OpiniWARGA

Januari 2026: Kegelapan Venezuela dan Dunia Makin Cepat

Oleh: Salman Faris

Peristiwa di Venezuela pada 3 Januari 2026 ini harus dipahami melalui lensa sejarah panjang intervensi Amerika Serikat di Amerika Latin dan wilayah lain di dunia ketiga. Chomsky telah mendokumentasikan dengan rinci bagaimana Amerika Serikat secara sistematis menghancurkan pemerintahan yang berupaya meningkatkan kesejahteraan rakyat sendiri jika upaya tersebut mengancam keuntungan perusahaan transnasional. Kasus Venezuela tidak berbeda dengan kasus Guatemala pada tahun 1954, Chile pada tahun 1973 atau Nikaragua pada tahun 1980-an. Pola yang berulang ini menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat didorong oleh institusi domestik yang melayani kepentingan modal dan bukan oleh prinsip demokrasi atau kemanusiaan.

Alasan keamanan nasional yang selalu didengungkan oleh Washington hanyalah mitos yang diciptakan untuk menakut-nakuti publik domestik agar mendukung petualangan militer di luar negeri. Chomsky menjelaskan bahwa istilah keamanan nasional telah kehilangan makna aslinya dan kini hanya menjadi kode untuk melindungi kepentingan investasi global Amerika Serikat dari gangguan nasionalisme lokal. Dalam konteks Venezuela penguasaan atas cadangan minyak terbesar di dunia adalah motif yang jauh lebih masuk akal daripada ancaman fiktif yang digembar-gemborkan oleh media massa Barat yang patuh.

Peran media massa dan intelektual dalam membenarkan agresi ini juga tidak boleh diabaikan. Chomsky menyoroti bagaimana kelas intelektual yang terdidik seringkali berfungsi sebagai komisaris budaya yang bertugas merumuskan pembenaran moral atas tindakan kejam negara. Mereka menciptakan narasi bahwa Amerika Serikat bertindak demi kebaikan dunia dan demokrasi padahal fakta di lapangan menunjukkan penghancuran sistematis terhadap demokrasi yang sesungguhnya. Dalam kasus Venezuela narasi tentang diktator jahat yang harus digulingkan disebarkan secara luas untuk menutupi fakta bahwa tindakan tersebut adalah pelanggaran hukum internasional yang terang-terangan.

IKLAN

Analisis Chomsky mengenai tatanan dunia baru memberikan kerangka kerja yang sangat relevan untuk memahami peristiwa Januari 2026 ini. Tatanan dunia baru yang diproklamasikan oleh Amerika Serikat pasca Perang Dingin pada dasarnya hanyalah adaptasi dari kebijakan dominasi tradisional terhadap situasi yang berubah. Perubahan taktik mungkin terjadi namun tujuan strategis untuk mengamankan sumber daya dan pasar bagi kepentingan korporasi Barat tetap tidak berubah. Venezuela menjadi korban terbaru dari ambisi imperial ini dan respon dunia yang terpecah menunjukkan betapa efektif strategi memecah belah dan menaklukkan yang dijalankan oleh kekuatan hegemonik.

Penting untuk dicatat bahwa dalam pandangan Chomsky musuh utama Amerika Serikat di dunia ketiga bukanlah komunisme atau terorisme Islam melainkan nasionalisme independen. Segala bentuk pemerintahan yang memprioritaskan kebutuhan rakyatnya sendiri di atas kepentingan investor asing akan dianggap sebagai ancaman yang harus dinetralisir. Venezuela di bawah kepemimpinan Maduro yang meneruskan kebijakan pendahulunya yang berorientasi sosial masuk dalam kategori ini. Oleh sebab itu serangan Januari 2026 harus dilihat bukan sebagai insiden terisolasi melainkan sebagai bagian dari pola sejarah yang konsisten dalam upaya Amerika Serikat untuk memaksakan kepatuhan global.

