Opini

Membumikan Kurikulum Berbasis Cinta dengan Komunikasi Empatik

Oleh: Prof. Dr. Kadri, M.Si – Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Mataram

Pada akhir Juli 2025 Menteri Agama, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA melaunching Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang dihajatkan sebagai spirit atau nilai penyerta implementasi kurikulum yang ada dan sedang berlaku saat ini. KBC yang dilandasi oleh panca cinta (cinta pada Tuhan, cinta pada sesama manusia, cinta pada lingkungan, cinta pada ilmu, dan cinta pada bangsa) tersebut diharapkan mampu berkontribusi untuk mencetak generasi yang cerdas sekaligus toleran sehingga bisa menghadirkan harmoni dalam lingkungan sosialnya. Sebagai spirit dalam proses pendidikan, KBC membutuhkan alat kala diimplementasikan, dan komunikasi empatik adalah salah satu instrument penting untuk mengefektifkan pembumiannya.  

Dalam definisi yang lebih longgar, komunikasi empatik dapat dimaknai sebagai proses komunikasi yang menyertakan pertimbangan menyeluruh terkait eksistensi mitra komunikasi, baik yang terlihat dalam bentuk fisik maupun aspek tersembunyi yang bersifat psikis. Komunikasi empatik dilakukan dengan cara mendengarkan dengan mata, telinga, dan hati untuk memahami, berintuisi, dan merasa tentang komunikan. Komunikasi empatik mengharuskan kita mendengarkan untuk mengerti, mendengarkan isi pembicaraan dan bukan mempersoalkan siapa yang berbicara, serta memberi respon yang tepat dan menyenangkan mitra komunikasi. Ada sisi humanis yang dihadirkan saat berkomunikasi empatik, sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa komunikasi seperti ini relevan dengan spirit KBC, terutama pada aspek cinta pada sesama manusia. Oleh karena itu tidak keliru bila komunikasi empatik dijadikan sebagai instrumen saat KBC diimplementasikan oleh pendidik di semua ruang pendidikan.

Spirit cinta dari KBC yang diinsert dalam kurikulum sejatinya harus disempurnakan dengan semangat cinta dari para pendidik saat mengajarkan materi pelajarannya. Dalam konteks inilah pentingnya pendidik mengimplementasikan komunikasi empatik saat mengajar agar ada chemistry antara materi dengan teknik pengajaran. Persoalan komunikasi tidak melulu terkait dengan isi pesan tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana cara pesan itu disampaikan. Tidak sedikit pendidik yang dengan kepintarannya mampu menyajikan materi pelajaran yang berkualitas tetapi tidak bisa diserap dengan baik oleh muridnya karena disampaikan dengan cara yang tidak menarik, baik secara teknik maupun secara emosional.

Nilai-nilai cinta harus tercermin dalam bentuk komunikasi yang ikhlas, lemah lembut, dan menyentuh perasaan dari seorang pendidik kepada muridnya. Dengan cara seperti ini pelajaran yang mungkin saja sulit akan disenangi dan lebih mudah dipahami karena penerima pesan dalam kondisi senang. Makanya tidak salah jika dalam dalam salah satu prinsip komunikasi disebutkan bahwa “komunikasi tidak hanya terkait dengan isi pesan tetapi juga hubungan yang dibangun selama proses komunikasi berlangsung”. Atau dengan kata lain, komunikasi tidak hanya dihajatkan untuk menyampaikan pesan tetapi juga untuk membangun hubungan emosional yang baik, sehingga semakin bagus hubungan yang terbangun maka akan semakin besar irisan chemistry antara penyampai pesan dan penerima pesan, dan pada saat inilah komunikasi efektif bisa diwujudkan. Komunikasi empatik adalah salah satu bentuk komunikasi yang dihajatkan untuk membangun hubungan baik, memperbesar chemistry, dan mengefektifkan komunikasi.

IKLAN

Untuk memastikan komunikasi berlangsung efektif maka dalam implementasi komunikasi empatik pada dunia pendidikan harus mempertimbangkan aspek situasional, yang direpresentasikan oleh tempat dan waktu berlangsungnya komunikasi. Komunikasi berlangsung dalam konteks ruang dan waktu, demikian salah satu prinsip komunikasi yang telah menjadi pemahaman common sense mahasiswa yang kuliah di prodi ilmu komunikasi.

