DPRD Nilai Inovasi Pengelolaan Sampah Pemkot Mataram Setengah Hati
Mataram (NTBSatu) – Polemik sampah di Kota Mataram tak kunjung menemui titik temu. Komisi III DPRD Kota Mataram menyoroti, inovasi pengelolaan sampah Pemerintah Kota (Pemkot) yang dinilai masih setengah hati.
Saat ini, Pemkot Mataram tengah melakukan berbagai upaya penanganan sampah. Salah satunya, mengeluarkan Surat Edaran (SE) terkait pemilahan sampah organik dan non organik, untuk percepatan proses pengolahan di hulu.
Tak hanya itu, Pemkot Mataram juga melakukan upaya penanganan masalah sampah dengan menciptakan inovasi pengelolaan sampah di antaranya:
Program Tempat Pengolahan Daur Ulang Organik (Tampah Doro), yakni sistem pengelolaan sampah berbasis lingkungan dengan pupuk kompos sebagai hasil akhir dari pengolahan sampah organik. Berbagai kelurahan di Kota Mataram telah mencoba menerapkan sistem ini.
Selanjutnya, Mataram Magot Center, pengolahan sampah organik yang mengandalkan hewan seperti lalat Black Soldier Fly (BSF).
Kemudian, penggunaan inisiator sebagai pembakar sampah tanpa gas pada beberapa Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST). Tujuannya, sebagai upaya penanganan masalah sampah di Kota Mataram.
Jangan Bereksperimen Ciptakan Inovasi
Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram, Abd Rachman menilai, deretan inovasi tersebut belum menunjukkan hasil signifikan dalam menekan volume sampah.
Ia mengungkapkan, pihaknya sering mengingatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) agar bersungguh-sungguh. Serta, tidak sekadar bereksperimen dalam menciptakan inovasi.
“Setiap inovasi itu jangan coba-coba,” tegasnya kepada NTBSatu, Jumat, 9 Januari 2026.
Politisi Gerindra ini meminta, keseriusan Pemkot dengan kajian mendalam dan studi komparasi ke daerah-daerah yang telah sukses mengelola sampah. Menurutnya, inovasi yang Pemkot Mataram lakukan setengah hati hanya akan membuang anggaran tanpa hasil nyata.
“Harus dilakukan kajian mendalam dan mempunyai studi komparasi ke daerah yang memang sudah berhasil,” tambahnya.
Saat ini, Komisi III tengah merumuskan formula terbaik untuk menangani masalah ini. Mengingat, beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok yang sudah melampaui daya tampung. Serta, TPST Sandubaya yang kian hari makin memenuhi kapasitas.
Di tengah kusutnya permasalahan sampah ini, kabar realisasi pembangunan TPST di Kebon Talo diharapkan menjadi tumpuan sementara penanganan sampah di Kota Mataram. (Salsa)