Peristiwa penyerangan Amerika Serikat terhadap Venezuela pada Januari 2026 serta penangkapan Presiden Maduro merupakan manifestasi nyata dari doktrin kekuasaan yang telah lama mengakar dalam kebijakan luar negeri Washington. Tindakan agresi ini seringkali dibungkus dengan retorika perlindungan hak asasi manusia atau pemulihan demokrasi padahal realitasnya adalah penerapan kekuatan militer untuk mengamankan kepentingan ekonomi dan hegemoni politik. Noam Chomsky dalam analisis mengenai tatanan dunia lama dan baru telah lama memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan sepihak oleh negara adidaya seringkali tidak memiliki dasar hukum internasional yang sah dan lebih menyerupai tindakan kriminal berskala global yang dijalankan oleh negara.

Serangan tersebut bukanlah upaya penegakan hukum internasional sebagaimana diklaim oleh Gedung Putih. Sebaliknya hal ini adalah bentuk terorisme negara yang berlindung di balik topeng keamanan nasional. Konsep keamanan nasional dalam doktrin Amerika Serikat seringkali dimaknai secara luas untuk mencakup perlindungan terhadap akses korporasi multinasional terhadap sumber daya alam di negara lain. Venezuela memiliki cadangan minyak yang sangat besar dan sejarah panjang upaya Washington untuk mengontrol kawasan Amerika Latin menunjukkan bahwa kemandirian nasionalisme radikal di wilayah tersebut dianggap sebagai ancaman yang harus dimusnahkan. Chomsky menegaskan bahwa bagi perancang kebijakan di Washington, ancaman yang sesungguhnya bukanlah militer melainkan kemungkinan keberhasilan pembangunan mandiri yang lepas dari kendali mereka.

Negara yang berdaulat dan memiliki posisi berseberangan dengan Amerika Serikat secara tepat mengutuk tindakan ini sebagai aksi terorisme. Pandangan ini sejalan dengan argumen bahwa invasi militer tanpa persetujuan Dewan Keamanan PBB dan penculikan kepala negara asing merupakan pelanggaran berat terhadap kedaulatan. Namuan, Washington secara konsisten menolak untuk tunduk pada norma hukum internasional ketika aturan tersebut menghalangi pencapaian tujuan strategis mereka. Penangkapan Presiden Maduro mengingatkan masyarakat dunia pada invasi Panama yang juga dilakukan dengan dalih serupa untuk menyingkirkan pemimpin yang tidak lagi disukai oleh sang hegemon setelah sebelumnya didukung ketika masih menguntungkan.

Sebaliknya, respon negara boneka Amerika Serikat memperlihatkan wajah hipokrisi yang nyata dalam hubungan internasional. Kelompok negara ini hanya diam atau bahkan memberikan persetujuan implisit atas tindakan kriminal tersebut demi menjaga hubungan baik dengan sang tuan. Ketundukan ini menunjukkan bahwa banyak pemerintahan di dunia lebih mengutamakan keselamatan jangka pendek di bawah payung kekuasaan Amerika Serikat daripada menegakkan prinsip keadilan universal. Pemerintah negara boneka menerima begitu saja definisi stabilitas yang dipaksakan oleh kekuatan imperialis yang seringkali berarti kepatuhan total terhadap dikte ekonomi dan politik dari Washington. Bagi Chomsky, tatanan dunia seperti ini dirancang untuk memastikan bahwa kekayaan dan kekuasaan tetap terkonsentrasi pada segelintir elit global sementara mayoritas penduduk dunia dipaksa untuk patuh atau menghadapi konsekuensi kekerasan.

Sikap diam negara-negara Asia dalam merespon krisis Venezuela ini sangat mengkhawatirkan dan menjadi bukti betapa dalam cengkeraman hegemoni Barat di belahan timur dunia. Negara-negara Asia yang membanggakan pertumbuhan ekonomi dan kedaulatan mereka ternyata tidak mampu bersikap tegas di hadapan terorisme negara yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Ketidakmampuan untuk mengecam agresi ini menandakan bahwa negara-negara Asia tersebut telah terintegrasi ke dalam sistem global yang dirancang untuk melayani kepentingan negara-negara kaya di Utara. Keadaan ini mencerminkan apa yang disebut Chomsky sebagai fungsi dunia ketiga, yaitu melayani kebutuhan negara industri maju dengan menyediakan sumber daya dan tenaga kerja murah serta pasar investasi.

