Rentetan Bencana Melanda NTB dalam Sepekan, Kebakaran Hebat Gili Trawangan dan Banjir Bima
Mataram (NTBSatu) – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami dua bencana besar yang terjadi di ujung wilayah yang berbeda, sejak Kamis hingga Jumat, 12-13 Maret 2026.
Dalam waktu 48 jam terakhir, peristiwa mengejutkan terjadi. Mulai dari kebakaran hebat yang menghanguskan kawasan Gili Trawangan, Lombok Utara hingga banjir luapan di Kabupaten Bima
Fenomena ini menunjukkan kerentanan wilayah NTB, terkait ancaman kebakaran di zona padat wisata hingga bencana hidrometeorologi di wilayah timur.
Kebakaran di Gili Trawangan
Kawasan wisata Gili Trawangan tiba-tiba mengalami kebakaran hebat di area pusat wisata, pada Kamis pagi, 12 Maret 2026 sekitar pukul 06.30 Wita. Api dengan cepat merambat ke lokasi lain karena bangunan menggunakan material mudah terbakar, seperti kayu dan ilalang.
Dua ikon hiburan terkenal di Gili Trawangan mengalami dampak paling parah. Yaitu, Sama Sama Bar seluas 8 are dan Ocean 2 (mencakup bar, dapur, dan restoran) seluas 5 are yang rata dengan tanah.
Kemudian, api juga merambat ke bagian atap Diva Bar, Gili Mart, Hello Capitano, hingga Restoran Diversia. Karena keterbatasan armada di wilayah kepulauan, proses pemadaman berlangsung alot dan memakan waktu kurang lebih tiga jam.
Petugas pos pemadam di Gili Trawangan hanya mengandalkan unit roda tiga. Namun karena bantuan warga, petugas akhirnya berhasil melokalisasi api agar tidak menjalar ke kawasan lain.
Meski tidak ada korban jiwa, kerugian materiil ditaksir mencapai miliaran rupiah, mengingat lokasinya berada di zona ekonomi paling produktif di Lombok Utara.
Banjir di Kabupaten Bima
Beralih ke sisi lain provinsi, hujan lebat yang mengguyur tanpa henti memicu banjir di Kabupaten Bima sejak 12 hingga 13 Maret 2026.
Tingginya intensitas hujan membuat debit air dari pegunungan turun dengan deras. Sementara itu, sistem drainase yang ada tidak mampu menampung debit air kiriman.
Akibatnya, tiga kecamatan yaitu Palibelo, Wera, dan Lambu, terendam air dengan ketinggian mencapai 60 sentimeter. Bencana yang melanda Kabupaten Bima berdampak pada 863 unit rumah, dan 2.700 jiwa.
Di Kecamatan Wera, akses jalan lintas Wera-Bima sempat lumpuh dan mengganggu mobilitas penduduk. Sebab, tertutup material lumpur tebal sepanjang 85 meter. Dampak juga terasa pada sektor pertanian di Desa Simpasai, lahan bawang sekian hektar tergenang air, dan terancam gagal panen.
Kebakaran Pemukiman di Parado Bima
Di sisi lain penanganan banjir, Kabupaten Bima juga terjadi kebakaran gedung dan pemukiman, pada Jumat sore, 13 Maret 2026.
Kebakaran terjadi di RT.05/RW.03 Desa Lere, Kecamatan Parado, sekitar pukul 16.05 Wita. Api dugaannya berasal dari korsleting listrik kediaman seorang petani bernama Nasution (50).
Kobaran api membakar satu unit rumah panggung dengan 12 tiang, beserta seluruh isinya. Kerugian ditaksir mencapai Rp100 juta.
Pemilik rumah saat ini terpaksa mengungsi ke rumah kerabat. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Bima bersama TNI dan aparatur desa, telah melakukan sudah melakukan kaji cepat dan menyalurkan bantuan.
Status Siaga dan Potensi Bencana Lanjutan
Berdasarkan laporan yang NTBSatu terima dari instansi terkait, kedua lokasi bencana berangsur kondusif. Di Gili Trawangan, pemasangan garis polisi sudah dilakukan untuk kepentingan oleh TKP dan menyelidiki penyebab pasti munculnya api.
Sedangkan di Kabupaten Bima, warga mulai melakukan pembersihan mandiri dari sisa-sisa lumpur dan masih membutuhkan bantuan tanggap darurat dan logistik.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi susulan, serta tetap menjaga kesiapsiagaan sistem proteksi kebakaran. (Inda)



