 2026.
Selain itu, Jauhari menyebut, petani masih memiliki persepsi asuransi hanya dibutuhkan saat musibah terjadi. Padahal, AUTP justru berfungsi sebagai perlindungan sebelum risiko datang.
“Kesadaran itu belum terbentuk. Petani baru merasa perlu setelah sawahnya kebanjiran atau gagal panen,” ujarnya.
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah minimnya pemahaman manfaat AUTP. Meski pemerintah telah mensubsidi premi hingga 80 persen, banyak petani masih menganggap iuran sebagai beban tambahan.
“Premi AUTP per hektare Rp180 ribu, petani hanya membayar Rp36 ribu. Tapi tetap saja ada yang keberatan karena belum melihat manfaat secara langsung,” jelas Jauhari.
Ia mengakui, pihaknya telah melakukan sosialisasi AUTP sejak beberapa tahun terakhir. Namun, hasilnya belum maksimal karena keterbatasan waktu petani serta pola pikir yang masih mengutamakan kebutuhan jangka pendek.
“Ini pekerjaan yang tidak bisa instan. Mengubah pola pikir butuh proses panjang,” tambahnya.