Kegelapan Januari 2026 di Venezuela seharusnya menjadi alarm peringatan yang keras bagi seluruh negara di kawasan Asia. Tindakan sewenang-wenang terhadap Venezuela membuktikan bahwa kedaulatan negara mana pun dapat dilanggar kapan saja jika dianggap mengganggu kepentingan strategis Amerika Serikat. Diamnya Asia saat ini bukan hanya bentuk ketundukan moral, tetapi juga kesalahan strategis yang fatal karena membiarkan preseden berbahaya ini terus berlanjut tanpa perlawanan. Sejarah telah menunjukkan bahwa negara yang mencoba menempuh jalan mandiri atau nasionalisme radikal akan dilabeli sebagai virus yang harus dimusnahkan agar tidak menyebarkan pengaruh kemandirian kepada negara lain.

Ketiadaan reaksi keras dari komunitas internasional mempercepat kegelapan yang menyelimuti tatanan dunia. Logika yang berlaku adalah aturan hukum hanya mengikat yang lemah sedangkan yang kuat bebas menggunakan kekerasan sesuai kehendak mereka. Serangan Januari 2026 ini menegaskan bahwa dunia tidak sedang bergerak menuju tatanan yang lebih adil dan damai sebagaimana dijanjikan pasca Perang Dingin. Sebaliknya, dunia sedang bergerak cepat menuju era ketika hukum rimba diterapkan secara global oleh satu kekuatan dominan yang tidak mentolerir pembangkangan.

Ketundukan negara-negara Asia dan sekutu Amerika Serikat lainnya dapat dijelaskan melalui konsep tatanan dunia yang dikuasai oleh negara-negara kaya yang puas. Winston Churchill pernah menyatakan bahwa pemerintahan dunia harus dipercayakan kepada bangsa-bangsa yang puas, yang tidak menginginkan apa-apa lagi selain apa yang sudah mereka miliki. Namun Chomsky menambahkan catatan kaki penting bahwa orang-orang kaya ini tidak pernah benar-benar puas dan selalu mencari cara untuk menambah kekayaan mereka dengan mendominasi pihak lain. Negara-negara Asia yang diam saja atau mengangguk setuju pada dasarnya sedang memainkan peran sebagai pelayan dalam tatanan feodal global ini dengan harapan mendapatkan remah-remah keuntungan atau setidaknya terhindar dari hukuman sang majikan.

Negara-negara Asia yang memilih untuk tunduk pada tekanan Amerika Serikat dalam isu Venezuela ini sedang menggali lubang kubur bagi kedaulatan mereka sendiri. Dengan membiarkan preseden agresi militer tanpa mandat internasional yang sah, mereka secara implisit mengakui hak Amerika Serikat untuk bertindak sebagai hakim jaksa dan algojo sekaligus dalam panggung dunia. Sikap ini sangat berbahaya mengingat potensi konflik di kawasan Asia sendiri yang sewaktu-waktu dapat dijadikan alasan bagi intervensi serupa oleh Amerika Serikat demi menjaga kepentingan strategis di Pasifik.

Bercermin dari peristiwa tragis di Venezuela adalah bahwa dunia sedang berada dalam bahaya besar akibat dominasi satu kekuatan super power yang tidak terkendali. Hukum internasional dan piagam PBB yang seharusnya menjadi pelindung bagi negara-negara kecil telah diabaikan dan diinjak-injak demi kepentingan kekuasaan. Kegelapan yang turun di Venezuela pada Januari 2026 adalah pertanda buruk bagi masa depan peradaban manusia yang menghargai kemerdekaan dan keadilan. Hanya dengan menolak tunduk pada terorisme negara dan membangun solidaritas global yang sejati dunia dapat berharap untuk keluar dari bayang-bayang hegemoni yang menindas ini.

Dengan demikian analisis yang didasarkan pada pemikiran Noam Chomsky ini menegaskan bahwa peristiwa Januari 2026 di Venezuela adalah puncak dari serangkaian kebijakan imperialis yang telah dirancang dan dijalankan selama berdekade-dekade. Dunia harus bangun dari tidur panjang yang disengaja untuk menyadari bahwa ancaman terbesar bagi perdamaian dunia saat ini bukanlah negara-negara kecil yang sedang berjuang membangun negara mereka. Melainkan bencana dunia itu datang karena nafsu kekuasaan tak terbatas dari negara adidaya yang merasa berhak mengatur dunia sesuai dengan kepentingan sendiri.

Malaysia, 4 Januari 2026. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button