OpiniWARGA

Menunggu Mimpi Hilirisasi Menjadi Nyata di Sumbawa

Oleh: Sambirang Ahmadi – Anggota DPRD NTB

Sumbawa adalah jantung ketahanan pangan NTB. Bukan sekadar metafora, tapi nyata terlihat dari kontribusi data produksi tahun 2024. Kabupaten Sumbawa memproduksi jagung sebanyak 921.636 ton, padi 260.271 ton, rumput laut 7.832 ton, udang dan ikan tangkap 13.647 ton, sapi potong 510.014 ekor, dan kopi pegunungan Batulanteh yang mulai mengisi pasar nasional. Tapi selama ini, mimpi membangun sektor pangan dan ekonomi biru masih banyak tertahan di atas kertas. Terlalu banyak rencana, terlalu sedikit yang benar-benar menjadi bukti.

Saya terkesan dengan cerita kawan saya, Buhyar Bung, Sekretaris Desa Gapit, Kecamatan Empang. Dia bilang, di desanya—tepatnya di Dusun Nyerinying, akan ada pembangunan kawasan sentra perikanan dengan nilai proyek cukup pantastis, 21 miliar. Kata dia, proyek pemerintah pusat ini turun di desanya berkat perjuangan anggota DPR RI, Johan Rosihan. Dia bahagia sekali, meskipun proyek itu belum nyata. Saya juga ikut senang. Bukan semata karena Johan Rosihan adalah kolega saya, tapi karena memang kita butuh realisasi, kerja nyata, membuka jalan wujudkan mimpi-mimpi hilirisasi. 

Proyek ini bukan hanya untuk Desa Gapit—kata Bung. Desa Labuhan Burung, Kecamatan Buer, juga dapat jatah. Proyek yang berjudul Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) ini adalah sebuah inisiatif untuk menata kembali desa nelayan dengan sarana lengkap mulai dari tambatan perahu, pabrik es, shelter ikan, hingga sentra kuliner. Tentu kita berharap proyek ini benar-benar terwujud. Bukan hanya rencana. Sebab masyarakat kini menunggu apakah mimpi besar tentang hilirisasi dan kemandirian nelayan benar-benar bisa menjadi nyata.

Kehadiran proyek ini tidak hanya membuktikan bahwa Jakarta bisa mendengar desa, tapi juga bahwa Sumbawa layak menjadi prioritas nasional dalam pengembangan ketahanan pangan dan ekonomi maritim. Tidak hanya Gapit dan Labuhan Burung, daerah pesisir lain di Sumbawa juga layak mendapat sentuhan yang sama. Dengan potensi pesisir yang luas di Teluk Saleh dan Teluk Empang, Sumbawa ideal menjadi pusat produksi dan hilirisasi udang, rumput laut, dan garam rakyat.

IKLAN

RPJMD NTB 2025–2029 memang telah memuat visi besar soal penguatan ketahanan pangan dan hilirisasi industri. Tapi tanpa proyek konkret seperti KNMP Gapit dan Labuhan Burung, semua itu bisa jadi sekadar harapan. Maka, mari belajar dari satu proyek ini—bahwa mimpi bisa jadi nyata jika ada keberanian, komunikasi lintas level, dan kerja politik yang menyatu.

Ke depan, saya berharap pemerintah provinsi juga bisa mengambil peran lebih strategis. Cukup satu saja hilirisasi unggulan di Sumbawa yang benar-benar diwujudkan: entah pabrik pengolahan udang, garam rakyat modern, atau pusat distribusi hasil tani. Bukan wacana, tapi bukti. Karena rakyat tidak makan rencana, tapi hasil.

Peran perguruan tinggi lokal tidak kalah penting. Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) dan Universitas Samawa (Unsa)  harus dimaksimalkan. Keduanya harus terlibat aktif dalam riset terapan, pendampingan petani-nelayan, hingga pelatihan generasi muda berbasis inovasi desa.

Dan kepada teman-teman DPRD: mari kita terus mengawal alokasi anggaran dan regulasi yang berpihak pada ketahanan pangan. Kita harus pastikan bahwa pembangunan tidak hanya terjebak pada simbolisme.

Sumbawa sudah memberikan data dan potensi. Kini saatnya mimpi dijahit jadi bukti. Kita tunggu keperpihakan nyata gubernur NTB. Hadirkan satu proyek hilirisasi di Sumbawa. Tidak usa banyak. Cukup satu yang terbukti. Kalau lebih itu bonus. Johan Rosihan telah memulainya; menggedor otoritas pusat turunkan proyek untuk dukung ketahanan pangan di Sumbawa. Semoga langkah itu terus berlanjut dan menyebar. (*)

IKLAN

Berita Terkait

Back to top button