Curhat Penuh Penyesalan, Adik Terduga Pelaku Pembunuhan Ungkap Ibunya Sering Kesepian
Cemas Menanti Kabar
Rasa cemas mulai muncul saat Nindi tidak menerima kabar dari sang ibu pada Minggu, 25 Januari 2026. Ia mencoba menghubungi melalui telepon, tetapi tidak memperoleh balasan.
Lalu, Nindi menghubungi kakaknya untuk menanyakan kondisi dan keberadaan ibu karena ponsel sang ibu tidak aktif. Kemudian, keluarga berusaha mencari dan mengurus laporan kehilangan ke Polres bersama kakaknya, yang kini berstatus terduga pelaku.
Dalam benaknya, Nindi hanya membayangkan kemungkinan buruk seperti perampokan atau pencopetan. Ia tidak pernah memikirkan kejadian seperti yang terjadi sekarang.
“Hal-hal terburuk mungkin mikirnya amit-amit ibu dibegal di jalan atau dicopet. Enggak ada kepikiran sama sekali ke sejauh ini,” ungkapnya.
Kemudian, Nindi juga mengaku tidak memiliki firasat buruk terhadap kakaknya. Ia menggambarkan, sosok Bara sebagai pribadi pendiam dan menyebut komunikasi keluarga berjalan baik.
Meski kasus ini membawa ancaman hukum berat, Nindi dan keluarga memilih menyerahkan seluruh proses hukum kepada kepolisian. Ia juga sempat berharap kakaknya dapat hadir pada prosesi pemakaman sang ibu.
Sebagai informasi, peristiwa pembunuhan bermula dari penemuan sosok mayat dalam kondisi hangus terbakar pada Minggu sore, 25 Januari 2026, di tepi jalan raya Dusun Batu Leong, Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat.
Sehari setelahnya, Polda NTB berhasil mengungkap dan menangkap terduga Pelaku bernama Bara Primario yang diduga membunuh ibu kandungnya Yeni Rudi Astuti. Rio ditangkap tim kepolisian di rumahnya di Monjok Baru, Kelurahan Monjok Timur, Kota Mataram pada Senin malam, 26 Januari 2026. (*)



