Oleh: Salman Faris
Pemerintah Kabupaten Lombok Barat saat ini berada pada persimpangan strategis yang menentukan arah pembangunan daerah. Dalam konteks dinamika pariwisata kontemporer di Nusa Tenggara Barat, terdapat satu pertanyaan fundamental yang wajib diajukan dan dijawab melalui kajian kebijakan yang serius. Langkah strategis apa yang harus ditempuh oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Barat agar mampu berjalan seiring dengan perkembangan pariwisata Kabupaten Lombok Tengah yang saat ini sedang menunjukkan performa puncak?
Pertanyaan tersebut bersifat imperatif karena didasarkan pada fakta historis dan realitas pembangunan yang tidak terbantahkan. Sejarah pariwisata modern di Pulau Lombok, secara khusus, dan Provinsi Nusa Tenggara Barat pada umumnya, memiliki akar genealogi yang bermula dari wilayah Kabupaten Lombok Barat. Penelusuran sejarah menunjukkan bahwa Lombok Barat merupakan pusat pembentukan peradaban modern di Pulau Lombok.
Pasca keruntuhan Kerajaan Selaparang dan Kerajaan Pejanggik akibat ekspansi politik dan militer dari Karangasem Bali, terjadi pergeseran demografi dan pusat kekuasaan yang signifikan. Pusat populasi dan pusat kebudayaan Lombok hampir sepenuhnya bergeser ke wilayah Lombok Barat. Konsentrasi peradaban ini menjadi modal sosial dan politik awal bagi terbentuknya hegemoni wilayah barat dalam struktur pemerintahan di masa selanjutnya.
Dalam konteks geopolitik juga termanifestasi dalam sejarah kemaritiman. Ketika peran Labuhan Haji di Lombok Timur mulai mengalami degradasi sebagai pelabuhan utama di kawasan Indonesia Timur, Pelabuhan Ampenan di Lombok Barat mengambil alih fungsi strategis tersebut. Ampenan bertransformasi menjadi pusat lalu lintas perdagangan dan hubungan diplomatik antara Lombok dengan dunia internasional.
Aktivitas perniagaan komoditas rempah, masuknya pedagang multietnis, hingga kedatangan para pelancong awal terjadi melalui pintu gerbang Ampenan. Fakta historis ini menegaskan bahwa Lombok Barat telah lama berfungsi sebagai pusat magnet perkembangan Pulau Lombok. Wilayah ini menjadi titik temu berbagai etnis, budaya, dan kepentingan ekonomi yang kemudian membentuk karakter masyarakat yang heterogen dan terbuka.
Jauh sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Lombok Barat telah mencatatkan diri dalam sejarah pergerakan nasional sebagai daerah yang paling intens dikunjungi oleh tokoh-tokoh besar pergerakan. Para pemimpin bangsa menjadikan wilayah ini sebagai titik transit strategis maupun tujuan utama konsolidasi politik.
Lombok Barat berfungsi sebagai pusat agitasi perjuangan kemerdekaan dan basis konsolidasi politik sebelum semangat nasionalisme tersebut didistribusikan ke daerah-daerah lain di wilayah Nusa Tenggara. Dari perspektif mobilitas manusia, Lombok Barat semakin mengukuhkan posisi sebagai satu-satunya pintu gerbang utama bagi arus masuk manusia dari luar pulau menuju Lombok.
Peran penting penting Lombok Barat dalam pariwisata berlanjut secara signifikan ketika Indonesia memasuki fase pembangunan nasional pasca kemerdekaan. Era pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto memberikan atensi khusus pada pengembangan pariwisata di daerah ini. Hal tersebut tercermin dari kebijakan strategis para Menteri Pariwisata pada masa itu.
Tokoh seperti Joop Ave yang menjabat sebagai Direktur Jenderal Pariwisata (1982-1993) dan kemudian Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi (1993-1998) memegang peran sentral dalam peletakan batu pertama pariwisata Lombok. Demikian pula kebijakan yang diambil ketika Achmad Tahir menjabat sebagai Menteri Pariwisata pada periode 1983 hingga 1988, serta Soesilo Soedarman pada periode 1988 hingga 1993. Kebijakan nasional pada dekade tersebut menempatkan Lombok Barat sebagai prioritas destinasi wisata nasional di luar Bali.
