Kabupaten Bima

Nestapa Petani Nata Kabupaten Bima: Jagung Terendam, Harapan Terbenam

Bima (NTBSatu) – Sektor pertanian di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), kembali menghadapi tantangan berat akibat cuaca ekstrem. Harapan para petani di Desa Nata, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima, seketika pupus untuk memanen keuntungan tahun ini.

Hujan lebat yang mengguyur wilayah ini tidak hanya menyebabkan genangan, tetapi merendam ribuan kilogram jagung hasil panen yang sedang dijemur petani. Melansir unggahan akun Facebook Bima TV, Senin, 16 Maret 2026, terlihat seorang petani yang sedang menyapu sisa-sisa biji jagung yang bercampur tanah.

IKLAN

“Habis semua, mas. Jagung yang sudah kering harus kena lumpur lagi. Kami cuma bisa pasrah,” katanya yang NTBSatu kutip.

IKLAN

Berdasarkan unggahan video tersebut, terlihat hamparan terpal untuk menjemur tertutup lumpur tipis. Para petani tampak saling membantu menggunakan alat seadanya, untuk memisahkan jagung dengan material sedimen.

IKLAN

Tidak hanya itu, terlihat juga genangan air setinggi mata kaki di beberapa area penjemuran. Kondisi ini memaksa petani harus bekerja ekstra cepat sebelum terjadi pembusukan.

Penurunan kualitas akan menjadi pukulan telak bagi perekonomian warga Desa Nata. Jagung yang bercampur lumpur dan sempat terendam, akan mengalami perubahan warna dan peningkatan kadar air.

Kondisi ini secara langsung bisa menurunkan kualitas kelas dan mutu (grade) jagung baik di mata pengepul, maupun pabrik pakan ternak.

“Kalau sudah begini, harganya pasti jatuh. Padahal biaya pupuk dan tanam kemarin sudah mahal sekali,” ujar warga yang lain.

Hingga Minggu, 15 Maret 2026, upaya pembersihan secara manual masih terus dilakukan. Petani menggunakan air bersih untuk membasuh jagung, sebelum menjemurnya kembali. Namun karena kondisi cuaca yang masih mendung, membuat para petani tetap merasa was-was.

Prediksi Cuaca BMKG

Kejadian yang menimpa petani di Desa Nata sejalan dengan peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dari data terbaru, wilayah NTB memang sedang memasuki puncak musim hujan dengan intensitas yang meningkat karena dinamika atmosfer lokal.

Kondisi Desa Nata menjadi pengingat penting melakukan mitigasi bencana pasca panen. Termasuk, penyediaan tempat penjemuran yang lebih aman dari risiko luapan air dan lumpur. (Inda)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button