Ekonomi Bisnis

Pertumbuhan Ekonomi NTB Triwulan II Melesat di Tengah Kontraksi: Industri Tumbuh 66 Persen, Pertanian Jadi Pilar

Mataram (NTBSatu) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat, laju pertumbuhan ekonomi daerah ini secara yearonyear (yoy) mengalami kontraksi minus 0,82 persen pada triwulan II 2025.

Namun demikian, data menjadi lebih optimis ketika sektor pertambangan bijih logam dikeluarkan dari perhitungan.

Dalam skenario ini, pertumbuhan ekonomi NTB justru menunjukkan angka positif yakni mencapai 6,08 persen.

Meski sektor pertambangan masih berperan besar, kontribusinya terhadap pertumbuhan mulai melemah. Sebaliknya, sektor industri pengolahan, pertanian, konstruksi, dan transportasi mulai menonjol sebagai motor-motor baru pertumbuhan ekonomi.

Pertanian Masih Andalan, Industri Pengolahan Melesat

Berdasarkan distribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut lapangan usaha, sektor pertanian masih menjadi kontributor terbesar terhadap perekonomian NTB yakni sebesar 23,31 persen. Sektor pertambangan 15,72 persen, dan perdagangan 14,75 persen.

IKLAN

Namun secara pertumbuhan, industri pengolahan mencatat kinerja paling mencolok dengan kenaikan sebesar 66,19 persen.

Pertumbuhan luar biasa ini ditopang oleh aktivitas Smelter milik PT Amman Mineral, yang mulai menghasilkan produk industri seperti asam sulfat dan tembaga/katoda.

Meskipun kapasitas produksi Smelter ini baru mencapai sekitar 30 persen, dari kapasitas penuh 900 ribu ton per tahun. Kontribusinya sudah terasa signifikan terhadap industri pengolahan di NTB.

“Karena hasil tambang yang dikeluarkan PT Amman langsung diolah oleh Smelter. Nah, hasil tambang tersebut tercatat sebagai output industri,” jelas Kepala BPS Provinsi NTB, Wahyudin dalam rilis Berita Statistik, Selasa, 5 Agustus 2025.

Tambang Terpuruk, Pertanian Stabil, Sektor Pemerintahan Melemah

Sebaliknya, sektor pertambangan mengalami kontraksi paling tajam yakni minus 29,93 persen. Sekaligus menjadi faktor utama yang menyeret angka pertumbuhan ekonomi NTB ke zona negatif secara agregat.

IKLAN

1 2Laman berikutnya

Berita Terkait

Back to top button