Apabila masyarakat dan sejarawan sepakat bahwa pariwisata modern Lombok dimulai sejak tahun 1983, maka sejak saat itulah Provinsi Nusa Tenggara Barat secara administratif dan faktual tidak memiliki opsi lain selain Lombok Barat. Wilayah ini ditetapkan sebagai pusat pengembangan infrastruktur wisata dan pendulangan devisa negara. Kawasan Senggigi mulai dikembangkan secara masif menjadi ikon pariwisata yang dikenal di pasar internasional.
Pembangunan akomodasi berupa hotel berbintang dengan standar internasional dilakukan secara intensif di sepanjang garis pantai barat. Infrastruktur pendukung pariwisata, mulai dari jalan raya hingga telekomunikasi, dipusatkan di wilayah ini. Lombok Barat merepresentasikan wajah pariwisata Nusa Tenggara Barat selama beberapa dekade. Wisatawan mancanegara maupun domestik mengidentifikasi Lombok dengan Senggigi dan gili-gili yang berada di wilayah administratif Lombok Barat sebagai kesatuan nadi pariwisata NTB.
Berdasarkan rentetan perjalanan sejarah pariwisata modern tersebut, dapat dinyatakan secara tegas bahwa Lombok Barat merupakan Kabupaten Pariwisata yang sesungguhnya di Nusa Tenggara Barat. Predikat ini didukung oleh fakta empiris yang menunjukkan bahwa struktur PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) dan ekonomi makro Lombok Barat sangat bergantung pada sektor jasa dan pariwisata.
Namun, situasi terkini peta pariwisata di Nusa Tenggara Barat menunjukkan perubahan yang drastis. Komparasi antara perkembangan yang terjadi di Lombok Tengah dengan Lombok Barat memperlihatkan ketimpangan yang nyata. Lombok Barat kini berada pada posisi ketertinggalan yang memerlukan evaluasi menyeluruh.
Kabupaten Lombok Tengah mengalami akselerasi pembangunan yang pesat setelah lapangan terbang internasional dialihkan ke Tanak Awu. Kemudian digenjot lagi dengan penetapan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika dan pembangunan Sirkuit Internasional. Atensi pemerintah pusat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta investasi asing tertuju ke wilayah tengah dan selatan pulau. Sementara itu, Lombok Barat tampak mengalami stagnasi dan kesulitan mempertahankan relevansi kompetitifnya.
Disrupsi pusat pengembangan pariwisata di Nusa Tenggara Barat ini telah memicu fenomena psikologis dan sosiologis di kalangan pemangku kebijakan Lombok Barat yang dapat disebut sebagai desire panic atau kepanikan hasrat. Pemerintah dan pelaku industri pariwisata di Lombok Barat terlihat belum siap menghadapi realitas bahwa wilayah tersebut bukan lagi satu-satunya primadona pariwisata.
Daerah yang sebelumnya selalu menjadi destinasi utama bagi para pelancong ini mengalami pergeseran posisi yang fundamental. Lombok Barat berubah peran menjadi penonton atas agenda besar pariwisata yang diselenggarakan oleh daerah tetangga. Wilayah yang secara historis menjadi pemain utama, kini harus menyaksikan Lombok Tengah muncul sebagai dominator baru dalam peta pariwisata lokal-global.
Atas dasari itu, pemerintah Kabupaten Lombok Barat harus merumuskan pemikiran strategis untuk mengatasi situasi stagnasi ini. Guna mengembalikan posisi daerah pada jalur pembangunan yang tepat, diperlukan strategi revitalisasi yang komprehensif. Lombok Barat harus mendefinisikan ulang identitas pariwisata mereka tanpa harus melakukan duplikasi terhadap strategi daerah lain.
Solusi yang relevan dan berbasis pada potensi lokal harus segera diimplementasikan. Terdapat delapan bidang pariwisata spesifik yang perlu mendapatkan atensi serius dan dikembangkan secara metodologis oleh pemerintah Kabupaten Lombok Barat untuk mengembalikan keunggulan komparatif daerah.
