OpiniWARGA

Terseret Emosi di Linimasa: Liburan Panjang, Media Sosial, dan Kelelahan Digital

Oleh: Rizalul Fiqry – Mahasiswa S3 Pendidikan UAD dan Dosen STKIP Taman Siswa Bima

Apa yang anda lakukan saat liburan panjang Natal dan Tahun Baru beberapa waktu yang lalu? Karena merasa memiliki waktu kosong yang panjang, aku memanfaatkannya dengan hal-hal yang terasa remeh tapi menyita perhatian. Skrol grup WA, menjelajahi Facebook, dan TikTok. Saking luangnya waktu, nyaris semua grup WA ku buka dan ku baca satu per satu pesan di dalamnya.

Ada grup yang sangat aktif, penuh diskusi dan obrolan. Ada pula grup yang hanya dijadikan TPA sampah digital. Karena yang membagikan sesuatu pun tampaknya tidak sempat membacanya terlebih dahulu sebelum di-share.

Di Facebook, ceritanya tak kalah menarik. Ada kisah Abang LV dan berita kehilangan KF yang sempat viral. Nalarku, entah mengapa, meronta-ronta ingin tahu lebih dalam tentang kondisi yang ramai diperbincangkan ini. Jempol ku melompat-lompat gesit dari satu dinding ke dinding Facebook yang lain.

IKLAN

Mulailah duga-menduga, sepertinya telah terbentuk secara alami kelompok pro dan kontra dari persoalan yang dibahas. Tak kalah mencolok, beragam cacian bertebaran. Dari nama hewan, alat vital, hingga kata “tufek” yang kerap muncul sebagai atribut komentar. Saling hujat, saling caci. Anehnya, justru di situ letak candunya. Mata terasa terus ingin membaca, menggali informasi lebih jauh, mengikuti arus komentar yang tak ada habisnya.

Sampai akhirnya, tanpa sadar, aku menyadari sesuatu yang tidak nyaman, diriku terseret perasaan. Aku bukan lagi sekadar pembaca pasif, tetapi masuk dalam “irama” emosional yang dibangun oleh linimasa. Ada rasa marah, ada rasa muak. Emosi itu nyata, meski sumbernya hanya dari layar.

Belakangan, aku melihat pola yang menarik. Hampir setiap akun yang viral selalu disertai komentar lanjutan semacam “jangan lupa….” oleh si pemilik postingan. Aku mulai bertanya-tanya, apakah akun-akun dengan ciri seperti ini sedang mengejar gaji di Facebook? Apakah keviralan memang sengaja dijaga agar tetap hangat, agar lalu lintas kunjungan tetap ramai? Dan pertanyaan yang lebih mengganggu, bagaimana sebenarnya dampak digitalisasi, khususnya kecanduan media sosial, terhadap kualitas hidup kita?

Rasa penasaran itu membawaku mencari artikel ilmiah. Aku membuka link.springer.com dan mengetik kata kunci tentang kelelahan digital. Di sanalah aku menemukan artikel berjudul “Emoji or real emotions? The effect of digitalization on the quality of life through social media addiction – a multigroup SEM analysis, moderated by positive and negative affect,” yang ditulis oleh Daniela-Elena Lițan dari Department of Psychology, West University of Timișoara, Romania, dan diterbitkan di BMC Psychology (2025). Artikel ini mengangkat persoalan dampak intensitas penggunaan media sosial terhadap kualitas hidup dan kesejahteraan psikologis.

Menurut Daniela-Elena Lițan, penelitian ini menjadi urgen karena media sosial, termasuk aplikasi pesan instan dan interaksi grup, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas sosial, akademik, dan profesional. Namun, kata dia, kondisi ini kerap menimbulkan kelelahan mental yang tidak disadari.

Berangkat dari kerangka teori social media addiction, social media fatigue, dan affective well-being, penelitiannya itu dibangun dengan asumsi bahwa keterlibatan emosional yang berlebihan dalam komunikasi digital dapat memicu kelelahan psikologis yang pada akhirnya menurunkan kualitas hidup.

Artikel ini secara eksplisit menegaskan bahwa “excessive engagement with social networking platforms can gradually exhaust usersemotional and cognitive resources. Keterlibatan yang berlebihan dengan platform jejaring sosial dapat secara bertahap menguras sumber daya emosional dan kognitif penggunanya.”

Dari sisi metodologi, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan survei terstruktur terhadap pengguna aktif media sosial dari latar belakang sosial dan demografis yang beragam. Analisis statistik dilakukan untuk menguji hubungan antara kecanduan media sosial, kelelahan media sosial, afek emosional, dan kualitas hidup.

Temuan paling mencolok menunjukkan bahwa social media fatigue berperan sebagai mediator kunci yang menjelaskan bagaimana penggunaan media sosial yang intens berdampak negatif pada kesejahteraan individu. Daniela-Elena Lițan menyimpulkan bahwa kelelahan digital tidak bersifat sementara, melainkan berkontribusi signifikan terhadap penurunan kualitas hidup secara keseluruhan. Artikel ini menegaskan bahwa “social media fatigue significantly predicts lower levels of life satisfaction and emotional well-being. Kelelahan media sosial secara signifikan memprediksi tingkat kepuasan hidup dan kesejahteraan emosional yang lebih rendah.”

Membaca artikel itu, aku seperti bercermin. Gejala emosional yang dijelaskan di sana persis dengan apa yang kurasakan setelah terlalu lama menyelam dalam narasi-narasi media sosial. Dari situlah aku memutuskan untuk meng-uninstall aplikasi Facebook di HP-ku. Tujuannya sederhana, membatasi interaksi yang berlebihan. Sesekali, mungkin aku akan membuka Facebook lewat laptop. Tapi setidaknya, kini aku tahu, tidak semua yang viral layak untuk terus diikuti. Apalagi jika harga yang harus dibayar adalah ketenangan batin sendiri. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button