Lombok Timur

Menteri Pembangunan Kanada Kunjungi Desa Aik Dewa Lombok Timur, Pantau Program Perlindungan Perempuan dan Anak

Lombok Timur (NTBSatu) – Keberhasilan Desa Aik Dewa, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, dalam menekan praktik pernikahan anak dan sunat perempuan menarik perhatian dunia internasional.

Menteri Negara Bidang Pembangunan Internasional Kanada, Randeep Singh Sarai turun langsung mengunjungi desa tersebut pada Minggu, 11 Januari 2026. Tujuannya, untuk meninjau dampak nyata program BERANI II dari pendanaan Pemerintah Kanada.

Menteri Randeep datang bersama Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Jess Dutton. Serta, delegasi dari tiga badan utama Perserikatan Bangsa-Bangsa, yakni UNFPA, UNICEF, dan UN Women.

Mereka memantau langsung implementasi program Better Sexual and Reproductive Health and Rights for All in Indonesia (BERANI II). Berfokus pada perlindungan perempuan dan anak.

IKLAN

Dalam dialog bersama masyarakat, delegasi menerima paparan capaian yang dinilai progresif. Di tengah angka pernikahan anak nasional yang masih berada di 5,90 persen pada 2024, lima desa di Pulau Lombok, termasuk Desa Aik Dewa, justru mencatat nol kasus pernikahan anak.

Desa ini menurutnya menunjukkan langkah yang sangat krusial. Ketika anak perempuan tetap bersekolah, mereka memiliki peluang ekonomi dan masa depan yang jauh lebih baik.

Program BERANI II menyasar isu-isu sensitif yang selama ini kerap dianggap tabu di masyarakat. Mulai dari kesehatan reproduksi hingga penghapusan Pemotongan atau Perlukaan Genitalia Perempuan (P2GP). Pendekatan berbasis komunitas dinilai berhasil mengubah pola pikir warga secara bertahap.

Capaian Program BERANI II

Direktur LPSDM, Ririn Hayudiani menegaskan, perubahan tersebut lahir dari kesadaran masyarakat akar rumput. Menurutnya, isu kesetaraan gender yang dahulu sering berbenturan dengan adat kini mulai masyarakat terima.

“Cara pandang patriarki perlahan berubah, terutama di lingkup keluarga,” jelasnya, Senin, 12 Januari 2026.

Nendi dari Lembaga Sosial Desa (LSD) juga mengamati transformasi serupa. Ia menilai, kaum ibu kini lebih berani menyuarakan hak dan melawan berbagai bentuk kekerasan, baik fisik maupun ekonomi.

Sepanjang 2024–2025, program BERANI II mencatat sejumlah capaian penting di Lombok Timur. Edukasi kesehatan reproduksi menjangkau 31.800 remaja di sekolah dan pesantren. Angka kematian ibu tercatat 20 kasus hingga 2024, lebih rendah dari rata-rata nasional.

Selain itu, lahir 34 rencana aksi kebijakan, termasuk 19 peraturan tingkat desa dan dusun. Praktik penghapusan sunat perempuan dari Lombok Timur bahkan masuk dalam RPJMN 2025–2029 sebagai standar nasional.

Sementara itu, Kepala Dinas DP3AKB Lombok Timur, dr. Hasbi Santoso menyebut, kunjungan delegasi Kanada juga menjadi bagian dari proses evaluasi keberlanjutan program. Ia menjelaskan, evaluasi resmi akan pemerintah lakukan pada 2026 untuk menentukan apakah BERANI II berlanjut.

“Tahun 2025 merupakan fase akhir tahap kedua. Tahun 2026 menjadi momentum evaluasi untuk mengambil kesimpulan lanjutan program,” kata dr. Hasbi.

Melihat respons positif dari Menteri Kanada, dr. Hasbi berharap dukungan internasional tersebut berlanjut ke tahap berikutnya melalui BERANI III.

“Kami menunggu hasil laporan kunjungan dan masukan para pemangku kepentingan sebelum keputusan diambil,” ujarnya. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button