“Tempah Dedoro”, Inovasi Pangkas 50 Persen Volume Sampah di Mataram
Mataram (NTBSatu) – Kota Mataram kini memiliki senjata baru dalam memerangi masalah sampah langsung dari tingkat lingkungan.
Inovasi itu bernama Tempah Dedoro. Sebuah sistem lubang biopori (gumbleng) raksasa yang dimodifikasi sedemikian rupa hingga memiliki fungsi ganda. Tujuannya, sebagai pengolah limbah organik sekaligus tempat bersantai bagi warga.
Tempah Dedoro berbentuk meja semen permanen bundar berwarna hijau mencolok lengkap dengan bangku-bangku kecil di sekelilingnya. Di balik tampilan estetiknya, terdapat lubang sedalam 2 hingga 2,5 meter yang mampu menampung sisa makanan, dedaunan, hingga air cucian beras.
“Modelnya unik. Bisa jadi tempat nongkrong dan yang paling penting tidak ada bau sama sekali,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi, Kamis, 8 Januari 2026.
Tahun ini, setiap kelurahan wajib memiliki satu lingkungan percontohan Tempah Dedoro. Targetnya, pemerintah akan membangun 25 titik baru dengan biaya yang sangat terjangkau, yakni sekitar Rp1 juta per titik.
“Konstruksinya fleksibel. Bagi warga dengan lahan sempit, bisa dibuat rata dengan jalan (flat). Ini adalah langkah konkret menuju kota berkelanjutan,” tambah Denny.
Dengan fakta 60 persen sampah di Mataram adalah organik, harapannya inovasi Tempah Dedoro menjadi kunci utama dalam mengurangi beban di TPA.
Selain di permukiman, DLH Kota Mataram kini juga mewajibkan setiap instansi pemerintah dan sekolah-sekolah untuk menduplikasi sistem ini.
Efektivitas program ini pun sudah teruji di Lingkungan Marong Karang Tatah, Kelurahan Karang Baru. Kepala Lingkungan, Lalu Muhammad Yakub melaporkan penurunan volume sampah yang sangat signifikan.
“Volume sampah yang biasanya mencapai 180 kilogram per hari, kini berkurang drastis menjadi hanya 80 kilogram per hari,” ujarnya kepada NTBSatu.
Ya’kup mengatakan, sampah yang diangkut petugas kini murni hanya sampah anorganik, karena seluruh limbah organik sudah tuntas di lubang Dedoro.
Dari sekitar satu ton sampah organik yang masuk, sistem ini mampu menghasilkan sekitar 150 kilogram pupuk kompos (sekitar 3-4 karung ukuran 50 kilogram). (*)