Pertama, Pariwisata Kuliner (Gastronomy Tourism). Pariwisata kuliner dalam konteks akademik harus didefinisikan lebih dari sekadar aktivitas konsumsi makanan dan minuman. Bidang ini mencakup eksplorasi gastronomi yang mendalam mengenai sejarah pangan, asal-usul bahan baku lokal, serta nilai filosofis yang terkandung dalam setiap hidangan. Lombok Barat memiliki aset budaya takbenda yang signifikan dalam sektor ini.
Kawasan seperti Karang Taliwang dan Cakranegara, yang secara historis merupakan bagian integral dari wilayah barat sebelum pemekaran Kota Mataram, adalah akar dari kuliner legendaris Ayam Taliwang. Selain itu, Sate Bulayak di Narmada merupakan identitas kuliner otentik yang spesifik dan tidak dimiliki oleh daerah lain.
Pengembangan pariwisata kuliner menuntut adanya standarisasi higiene, sanitasi, kenyamanan lokasi, serta narasi sejarah yang kuat. Wisatawan modern mencari pengalaman kultural melalui rasa. Lombok Barat perlu melakukan pemetaan sentra kuliner tradisional dan melakukan pengemasan ulang menjadi destinasi wisata gastronomi yang memenuhi standar internasional.
Kedua, Pariwisata Agraris (Agrotourism). Pariwisata agraris atau agrowisata merupakan konsep diversifikasi pariwisata yang memadukan aktivitas pertanian dengan fungsi rekreasi dan edukasi. Lombok Barat memiliki topografi dan bentang alam yang sangat mendukung untuk sektor ini, terutama di wilayah Kecamatan Narmada dan Lingsar yang dikenal sebagai kawasan konservasi air dan sentra hortikultura.
Konsep ini melibatkan wisatawan secara aktif dalam proses produksi pertanian. Aktivitas tersebut meliputi penanaman padi, pemanenan buah durian atau manggis langsung di kebun, hingga pembelajaran sistem irigasi tradisional subak atau tata kelola air lokal. Hal ini menawarkan pengalaman autentik mengenai kehidupan pedesaan yang menjadi antitesis dari kehidupan urban.
Pengembangan pariwisata agraris juga berfungsi strategis sebagai instrumen perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Dengan menjadikan lahan pertanian sebagai objek wisata yang bernilai ekonomi tinggi, alih fungsi lahan menjadi kawasan terbangun dapat diminimalisir. Petani memperoleh nilai tambah ekonomi tanpa harus melepaskan kepemilikan lahan produktif mereka.
Ketiga, Pariwisata Ekologis (Ecotourism). Pariwisata ekologis menitikberatkan pada aspek konservasi sumber daya alam dan keberlanjutan lingkungan hidup. Wilayah Sekotong dengan ekosistem mangrove yang luas dan biodiversitas bawah laut yang kaya merupakan aset fundamental untuk pengembangan bidang ini. Demikian pula dengan kawasan Hutan Wisata Sesaot yang menawarkan jasa lingkungan berupa udara bersih dan sumber air.
Fokus utama pariwisata ekologis adalah edukasi lingkungan dan pelestarian alam. Wisatawan diajak untuk memahami urgensi menjaga keseimbangan ekosistem. Program seperti rehabilitasi mangrove, transplantasi terumbu karang, atau pengamatan spesies burung endemik harus menjadi atraksi utama yang dikelola dengan prinsip daya dukung lingkungan.
Pemerintah Kabupaten Lombok Barat harus memastikan bahwa pembangunan infrastruktur fisik di kawasan ekowisata tidak mendegradasi kualitas lingkungan. Prinsip pariwisata berkelanjutan harus menjadi landasan kebijakan. Kelestarian alam Lombok Barat merupakan modal pembangunan jangka panjang yang tidak boleh dikorbankan demi keuntungan ekonomi jangka pendek.
Keempat, Pariwisata Kota (Urban Tourism). Pariwisata kota atau urban tourism adalah strategi pengembangan pariwisata yang memanfaatkan elemen fisik dan sosial perkotaan sebagai daya tarik. Lombok Barat memiliki rekam jejak sejarah tata kota yang panjang, terutama yang terpusat di sekitar Gerung sebagai ibu kota kabupaten, serta konektivitas historis dengan Ampenan dan Cakranegara.
