Mataram (NTB Satu) – Potensi produksi porang di NTB cukup besar. Selama ini produksi tersebut umumnya dijual gelondongan keluar daerah. Padahal, porang bisa dijadikan sebagai bahan baku aneka produk panganan.
Berangkat dari persoalan itulah, Puguh Dwi Friawan, Ketua Koperasi Berkah Gumi Lombok melakukan inovasi, menjadikan porang sebagai beras.
Meski baru dimulai hilirisasi porang sebagai beras ini, namun permintaan beras porang terbilang cukup bagus dan menjanjikan. Karena itu, produksi beras porang ini rencananya akan konsisten dilakukan.
Ketua Petani Pegiat Porang Nusantara (P3N) ini mengemukakan, dalam setahun di Kabupaten Lombok Utara saja dapat menghasilkan produksi porang minimal 36.000 ton basah per musim. Dengan jumlah petani sebanyak 800 petani, dan luas lahan porang mencapai 2.000 hektar.
Hasil produksi ini selalu dijual ke luar daerah. harganya saat ini antara Rp3.700/Kg, hingga Rp4.000/Kg. harga ini berlaku di tingkat pembeli di Jawa.
“Dengan potensi kita yang cukup besar ini, saya berpikir bagaimana kita bisa menghasilkan produk olahan dari hasil produksi kita sendiri. Makanya, kami berinisiatif membuat beras porang,” jelas Dwi.
Beras porang yang dihasilkan sangat mirip dengan beras padi. Bulir – bulirnya juga persis seperti bulir beras padi. Dwi mengatakan, produksi porang menjadi beras ini masih dilakukan di Jawa Tengah. Menumpang alat dari produsennya. Bahan baku yang dikirim ke Jawa Tengah dalam bentuk chip porang (kripik porang).
“Kita bisa memproduksi sendiri beras porang di NTB kalau mau benar-benar hilirisasinya disini. Tapi kita butuh support untuk pengadaan mesin. Harga mesinnya sekitar Rp50an juta,” jelas Dwi.
Tidak saja menjadi beras, tepung porang juga sudah dijadikan sebagai bahan baku pembuatan dodol. Di saat harga karagenan tinggi. Dengan menggunakan tepung porang, terbukti harga dodol porang bisa ditekan untuk menjaga eksistensi produksi pelaku UMKMnya.
Beras porang memiliki kandungan yang jauh lebih baik dari beras. Mengandung karbohidrat lebih rendah dibanding beras. Kadar gulanyanya juga jauh lebih rendah. Sehingga sangat sehat dikonsumsi dalam jumlah banyak sekalipun.
“Harganya Rp50.000 perkilo. Memang masih lebih tinggi dibanding harga beras yang masih jadi promadona masyarakat mengkonsumsinya karena harganya jauh lebih rendah. Tapi kalau bicara soal risiko kesehatan, beras porang jauh lebih unggul,” ujarnya.
Dwi menambahkan, produksi porang akan terus dikembangkan. Saat ini, petani Porang di Lombok tetap mendapatkan dukungan dari Astra. Harapannya, pemerintah daerah juga melirik potensi yang cukup besar ini dan melakukan pembinaan hingga hulu hilir.(ABG)