“Tsunami Kecil” di Bintaro Ampenan
Tak terhitung berapa kali dinding dinding rumah warga Bintaro Ampenan digedor banjir rob. Kali ini tergolong paling parah. Dentuman ombak melebar dan menerjang pemukiman. Rumah dan jalan rusak, warga mengungsi.
———————
Malam di pesisir Bintaro, Kecamatan Ampenan, berubah mencekam saat gelombang laut mulai merangsek ke permukiman warga, Rabu, 21 Januari 2026.
Sejak selepas Magrib, angin kencang dan hujan lebat menyelimuti kawasan pantai. Beberapa jam kemudian, air laut datang dengan kekuatan penuh.
Sekitar pukul 22.00 Wita, gelombang pasang mencapai puncaknya. Air laut bercampur pasir menghantam rumah-rumah warga tanpa ampun.
Suara benturan ombak dan robohnya tembok memecah keheningan malam, memaksa warga bertahan di dalam rumah sambil berharap air segera surut.
“Rasanya seperti tsunami kecil. Angin kencang, hujan lebat, kami tidak berani keluar,” cerita warga Kelurahan Bintaro, H. Surianto, Kamis pagi, 22 Januari 2026.
Surianto menyebut, banjir rob kali ini menjadi yang terparah sepanjang ia tinggal di kawasan tersebut. Arus air merusak perabotan rumah tangga hingga menghancurkan struktur bangunan.
Beberapa rumah tak lagi layak huni. Bersama keluarga, ia mendirikan tenda pengungsian mandiri di dekat rumah sambil membersihkan pasir yang mengendap di dalam bangunan.
Gelombang pasang dan abrasi pantai menyasar Lingkungan Kampung Bugis, Kelurahan Bintaro. Sedikitnya lima hingga enam rumah warga mengalami kerusakan berat hingga hancur. Air laut juga menggenangi permukiman setinggi 30 hingga 50 sentimeter.
Selain merusak rumah warga, gelombang laut memutus aliran listrik PLN, merusak jaringan PDAM sehingga pasokan air bersih terganggu, serta merusak sejumlah sampan nelayan dari kategori ringan hingga berat.
Siaga dan Percepat Penanganan
Tak lama setelah kejadian, Pemerintah Kota Mataram bersama BPBD bergerak cepat. Aparatur kelurahan, Babinsa, Destana, kepala lingkungan, dan Linmas langsung turun melakukan penyisiran lokasi, mengamankan warga, serta mendata rumah-rumah terdampak.
Mengantisipasi gelombang susulan, BPBD Kota Mataram bersama warga melakukan langkah darurat dengan memasang karung pasir atau geobag di titik-titik rawan. Geobag dipasang di sepanjang bibir pantai dan di depan rumah warga yang berada paling dekat dengan laut untuk menahan laju air agar tidak kembali masuk ke permukiman.
Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana turut turun langsung ke lokasi terdampak. Ia meninjau rumah warga yang rusak sekaligus memastikan proses penanganan darurat berjalan di lapangan.
Mohan menjelaskan, peningkatan gelombang laut terjadi akibat siklus alam yang bertepatan dengan fase purnama dan fenomena gerhana bulan beberapa hari lalu. Kondisi ini memicu naiknya pasang surut air laut di wilayah pesisir Kota Mataram.
“Saya meminta seluruh perangkat daerah terkait tetap siaga dan mempercepat penanganan, sekaligus mengimbau warga pesisir agar membatasi aktivitas di pantai, terutama pada malam hari, mengingat potensi gelombang susulan masih tinggi,” tutur Mohan.
Sementara itu, Plt Kepala BPBD Kota Mataram, Akhmad Muzaki mengkategorikan kejadian ini sebagai Gelombang Pasang dan Abrasi Pantai. Lokasi terdampak berada di Kampung Bugis, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan.
Menurut Muzaki, hujan lebat disertai angin kencang memicu gelombang pasang setinggi sekitar lima meter. BPBD terus berkoordinasi dengan lurah setempat dan unsur terkait untuk pendataan lanjutan, distribusi bantuan, serta penguatan perlindungan darurat di pesisir.
“Kami upayakan percepatan pemasangan geobag, distribusi selimut, air bersih atau air minum, serta makanan cepat saji. Karena prediksi ketinggian air laut pada malam berikutnya diperkirakan dapat mencapai 2,3 meter,” jelas Muzaki. (*)