Materi pesan (pelajaran) yang baik dan teknik penyampaian yang sudah menarik tidak menjamin akan diterima (dipahami) dengan maksimal oleh komunikan jika disampaikan pada situasi yang tidak tepat, misalnya saat anak sedang capek dan waktu istirahat atau di tempat umum yang penuh kebisingan. Menasehati siswa atau mahasiswa yang dinilai melanggar aturan lembaga pendidikan adalah hal yang baik dan dianjurkan, tetapi menjadi tidak etis jika disampaikan di depan umum atau di depan teman-temannya. Inilah contoh kekeliruan memilih situasi komunikasi yang membuat pesan tidak efektif. Pilihan situasi komunikasi yang tidak tepat mengindikasikan ketidakpekaan komunikator (pendidik) dalam memahami kondisi psikis komunikan (peserta didik). Praktik ini kontras dengan komunikasi empatik dan tidak senapas dengan nilai kasih sayang yang diusung KBC.           

Praktik komunikasi empatik yang dilakukan para pendidik diharapkan dapat menginspirasi sekaligus ditiru oleh anak didik mereka dalam interaksi kesehariannya di lembaga pendidikan dan pada lingkungan sosial yang lebih luas. Keterampilan dan kemampuan berkomunikasi empatik anak didik lebih banyak mereka peroleh dari praktek yang diperlihatkan oleh pendidik atau orang tua di rumah. Oleh karena itu, kunci kesuksesan komunikasi empatik sebagian besar ada pada faktor pendidik lewat keteladanan yang ditunjukkannya.

Untuk bisa diteladani anak didik dalam komunikasi empatik dan praktik panca cinta maka setidaknya pendidik harus memiliki tiga kriteria komunikator yang disyaratkan oleh Ariestoteles, seorang filsuf Yunani dan bapak retorika, yakni etos (integritas moral), logos (kapasitas keilmuan dan pesan yang logis), dan pathos (kecerdasan emosional dan humanis dalam mendekati komunikan). Jika pendidik bisa menghadirkan tiga aspek tersebut saat berhadapan dengan anak didiknya maka para pendidik layak diteladani dan proses transfer pelajaran serta hal-hal baik lainnya kepada anak didiknya akan minim resistensi. Pada titik inilah seorang pendidik akan berada pada performa ideal sehingga kekhawatiran beberapa pihak akan adanya krisis keteladanan di lembaga pendidikan tidak akan terjadi.

Hadirnya guru-guru teladan dalam berkomunikasi empatik dan implementasi paca cinta lewat spirit KBC dapat membangun generasi yang harmoni dan penuh kasih sayang di antara sesama. Hal ini penting untuk menghilangkan (setidaknya meminimalisir) praktik kekerasan verbal dan nonverbal yang dilakukan atau yang menimpa pelajar. Data yang dirilis Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) cukup menyedihkan karena pada tahun 2024 terjadi lonjakan kasus kekerasan di lingkungan pendidikan. JPPI mencatat 573 kasus dengan peningkatan lebih dari 100% dibanding tahun 2023, dimana 31% terkait dengan kasus bullying. Bahkan pada tahun 2023 UNICEF mencatat bahwa 1 dari 5 anak mengalami cyberbullying melalui media sosial. KPAI juga menyebut 141 kasus kekerasan anak pada awal 2024, dengan 35% di antaranya terjadi di sekolah.  Kekerasan juga berlangsung dalam lingkungan pendidikan berbasis agama dengan 206 kasus kekerasan dengan rincian 16 persen atau 92 kasus terjadi di madrasah dan 20 persen atau 114 kasus di pesantren. Data di atas menunjukkan bahwa lingkungan pendidikan (termasuk di dalamnya pelajar) belum sepenuhnya steril dari kekerasan sehingga upaya membangun budaya saling cinta sesama manusia masih menjadi pekerjaan rumah (PR) serius. Kekerasan verbal dan nonverbal adalah bentuk komunikasi yang hampa rasa cinta. Maka dalam konteks inilah pentingnya membiasakan komunikasi empatik pada kalangan pelajar bersamaan dengan implementasi nilai-nilai KBC.

IKLAN

Kekerasan terjadi karena hilangnya rasa empati pada orang lain (korban). Komunikasi empatik adalah komunikasi yang mengharuskan setiap pelakunya saling memahami antara satu dengan yang lainnya. Setiap diri harus hadir pada diri orang lain saat komunikasi interpersonal berlangsung. Dalam konteks inilah  komunikasi itu bersifat transaksional (transaksi psikis), dimana seseorang mengambil peran orang lain (taking the role of the others), dalam artian hadir untuk merasakan bagaimana perasaan, pikiran, keinginan, dan selera orang lain. Jika hal ini bisa dilakukan maka tidak akan ada sedikitpun keinginan untuk menyinggung perasaan apalagi menyakiti fisiknya saat berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Betapa harmoninya kehidupan jika setiap orang mampu mengimplementasikan komunikasi empatik dalam kesehariannya. Pelajaran yang disemangati KBC harus bisa melahirkan generasi yang bisa menjaga harmoni sosial dengan tetap cinta sesama manusia dan membangun hablumminnas melalui komunikasi empatik. Semog. (*)

Berita Terkait

Back to top button