Revitalisasi bangunan bersejarah (heritage) dan penataan ruang terbuka publik yang estetik merupakan kunci keberhasilan pariwisata kota. Wisatawan modern seringkali mencari ruang interaksi sosial, taman kota yang asri, serta arsitektur gedung pemerintahan atau penanda kota (landmark) yang ikonik untuk kebutuhan dokumentasi visual.
Pengembangan pariwisata kota juga mencakup penyediaan fasilitas pedestrian yang inklusif dan sistem transportasi publik yang terintegrasi. Menciptakan atmosfer kota yang ramah pejalan kaki akan menstimulasi pertumbuhan ekonomi mikro di koridor jalan utama dan memberikan citra kota yang humanis bagi Lombok Barat.
Kelima, Pariwisata Event (MICE & Event Tourism). Pariwisata berbasis acara atau event tourism merupakan strategi pemasaran destinasi yang efektif untuk mendatangkan kunjungan wisatawan dalam jumlah masif pada periode tertentu. Lombok Barat secara historis telah memiliki embrio yang kuat dalam penyelenggaraan acara, seperti Festival Senggigi, ritual Perang Topat, serta pagelaran musik Jazz pantai.
Akan tetapi, penyelenggaraan acara tersebut seringkali belum dikelola dengan konsistensi manajerial yang tinggi. Diperlukan penyusunan kalender acara (calendar of events) yang terstruktur dan terencana sepanjang tahun. Ragam acara harus bervariasi mulai dari skala lokal, regional, nasional, hingga internasional untuk menjaga tingkat okupansi akomodasi.
Keberadaan acara yang rutin dan berkualitas akan menciptakan penjenamaan (branding) destinasi yang kuat. Wisatawan akan merencanakan kunjungan menyesuaikan dengan agenda tersebut. Pariwisata acara juga memicu efek berganda (multiplier effect) ekonomi yang cepat bagi sektor perhotelan, transportasi, dan kuliner di sekitar lokasi penyelenggaraan.
Keenam, Pariwisata Terintegrasi (Integrated Tourism). Pariwisata terintegrasi adalah konsep manajemen destinasi yang menyatukan berbagai atraksi, aksesibilitas, dan amenitas dalam satu sistem pelayanan yang kohesif. Lombok Barat memiliki keunggulan komparatif geografis di mana jarak antara destinasi pantai (Senggigi/Sekotong), pegunungan (Sesaot), dan pusat budaya (Lingsar) relatif dekat dan mudah dijangkau. Selain itu, Lombok Barat wajib menemukan strategi bagaimana menghubungkan tiga pintu utama, 1) Pelabuhan Lembar, 2) Bandara Internasional, dan 3) Pelabuhan Kayangan. Pengintegrasian tiga pintu utama, seharusnya Lombok Barat menjadi aktor utama.
Konsep ini menuntut adanya konektivitas infrastruktur dan informasi yang mulus. Wisatawan harus mendapatkan kemudahan mobilitas untuk berpindah dari satu tipologi wisata ke tipologi lainnya tanpa hambatan transportasi. Paket wisata terpadu (bundling) yang menggabungkan pengalaman gunung, pantai, dan kuliner harus dikanalisasi secara efektif.
Integrasi juga bermakna kolaborasi lintas sektoral (pentahelix). Pemerintah daerah, sektor swasta, akademisi, media, dan masyarakat harus bergerak dalam satu orkestrasi pembangunan. Ego sektoral yang menghambat kualitas pelayanan kepada wisatawan harus dihilangkan. Lombok Barat harus dicitrakan sebagai satu kesatuan ekosistem destinasi yang utuh.
Ketujuh, Pariwisata Budaya (Cultural Tourism). Pariwisata budaya merupakan jiwa dan identitas utama dari pariwisata Lombok Barat. Warisan budaya benda dan takbenda di wilayah ini sangat kaya dan distingtif. Pura Lingsar adalah representasi empiris dari sinkretisme budaya komunikasi plural antarumat beragama yang telah berlangsung selama berabad-abad. Tradisi Perang Topat adalah manifestasi budaya agraris-religius yang unik.
Selain itu, keberadaan situs Kemalik dan artefak sejarah lainnya menegaskan posisi Lombok Barat sebagai pusat peradaban masa lalu di Lombok. Pariwisata budaya tidak boleh direduksi hanya pada seni pertunjukan semata. Bidang ini harus masuk pada pemahaman nilai, sistem sosial, dan filosofi hidup masyarakat Sasak dan Bali yang hidup berdampingan secara harmonis di wilayah ini.
