Kota Mataram

Pemkot Mataram Siapkan Proyek Rp8 Miliar Tuntaskan Masalah Sampah

Mataram (NTBSatu) – Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram, mengambil langkah besar dalam menuntaskan persoalan sampah di tingkat hulu.

Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana memastikan pengucuran anggaran khusus untuk memperluas cakupan program “Tempah Dedoro”, sebuah inovasi proyek pengolahan sampah organik berbasis lingkungan yang terbukti mampu mereduksi beban sampah hingga 50 persen.

Mohan mengatakan, penanganan sampah kini tidak bisa lagi hanya mengandalkan hilir. Berdasarkan evaluasi di Lingkungan Marong Karang Tatah, metode “Tempah Dedoro” berhasil memangkas volume sampah harian dari 200 kilogram menjadi hanya 100 kilogram saja. Susut hingga 50 persen.

“Karena efektivitasnya nyata, hampir saya memutuskan agar program ini diperluas ke seluruh Kota Mataram. Kita sudah siapkan anggaran untuk 50 kelurahan sebagai pilot project yang masif,” ujarnya, Selasa, 13 Januari 2026.

IKLAN

Rincian Anggaran: dari Dana Stimulan hingga Skala Kota

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram, Lalu Alwan Basri membedah secara rinci skema pembiayaan yang telah pemerintah susun untuk mendukung visi Wali Kota tersebut. Untuk tahap awal di 2026, pemerintah telah menyiapkan dana stimulan agar setiap wilayah bisa segera bergerak.

Terlebih dahulu, Pemkot Mataram mengalokasikan Rp5 juta untuk setiap kelurahan. Dana ini sebagai pemantik agar setiap kelurahan bisa membangun minimal lima unit “Tempah Dedoro” di lingkungan masing-masing.

Adapun satu unit “Tempah Dedoro” dengan model bangku estetik estimasinya hanya membutuhkan biaya Rp800.000 hingga Rp1.000.000. Biaya ini bahkan bisa lebih murah dengan model flat (rata tanah), jika hanya menggunakan gumbleng saja.

Selain itu, untuk mencakup 325 lingkungan di seluruh Mataram dengan target ideal 25 titik per lingkungan (total sekitar 8.125 unit), Pemkot Mataram memproyeksikan kebutuhan anggaran total mencapai Rp8 Miliar.

Alwan menambahkan, anggaran sebesar Rp8 miliar tersebut tidak hanya akan bertumpu pada APBD semata. Pemerintah sedang menjajaki skema kolaborasi dengan berbagai pihak swasta dan perbankan, melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR).

“Kami menawarkan ini ke pihak perbankan, BUMN, dan BUMD lewat dana CSR mereka. Jika dukungan CSR semakin banyak, maka jangkauan lingkungan yang tercover akan semakin cepat dan luas,” jelas Alwan.

Sebagai bukti keberhasilan, Kelurahan Karang Baru ditetapkan sebagai proyek percontohan (pilot project). Di wilayah ini, partisipasi masyarakat sangat tinggi dengan keberhasilan membangun 25 titik “Tempah Dedoro” secara swadaya.

“Karang Baru akan jadi acuan. Kita targetkan setiap lingkungan di sana memiliki 25 titik. Kita akan lihat efektivitasnya dalam enam bulan ke depan sebelum pola penganggaran ini benar-benar kita sebar secara masif ke seluruh penjuru kota,” tutupnya. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button