Tradisi Jelang Lebaran Idulfitri di Lombok, dari Ziarah Makam hingga Begawe
Mataram (NTBSatu) – Menjelang Hari Raya Idulfitri, masyarakat di Pulau Lombok memiliki sejumlah tradisi yang terus dijaga secara turun-temurun. Tradisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan persiapan ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari budaya dan kebersamaan masyarakat.
Sejumlah tradisi ini biasanya mulai terlihat pada hari-hari terakhir bulan Ramadan hingga malam takbiran.
1. Ziarah Makam Keluarga
Salah satu tradisi yang cukup umum masyarakat di Lombok lakukan menjelang Idulfitri adalah ziarah ke makam keluarga. Tradisi ini bertujuan untuk mendoakan orang tua, kerabat, atau leluhur yang telah meninggal dunia.
Biasanya masyarakat datang membawa air atau bunga untuk membersihkan makam. Selain berdoa, kegiatan ini juga menjadi momen refleksi dan pengingat akan kehidupan setelah kematian.
2. Maleman/Dile Ojor
Tradisi ini masih dijalankan di berbagai desa, termasuk di Desa Songak, Lombok Timur. Masyarakat melaksanakan Maleman sebagai pengingat turunnya Al-Qur’an pada bulan Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil yang diyakini sebagai waktu datangnya Lailatul Qadar.
Di Desa Gontoran, Lombok Barat, tradisi Maleman berlangsung pada malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan. Setelah berbuka puasa, warga mematikan lampu listrik di rumah dan menyalakan lampu tradisional alias Dile Maleman atau Dile Jojor.
Lampu yang terbuat dari kapas dan buah jarak itu warga letakkan di sudut rumah dan halaman, lalu mereka biarkan menyala hingga padam dengan sendirinya.
3. Membersihkan Rumah dan Lingkungan
Menjelang Lebaran, masyarakat Lombok juga ramai-ramai membersihkan rumah serta lingkungan sekitar. Kegiatan ini bertujuan agar rumah terlihat rapi dan nyaman saat menerima tamu pada hari raya.
Selain itu, tradisi ini juga melibatkan kerja sama antaranggota keluarga, bahkan terkadang bersama tetangga dalam bentuk gotong royong.
4. Menyiapkan Hidangan Lebaran
Persiapan makanan khas Lebaran juga menjadi bagian penting tradisi masyarakat Lombok. Beberapa hidangan yang umum disiapkan antara lain opor ayam, olah-olah, ketupat, serta berbagai kue kering.
Di sejumlah daerah, masyarakat juga menyiapkan makanan khas lokal seperti ayam taliwang dan plecing kangkung untuk menjamu keluarga dan tamu yang datang bersilaturahmi.
5. Begawe atau Persiapan Bersama
Dalam budaya masyarakat Sasak di Lombok, dikenal pula tradisi begawe, yakni kegiatan bersama dalam mempersiapkan suatu acara. Menjelang Lebaran, begawe bisa berupa memasak bersama, menyiapkan hidangan, atau membantu tetangga yang sedang memiliki hajatan.
Tradisi ini memperlihatkan kuatnya nilai kebersamaan dan solidaritas sosial dalam masyarakat.
6. Malam Takbiran
Puncak suasana menjelang Lebaran biasanya terjadi pada malam takbiran. Masyarakat Lombok mengumandangkan takbir di masjid, musala, maupun di rumah-rumah.
Di beberapa daerah, malam takbiran juga ramai dengan pawai keliling atau kegiatan keagamaan lainnya sebagai bentuk syukur atas berakhirnya bulan Ramadan.
Tradisi-tradisi tersebut menjadi warna tersendiri dalam menyambut Idulfitri di Lombok. Selain memperkuat nilai keagamaan, tradisi ini juga menjaga hubungan kekeluargaan serta kebersamaan antarwarga di tengah masyarakat. (*)