Narasi mengenai multikulturalisme dan pluralisme Lombok Barat merupakan nilai jual yang sangat tinggi di pasar pariwisata global yang mencari kedalaman makna. Revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal ini akan menarik segmen wisatawan minat khusus yang menghargai aspek edukasi dan sejarah.
Pemerintah Kabupaten Lombok Barat tidak boleh terus menerus terjebak dalam sindrom desire panic. Ketertinggalan statistik dari Lombok Tengah bukanlah akhir dari eksistensi pariwisata daerah. Situasi ini justru harus dimaknai sebagai momentum untuk melakukan evaluasi kebijakan secara total dan reposisi strategis.
Lombok Barat memiliki karakter destinasi yang berbeda secara diametral dengan Lombok Tengah. Apabila Lombok Tengah mengandalkan kecepatan dan pariwisata olahraga (sport tourism) melalui sirkuit, Lombok Barat dapat menawarkan ketenangan, kedalaman sejarah, dan kekayaan budaya. Diferensiasi produk adalah kunci keberhasilan dalam kompetisi pariwisata regional.
Kedepalan, Pariwisata Kompetisi (Competition Tourism). Pemerintah Kabupaten Lombok Barat perlu mengadopsi paradigma Pariwisata Kompetisi sebagai respons strategis terhadap dinamika global yang berbasis pengetahuan dan digitalisasi. Konsep ini mendefinisikan ekosistem pariwisata yang menjadikan kontestasi kognitif, inovasi, dan kreativitas dalam sektor industri kreatif serta teknologi sebagai daya tarik utama yang membedakannya dari pariwisata olahraga yang mengandalkan fisik semata.
Strategi ini berfungsi sebagai diferensiasi vital terhadap Lombok Tengah. Jika wilayah tetangga berfokus pada kompetisi adu kecepatan fisik di Mandalika, Lombok Barat memposisikan diri sebagai antitesis dengan menjadi pusat adu kecerdasan yang menarik talenta terbaik melalui ajang seperti hackathon, kejuaraan robotika, hingga festival seni kontemporer, sejalan dengan revitalisasi sejarahnya sebagai pusat peradaban.
Implementasi Pariwisata Kompetisi akan memicu dampak berganda yang signifikan, mulai dari mendatangkan demografi wisatawan terpelajar dengan daya beli tinggi hingga memaksa percepatan transformasi infrastruktur digital demi mewujudkan citra smart destination. Pemerintah daerah dituntut untuk memfasilitasi hal ini melalui penyediaan fasilitas pendukung seperti co-working space dan insentif acara yang terintegrasi dengan pariwisata kota serta kuliner.
Dengan demikian, strategi ini bukan sekadar pelengkap, melainkan langkah progresif untuk mengubah Lombok Barat dari destinasi liburan pasif menjadi destinasi produktif berbasis ekonomi pengetahuan (knowledge-based economy) dan mengentaskannya dari ketertinggalan pariwisata.
Kesadaran kolektif tentang sejarah panjang sebagai pionir pariwisata harus dibangkitkan kembali di kalangan birokrasi dan masyarakat. Bukan untuk terjebak dalam romantisme masa lalu, melainkan untuk mengambil spirit bahwa Lombok Barat memiliki kapasitas dan pengalaman untuk kembali menjadi pemimpin pariwisata berkualitas di Nusa Tenggara Barat.
Delapan bidang pariwisata yang diuraikan di atas merupakan peta jalan strategis yang dapat ditempuh oleh pemerintah Kabupaten Lombok Barat. Implementasi kebijakan yang serius, konsisten, dan kolaboratif adalah prasyarat mutlak bagi keberhasilan revitalisasi ini. Tanpa langkah konkret, Lombok Barat berisiko hanya menjadi museum sejarah pariwisata yang statis, sementara daerah lain terus bergerak dinamis menuju masa depan pariwisata global.
Karena itu, Lombok Barat mesti berani untuk segera mendaklarasikan diri kembali menjadi Kabupaten Pariwisata.
Malaysia, 4-5 Januari 2026. (*)



